Kau tak akan mengerti

Kau tak akan mengerti lukaku. Meski kau sendiri pernah dilukai orang lain. Kau tak akan mengerti bagaimana pedihnya aku menahan perih sepanjang jalan itu, oleh sebab kalimatmu yang menjadi belati pada hatiku. Kau tak akan mengerti, meskipun sudah bertahun kau menahan kepedihan karena kepergian orang lain.

Sepanjang jalan itu aku menahan nyeri yang menjalari hati. Menahan bendungan pada mata agar tidak jebol. Kau tidak akan mengerti bagaimana sulitnya tetap tersenyum dan tertawa bersamamu dengan hati yang sesak. Kau tak akan mengerti betapa perihnya berpura-pura seolah baik-baik saja.

Sekarang lebaran. Aku tentu saja memaafkan. Namun anehnya luka tetap tak tersembuhkan.

Iklan

Senja yang muram

Mungkin ini jawaban dari mimpi semalam. Mimpi yang mengisyaratkan akan mengalami kejadian yang memalukan atau menyedihkan. Ternyata, kenyataan memang selalu lebih pahit. Ini bukan hanya memalukan, tetapi sekaligus menyedihkan dan menyesakkan. Ah, sungguh saya ingin menangis. Ini sesak. Namun tentu saja kisahnya bagaimana tidak akan saya umbar di sini. Biar hanya kepada Tuhan saya mencurahkan isi hati.

Bagaimana jika temanmu tetiba marah tanpa alasan?

Apa yang akan kau lakukan seandainya temanmu tiba-tiba marah tanpa kau tahu alasannya?

Tiba-tiba saja kau mendapati kenyataan bahwa teman karibmu marah padamu, dia tak mau bicara kepadamu, bahkan terkesan menjauh. Padahal selama ini baik-baik saja dan kau juga merasa tak ada masalah yang terjadi.  Namun sikapnya berubah entah sebab apa. Kau kebingungan mendapati perubahan sikapnya itu. Lebih dari tiga hari dia masih seperti itu.  Sudah kau coba tanyakan langsung kepadanya tapi pesan whatsup-mu hanya berakhir dengan status read, tanpa jawab. Kau merasa benar-benar sedih hingga air matamu menyungai di pipi, kau merasa bingung dan pusing hingga tak bisa tidur dan tidak nafsu makan,  kau merasa hari-harimu menjadi sangat berat dan tak menyenangkan,  kau merasa duniamu berubah menjadi sempit, kau merasa ada sesuatu yang mencekik tenggorokanmu, kau merasa kehilangan sesuatu, kau merasa takut seakan terjebak sendirian di tengah hutan,  semuanya karena dia tak lagi mau bicara kepadamu.

Kau sudah coba meminta maaf kepadanya sebab barangkali ada hal yang tak kau sadari telah kau lakukan dan membuatnya marah. Namun permintaan maafmu pun tak diresponnya.  Kau semakin bingung dan merasa kacau.  Kau tetap dan terus meminta maaf kepadanya untuk kesalahan yang tak kau ketahui. Dia masih tak mengacuhkan permohonan maafmu.

Kira-kira apa yang akan kau lakukan selanjutnya?

Surat terbuka untuk manajemen Toserba Yogya

Ini  bukan keluhan,  hanya  sekadar  ingin  bercerita,  mungkin sharing pengalaman.

Terlalu  lambat  juga  untuk  ditulis  di  sini  karena  kejadiannya  terjadi  pada  bulan  Desember 2017.

waktu itu  tanggal  28 Desember  2017 dan  saya sedang dalam persiapan  keberangkatan menuju  Lombok untuk  pendakian Gunung  Rinjani. Setelah  sepanjang pagi  sampai  sekitar  pukul 10.00 WIB  bersepeda ria  di  Taman  Cibeunying,  Bandung,  saya  kembali  mengecek  peralatan  pendakian  sekalian  packing  ulang.  Ternyata  eh ternyata  jas  hujan  saya  sobek.  Karena tidak layak untuk  pendakian, saya pun  memutuskan  untuk membeli  yang  baru.

Saya  mendatangi  beberapa toko jas  hujan  di  Bandung  sesuai  petunjuk  google  map.  Namun tak  juga  saya  menemukan jas hujan berwarna hijau.  Saya  memang sengaja  mencari  yang  hijau oleh  sebab warna kesukaan saya hijau dan  semua  peralatan pendakian saya  berwarna sudah  serba hijau. Rasanya  sudah  mencari  kemana  mana  bahkan ke pasar  baru,  tetapi yang  dicari  tak  kunjung temu,  apalagi  beberapa  tempat  yang  ditunjuk google  map ternyata sudah tidak  ada alias pindah  tempat.

Karena siang sudah menjemput  sore dan  sore itu saya  harus  segera ke  bandara,  saya  pun cepat  memikirkan  alternatif  tempat  untuk  mencari  jas  hujan.  Pilihan  jatuh  ke  Toserba  Yogya  yang  berada  di  Jalan  Sunda. Tempat ini  dipilih  selain  karena  posisi  saya  saat  itu sudah  berada di  dekat Jalan  Sunda juga  karena saya  butuh  membeli beberapa  camilan untuk  bekal  pendakian.

Saya berbelanja  dengan  super  cepat karena buru-buru. Camilan  diambil  tanpa berpikir.  Saat menemukan  jas  hujan, yang  ada  adalah  merk  axioo,  takashi,  dan  beberapa  merk  lain  yang  saya tak ingat.  Kebetulan  semua  jas  hujan  sedang diskon  30%.  Namun  sekali  lagi, tidak  ada yang hijau.  Tapi apa  boleh  buat,  itu  sudah  jam  3 sore lebih,  jadi saya  pun akhirnya  memutuskan membeli  salah satunya daripada  ke  gunung  ga  bawa  jas  hujan (sama  aja  bunuh  diri),  dan  lagi pula  sedang  diskon.

Saya  memilih jas hujan  merk takashi  berwarna  abu-abu dengan  harga setelah diskon sekitar Rp 225000. Tanpa menunggu lama,  saya langsung  ke kasir.  Ternyata jas hujan yang  saya  beli  tidak  ada kertas barcode-nya sehingga kasir  perlu melihat harga  yang  tertera di label  barang  pada rak.  Saya mencoba membantunya dengan mengatakan harga yang tertera pada rak (harga sebelum diskon) sesuai yang saya lihat pada saat memilih tadi, tetapi kasir tetap pergi ke rak (mungkin dia takut saya berbohong atau memang etika kerjanya harus seperti itu).

Setelah beberapa lama,  kasir perempuan itu pun kembali. Dia memasukkan harga dan  menghitung keseluruhan belanjaan saya.  Setelah membayar, saya pun  beranjak pulang.

Dalam perjalanan pulang,  saya melihat struk belanjaan saya tadi.  Ternyata eh ternyata kasir itu salah memasukkan merk dan  harga jas hujan.  Yang saya beli adalah  jas  hujan Takashi,  tetapi di dalam struk kasir itu memasukkan jas hujan merk Axioo yang tentu saja harganya lebih mahal daripada yang ada di kresek belanjaan saya. Tentu saja saya jadi membeli jas hujan takashi dengan harga Axioo. Aih, saya merasa kesal akan kesalahan kasir tersebut tapi apa daya saya sedang terburu-buru sehingga saya memutuskan untuk memendam kekesalan dan mengikhlaskan saja.

Melalui surat ini saya hanya ingin mengingatkan kepada kasir Yogya dept. Store khususnya dan kasir-kasir lain di manapun pada umumnya,  agar lebih  teliti lagi  dalam bekerja supaya kesalahan seperti yang saya alami tidak perlu terjadi.  Selain itu,  kepada manajemen Yogya dept store khususnya yang di  Jalan Sunda, Bandung, agar mengingatkan kasir-kasirnya agar tidak melakukan kesalahan yang membuat pelanggan tidak nyaman.

Aku akan membunuhmu!

Kau benar.

Hal yang paling ingin kulakukan adalah membunuhmu.

“Dasar psiko gila!”

“Kau yang psiko gila”

Ya. Seseorang sepertimu harus segera kulenyapkan.

Sudah kupikirkan berbagai intrik. Berbagai metode kupelajari dalam drama-drama, pun, dalam komik: Detektif Conan.

Sudah kuputuskan.

Stttt. Jangan bilang sama orang.

Biar kubisikkan di kupingmu yang kurindukan.

Aku akan membunuhmu,

besok,

dalam sajak-sajak.

Dan kau,

akan segera mati di ujung jemariku.

Oh ya, kau masih ingat bukan? aku pernah bilang akan menulis novel tentangmu.

Ya. Di sana, aku akan menguburkanmu.

Hari-hari kita akan menjelma kumpulan cerpen.

Di sana, aku akan mengenangmu seumpama pahlawan yang gugur.

Tentu. Jangan cemas. Akan kuingat jasa-jasamu.

Tapi,

aku akan tetap membunuhmu,

besok,

dalam sajak-sajak.

 

Pantai Mawun

Bagaimana harus kupuisikan pantai ini?

Memuja keindahannya dan memperumpamakannya denganmu? Ah, aku pasti bercanda dan kau akan tertawa karenanya

Ingin sekali kumetaforakan birunya langit, hamparan pasir yang memucat, atau toska laut dengan renyahnya tawamu,

Ingin sekali kukatakan bahwa denyar ombak yang hilir mudik itu adalah aku yang sedang mencoba menemukan jejak kaki yang kau tanggalkan waktu itu di antara bulir-bulir pepasir,

Namun sepertinya aku tlah kehabisan kosakata.

Kau tahu? Pantai ini adalah seuntai puisi yang secara pribadi ditulis langsung oleh Tuhan dengan diksi yang tak pernah ada dalam kamus manapun.

Bukankah Tuhan begitu puitis?

Sedangkan kau? Adalah larik-larik dalam bait puisiku yang seharusnya kuhapus

Dan aku, hanyalah seorang pemuja yang miskin kata.

Di antara bulir pasir mana kau menyembunyi?

Aku cemas padamu

Sudah terlampau jauh aku menyusur

Pantai-pantai dengan pasir yang menghitam, yang memutih, yang menguning, yang kasar seperti telapak tanganmu, yang lembut seperti tatapanmu, tak ada yang berbekas jejakmu

Di manakah kau bersembunyi?

Kau tahu, ombak-ombak yang berlarian di laut adalah aku yang mengejarmu

Berlari ke pantai mencari jejak yang dahulu pernah kita tapakkan bersama

Bukankah bulir-bulir kekuningan itu pernah begitu dalam menyimpan jejakmu?

Aku cemas padamu

Aku terus berlarian menghampiri setiap bulir pasir di setiap pantai

Menghampiri setiap kaki yang menjejak

Menghampiri setiap payung yang diletakkan di tepi

Barangkali saja, payung itu yang pernah meneduhi kita di hadapan laut waktu itu

Aku bertanya, kepada bocah-bocah telanjang yang berenang

Adakah mereka tahu di mana seseorang yang sedang bermain petak umpet bersembunyi?

Aku bertanya kepada turis-turis yang berjemur tanpa busana

Adakah mereka tahu seseorang yang menyimpan jejak kakinya di pasir? Adakah mereka melihat seseorang yang mudah sekali marah mengutuk-ngutuk di pantai ini?

Dan gelengan kepala mereka memaksaku menggulung diri kembali ke laut.

Aku cemas padamu

Di antara bulir pasir mana kau menyembunyi?

Aku harus menjadi ombak di laut mana agar bisa bertemu denganmu?

Sungguh, aku cemas padamu.