In memoriam

Aku duduk di kursi yang sama yang pernah kita duduki waktu-waktu itu. Pohon tua di sudut sana tetap berdiri dengan kokohnya. Tempat ini sudah tiga kali berpindah mengikuti aturan pemerintah. Namun kursi, meja, penjual, menu, dan rasanya tepat sama. Kegemaran kita. Sekarang tempatnya persis di bawah tangga. Tangga yang pernah dengan terburu kita turuni kencang-kencang karena dikejar orang gila. Ya. Duduk di sini pada senja yang muram ini membuatku tertawa sendiri mengingat momen saat kita pontang-panting berlari tak karuan karena orang gila yang juga berprofesi sebagai pengemis dan pengamen yang suka maksa kalo ga dikasih itu mengejar kita dengan pantang menyerah. Aku membayangkan kita waktu itu persis seperti adegan pada film-film Hollywood atau film action Jackie Chan dimana tokoh utama dikejar-kejar gangster atau penjahat di tengah kerumunan orang yang tidak ada seorang pun yang menolong. Aku selalu berpikir masa iya sih ga ada yang nolongin padahal banyak orang. Ternyata yang kayak gitu beneran. Kita pun ga ada yang nolongin bahkan ga bisa sembunyi di antara kerumunan orang karena semua orang sibuk dengan kebahagiaannya masing-masing, hingga akhirnya kita memutuskan untuk bersembunyi di sebuah mall agar orang gila itu tak bisa lagi mengejar.

Senja ini cukup ramai di sini. Seorang perempuan bercadar dengan pakaian serba hitam tengah berfoto-foto dengan seorang lelaki berjenggot lebat yang pastilah suaminya. Dua anak kecil tengah sumringah menunggui sosis bakar selesai dibakar. Seorang mamah muda berjaket pink berdiri di ujung tangga menggendong anaknya. Di ujung kanan tangga itu, sepasang kekasih tengah berpacaran dengan sederhana, dengan sebungkus ‘cimol’ yang mereka makan sebungkus berdua. Beberapa orang tengah makan pada bangku-bangku di sepanjang taman ini. Ada yang berubah di sini. Tak ada pengamen, tak ada pengemis seperti biasanya. Tak ada orang gila.

Entah ke mana orang gila itu menghilang. Mungkin mati. Mungkin dibuang satpol pp.

Sama seperti kamu yang juga menghilang.

Iklan

Retoris

Barangkali, kalimatku memang selalu retoris bagimu. Tak ada bedanya entah itu deklaratif, interogatif, ataupun imperatif. Bagimu semua sama, hanya retoris. Entah aku sedemikian rupa menyusun kata agar tak bernada sumbang, entah sepuisi apa kalimat-kalimat itu kuracik, bagimu tetap sama: retoris.

Aku mengerti bahwa setiap jiwa memiliki diksi sendiri-sendiri. Dan retoris nyata sebagai diksimu.

Aku mengerti.

Aku tak perlu merasa terluka hanya karena menginginkan metafora atau asosiasi.

Selain mendoakanmu, apa lagi yang bisa kulakukan?

Entah kepedihan seperti apa yang kualami. Seperti ada daun alang-alang yang tumbuh di dada dan menggesek-gesek di sana. Semakin hari, semakin mengingatmu, rasanya semakin bagaikan disayat-sayat.

Tidak ada yang pergi, sebab kau bahkan belum datang. Aku melongok dari balik gorden seperti menunggu hujan turun padahal hari tengah begitu cerah. Aku merasa patah bahkan sebelum tumbuh.

Tidak ada orang yang pernah merencanakan akan jatuh cinta kepada siapa. Pun aku. Jangan membenciku sebab aku jauh lebih tersiksa dan tersakiti. Aku mengalami hari-hari dimana aku ingin menghabiskan detik dengan berlari dan berteriak, menangis sejadi-jadinya hingga air mata kering, atau kembali ke masa lalu dan tidak pernah mengenalmu.

Kau tidak akan pernah mengerti pedih seperti apa yang kualami. Tak ada yang mampu kulakukan pula sebagai wujud rasa. Aku hanya akan menyayangimu melalui doa-doa yang kubumbungkan ke langit. Bagiku, seperti itu saja sudah merupakan cinta.

Yah, benar. Begitu saja. Selain mendoakanmu, memangnya apa lagi yang bisa kulakukan?

Ini hujan bulan Junimu

Di pemakaman, sore kemarin, aku tercenung dengan mulut yang tak henti merapalkan ayat-ayat doa untuk kepergian ibumu. Sementara air mata dengan derasnya menjadi sungai di pipimu, pun di pipiku. Tanah merah. Orang-orang yang berkerumun. Semuanya saksi kedukaanmu. Hujan yang mengguyur sore itu seolah ikut berduka untuk dukamu.

Aku mengerti kesedihanmu. Bukan, bukan hanya sekadar mengerti. Aku merasakan kepedihannya. Ditinggalkan orang yang dicintai yang selama ini senantiasa membersamai tentu adalah hal yang maha berat.

Aku tercenung memandangi gundukan tanah merah itu. Air mata menderas mengingat suatu hari akan tiba giliranku ditidurkan di bawah dinginnya gundukan itu untuk selamanya. Aku berteriak dalam diam. Menjerit tanpa jeritan. Aku takut, sebab dosa yang tak terhingga kupikul.

Ini penghujung Juni, dan hujan. Tanpa pernah kita sangka Juni ini menjadi Juni yang mengirim duka kepadamu. Namun percayalah kamu tidak sendirian. Dukamu telah menjadi dukaku. Tak sanggup aku membayangkan betapa menakutkannya bumi ini saat orang tua tak akan ada lagi, pergi meninggalkan selamanya. Itu tentu jauh lebih menakutkan daripada tersesat sendirian dalam hutan. Kau tahu, dukamu telah menjadi pengingat bagiku untuk menjadi lebih baik bagi ayah dan ibuku.

Kau masih harus bahagia. Masih ada banyak orang yang menyayangimu. Sementara, kupikir, seandainya itu terjadi kepadaku, aku tidak memiliki sesiapapun lagi yang akan mencintaiku. (Semoga Alloh swt memberikan keberkahan panjang usia dan kesehatan untuk ayah dan ibuku).

Ini hujan bulan Junimu. La tahzan, innalloha ma’ana.

Kau tak akan mengerti

Kau tak akan mengerti lukaku. Meski kau sendiri pernah dilukai orang lain. Kau tak akan mengerti bagaimana pedihnya aku menahan perih sepanjang jalan itu, oleh sebab kalimatmu yang menjadi belati pada hatiku. Kau tak akan mengerti, meskipun sudah bertahun kau menahan kepedihan karena kepergian orang lain.

Sepanjang jalan itu aku menahan nyeri yang menjalari hati. Menahan bendungan pada mata agar tidak jebol. Kau tidak akan mengerti bagaimana sulitnya tetap tersenyum dan tertawa bersamamu dengan hati yang sesak. Kau tak akan mengerti betapa perihnya berpura-pura seolah baik-baik saja.

Sekarang lebaran. Aku tentu saja memaafkan. Namun anehnya luka tetap tak tersembuhkan.

Senja yang muram

Mungkin ini jawaban dari mimpi semalam. Mimpi yang mengisyaratkan akan mengalami kejadian yang memalukan atau menyedihkan. Ternyata, kenyataan memang selalu lebih pahit. Ini bukan hanya memalukan, tetapi sekaligus menyedihkan dan menyesakkan. Ah, sungguh saya ingin menangis. Ini sesak. Namun tentu saja kisahnya bagaimana tidak akan saya umbar di sini. Biar hanya kepada Tuhan saya mencurahkan isi hati.

Bagaimana jika temanmu tetiba marah tanpa alasan?

Apa yang akan kau lakukan seandainya temanmu tiba-tiba marah tanpa kau tahu alasannya?

Tiba-tiba saja kau mendapati kenyataan bahwa teman karibmu marah padamu, dia tak mau bicara kepadamu, bahkan terkesan menjauh. Padahal selama ini baik-baik saja dan kau juga merasa tak ada masalah yang terjadi.  Namun sikapnya berubah entah sebab apa. Kau kebingungan mendapati perubahan sikapnya itu. Lebih dari tiga hari dia masih seperti itu.  Sudah kau coba tanyakan langsung kepadanya tapi pesan whatsup-mu hanya berakhir dengan status read, tanpa jawab. Kau merasa benar-benar sedih hingga air matamu menyungai di pipi, kau merasa bingung dan pusing hingga tak bisa tidur dan tidak nafsu makan,  kau merasa hari-harimu menjadi sangat berat dan tak menyenangkan,  kau merasa duniamu berubah menjadi sempit, kau merasa ada sesuatu yang mencekik tenggorokanmu, kau merasa kehilangan sesuatu, kau merasa takut seakan terjebak sendirian di tengah hutan,  semuanya karena dia tak lagi mau bicara kepadamu.

Kau sudah coba meminta maaf kepadanya sebab barangkali ada hal yang tak kau sadari telah kau lakukan dan membuatnya marah. Namun permintaan maafmu pun tak diresponnya.  Kau semakin bingung dan merasa kacau.  Kau tetap dan terus meminta maaf kepadanya untuk kesalahan yang tak kau ketahui. Dia masih tak mengacuhkan permohonan maafmu.

Kira-kira apa yang akan kau lakukan selanjutnya?