Seperti awan di langit, kau adalah angan terjauhku

Kau lihat awan-awan itu berarak? Aku senang sekali memandanginya sembari merebahkan tubuh di atas rerumput, atau sekedar telentang di atas air saat berenang. Rasanya membahagiakan. Rasanya mendamaikan.

Namun sayang sekali, selain menjadi kombinasi yang indah dengan birunya langit, ada satu fakta yang membuatku terhenyak: awan itu sangatlah jauh. Jauh sekali bahkan saat aku sudah sampai di puncak gunung tinggi sekalipun, berharap bisa menggapai awan, awan itu ternyata masih saja jauh.

Barangkali benar, bahwa yang indah kadang tercipta hanya untuk dipandangi dari kejauhan. Seperti awan-awan yang mengharmoni langit itu.

Barangkali benar, aku seharusnya menyerah saja menggapai awan. Tak apa dikatai pengecut. Tak apa disebut pecundang. Sudah. Sudahi saja. Tak usah lagi berlelah-lelah pergi mendaki gunung dengan harapan bisa dekat dengan awan. Nyatanya awan itu tetap saja jauh dan tak akan bisa kusentuh. Bahkan saat kucoba taktik lain, naik pesawat, yang katanya bisa sampai kepada awan, nyatanya, awan itu tetap saja jauh dari tanganku. Jauh, sangat jauh.

Ya, mungkin ini sudah waktunya untuk berhenti bermimpi di siang bolong. Sudah waktunya mengangkat bendera putih kepada awan-awan itu.

Iklan

Mengapa dadaku berdebar hebat hari ini?

Ini perasaan yang sama, sama seperti waktu dulu sebelum naik panggung untuk lomba pidato, hati berdebar dan perut mulas tak karuan. Meski akhirnya tetap jadi juara.

Semenjak kemarin debar ini tak juga sirna. Semalam pun sulit tidur karena ada sesuatu yang entah apa membuat sesak. Apalagi hari ini, debar ini semakin hebat. Mungkin karena hari ini akan bermain pada final bola voli, bidang yang sebenarnya semenjak sekolah tak pernah kugeluti, bidang yang cukup asing bagiku dan aku baru belajar.

Semasa sekolah dulu aku bukan penggemar pelajaran olahraga meskipun sebenarnya aku adalah murid kesayangan guru olahraga killer yang juga adalah wali kelas saat itu. Mengapa jadi murid kesayangan padahal tidak jago olahraga? Itu karena aku membuatnya bangga dalam bidang akademik. Malah katanya aku dimasukkan di kelasnya dengan permintaan khusus darinya bersama dengan beberapa teman yang merupakan timnas voli sekolah, sehingga beliau bisa menciptakan kelas yang juara dalam bidang olahraga juga juara dalam bidang akademik.

Meskipun tidak jago olahraga dan lebih sering menonton di pinggir lapang saat pelajaran olahraga, nilai pelajaran olahragaku tidak pernah buruk. Bapak guru olahraga killer wali kelasku itu selalu memberikan nilai bagus untukku. Barangkali karena aku adalah murid kesayangan. 😂 Tapi sebenarnya bukan karena itu aku bersantai di pinggir lapang sementara yang lain bermain voli, bukan karena aku merasa punya jaminan pasti diberi nilai bagus, bukan pula karena aku tidak berminat untuk belajar bermain voli (sebab sebenarnya aku adalah orang yang sangat suka belajar), tapi lebih karena lapangnya selalu dikuasai oleh teman-temanku yang atlet timnas voli itu sehingga tidak memberikan ruang dan waktu bagiku untuk belajar.

Olahraga yang sewaktu sekolah aku cukup percaya diri melakukannya adalah lari. Aku bisa berlari dengan cukup cepat makanya semasa SMA pernah jadi juara lari marathon. Aku juga sangat menyukai olahraga beladiri makanya pernah mengikuti karate, wushu, dan juga taekwondo semasa SMA dan kuliah, meski ya, tidak mahir ketiganya.

Ketika menjadi guru, aku baru menyadari bahwa seharusnya dulu aku mempelajari segala hal sehingga banyak hal yang bisa kulakukan. Penyesalan memang selalu datang di akhir. Menyesal sekali dulu tidak pernah belajar bermain voli padahal seharusnya aku memanfaatkan dengan baik kesempatan sebagai murid kesayangan guru olahraga. Andai saja dulu belajar, barangkali hari ini, menjelang final pertandingan voli PGRI ini, debarnya tidak akan sehebat ini.

Sekarang yang harus kuatasi adalah menguasai hati sendiri. Menentramkan debar ini. Kata guru ngajiku dulu, ingatlah selalu kepada Alloh, sebab hanya dengan mengingat Alloh hati menjadi tentram. Semoga aku bisa.

Cerita pendek tentang hari ini

Hari ini Jumat, 12 Oktober 2018, empat hari menuju masa sulit menghadapi kenyataan menjadi semakin tua, aku malah mendapati kenyataan yang lumayan aneh, aneh tetapi nyata.

Dari kejauhan, aku melihatnya berjalan. Kulihat dia juga melihatku. Tiba-tiba aku merasa belingsatan, bingung, karena aku sedang menuju ke arahnya, bingung aku harus bagaimana kalau berpapasan nanti, canggung, takut dengan keheningan yang mungkin harus dilalui, takut dia malah pura-pura tidak melihatku, loh??

Ini sungguh terasa aneh. Sejak kapan aku merasa bingung harus bagaimana hanya karena akan berpapasan dengan seseorang? Terlebih dia bukan musuh, mantan, atau seseorang yang aku punya masalah dengannya. Rasanya seperti akan tiba-tiba ditakdirkan berpapasan dengan seseorang yang pada hari sebelumnya aku bertengkar hebat dengannya. Rasanya seperti akan tiba-tiba berpapasan dengan seseorang yang selama ini aku tidak akur dengannya. Sungguh untuk sekian detik itu aku merasa bingung harus bagaimana. Sempat terbersit pikiran untuk melarikan diri. Haruskah aku balik kanan saja? Pura-pura ada yang tertinggal? Tapi itu akan terlihat mencolok kalau aku tetiba balik kanan. Ah, aku berharap ada pertolongan datang, aku berharap seseorang yang lain tiba-tiba muncul di jalanan ini. Aku berharap bisa menghilang atau menemukan alasan untuk menghindari momen ini. Tapi ah, ini tak bisa dihindari, detik-detik itu pun tiba, tak ada pertolongan, tak ada orang lain yang lewat, bahkan tak ada lubang yang bisa aku masuki tiba-tiba untuk menghilang. Sesaat aku tak bisa berpikir harus bagaimana aku menyapa, kata-kata apa yang harus kulontarkan, tenggorokanku tercekat. Sumpah kakiku terasa berubah jadi gundukan daging tanpa tulang, kakiku terasa rontok. Hingga akhirnya pada detik itu, detik dimana aku bahkan tidak sanggup melihat wajahnya, apalagi kalau harus melihat ke arah matanya, detik dimana aku bingung harus melihat ke arah mana, detik dimana kakiku terasa begitu lemas, kulihat sekilas sepertinya dia akan melewatkanku begitu saja, seolah dia tidak melihatku, atau akan tak acuh lewat begitu saja, lidahku yang mendadak terasa kelu pun akhirnya mampu menyapanya dengan satu kalimat sekadar untuk memecah kecanggungan, pertanyaan yang sebenarnya aku sudah tahu jawabannya, yang entah terdengar ataukah tidak, rasanya begitu pelan hingga kukira gaungnya hanya terdengar oleh telingaku sendiri. Tapi kemudian kudengar dia menjawab pelan dengan satu kata yang membuatku menarik nafas lega pada detik berikutnya.

Ah akhirnya kecanggungan dan keheningan itu usai sudah. Aku melanjutkan perjalanan dengan kaki lemas. Loh kenapa sih mesti kayak gini? Mesti ngerasa tulang kaki tetiba rontok seperti dulu saat SMA berpapasan dengan ketua OSIS yang favorit cewek satu sekolahan dan disenyumi olehnya, lunglai, seperti mau pingsan.

Dan ketika tiba di ujung jalan, kujitak kepalaku sendiri. Bodoh, kenapa juga mesti lemas dan kebingungan seperti itu? Sejak kapan aku menjadi sepengecut ini?

Tell me how to reach your heart

Do you know? I am happy just because your smile.

Because of you I can make a definition that happy is not need a thousand of spotlight, not need some of luxury, or must be crowded.

For me, you are the luxury. Don’t bring a diamond, or a gold chunks, just your arrival was a luxury for me.

I always imagine you in every empty seat i sit beside. I always imagine you when i opened or closed my eyes. For me, you are the real poetry.

Tell me, how to reach your heart?

Malam ini aku membaca tentangmu

Malam ini aku membaca tentangmu, mengintip kembali tawa lebarmu pada potret-potret itu.

Ah, kau sepertinya semakin hebat. Selalu saja mengagumkan seperti dulu. Kalimat-kalimatmu. Semangatmu.

Ah, potret dan tulisanmu ada di surat kabar sekarang. Aku senang membacanya. Aku bahkan hafal larik demi larik puisimu. Waktu kau mengatakan kekecewaan, aku berpikir, mungkinkah itu tentangku? Waktu kau berbicara tentang mimpi yang tak sempurna, tidakkah itu tentangku? Lantas, saat kau berbicara rindu, bukankah itu aku? Ah, masih saja aku berpikir seperti itu. Padahal sisi hatiku yang lain menjawab, tentu saja bukan. Aku tahu benar, kau bukanlah seseorang yang akan terjebak pada ilusi masa lalu, meski hanya dalam puisi.

Oh, aku melihat potret keluargamu. Kau, seseorang berjilbab, dan dua anak perempuan. Aku minta ampun kepada tuhan oleh sebab merasa iri kepada dia yang ditakdirkan duduk bersamamu di ruang itu. Ah. Beberapa jika melintas dalam benakku. Jika saja dulu aku cukup pandai mencintaimu, barangkali, akulah yang duduk di sampingmu dalam potret itu. Dan dua bocah itu, adalah kisah kasih kita. Atau barangkali, kau yang berada di sini, membersamaiku menghalau segala sunyi. Jika saja, ya jika saja aku cukup pintar untuk mengerti bahasamu dulu, barangkali, pada rumah yang kau sebut surga itu adalah aku yang membukakan pintu. Pada puisi yang larik-lariknya kau tebar di surat kabar itu, adalah namaku yang kau patri.

Aih, maafkan aku yang masih saja bergulat dengan jika dan barangkali.

Kau tahu, aku kerap berpikir bahwa hidupku akan hebat jika bersamamu. Kau tahu, jika saja mesin waktu itu ada, dan aku bisa kembali ke masa lalu, tentu ingin sekali kembali ke masa itu, dan memperbaiki kisah kita. Menyunting yang salah. Menuliskan yang tak sempat tertulis.

Namun tentu saja. Garis Tuhan selalu baik, bukan? Dan aku harus percaya itu. Barangkali, kau terlalu baik sehingga titikmu tak menjadi garis yang ditarik tegak lurus pada titikku. Tuhan tidak pernah salah menulis skenario.

Aku tersenyum, tentu saja, untuk bahagiamu.

(Sedikit getir menyadari betapa aku baru tahu bahwa kata jika ternyata adalah kata yang memendam makna sangat menyedihkan.)

Pak dokter yang baik

Kalau kamu tinggal di daerah Ciamis dan pernah berolahraga di Lapang Lokasana pada hari Sabtu atau Minggu, delapan puluh lima persen kemungkinan kamu pernah bertemu Pak dokter ini. Namanya Dokter Dadang, seorang dokter bedah yang tempat praktiknya tidak jauh dari Lapang Lokasana. Setiap hari Sabtu, beliau jogging di lapang ini.

****

Seperti halnya Pak dokter, setiap hari Sabtu dan Minggu, saya pun berolahraga di lapang ini bersama seorang teman, Ana Yuliana namanya. Kami biasa berlari santai dan bermain lempar pisau pada arena lempis di sana. Seperti hari ini misalnya, setelah berlari satu putaran dan berjalan cepat tiga putaran, kami berlomba lari ke sebuah warung di kiri lapang. Di warung itu ada sekitar delapan orang TNI yang sedang mempersiapkan peringatan Hari ABRI juga makan di sana.

***

Kami memang biasa makan di sana setiap selesai berolahraga. Begitu pula Pak dokter. Beliau juga selalu makan di sana setelah jogging. Awalnya kami tidak tahu menahu dan tidak pernah memperhatikan perihal Pak dokter ini. Hingga suatu Sabtu beberapa minggu atau bulan yang lalu, kami baru ngeh soal Pak dokter ini. Waktu kami mau bayar makanan kami, si empunya warung menjawab, “Sudah dibayar sama Pak Dokter”. Loh, dokter siapa tanyaku. “Itu pak dokter bedah yang praktik di dekat sini”, kata si ibu warung. “Oh, kalau begitu tolong sampaikan terima kasih saya kepada beliau”, tukasku.

***

Selanjutnya, setiap Sabtu dan Minggu kami berolahraga di sana, selalu dan selalu makan kami dibayari pak dokter yang belum pernah kami temui itu. Bahkan bukan hanya kami, tetapi semua yang makan di warung itu, siapapun, makannya dibayari pak dokter. Subhanalloh, pak dokter yang baik hati. Waktu itu saya mendoakan, jika pak dokter seorang muslim semoga beliau masuk surga, dan jika beliau bukan muslim, semoga Alloh memberinya hidayah.

***

Hari ini secara kebetulan untuk pertama kalinya kami dipertemukan dengan pak dokter baik hati itu. Ketika kami sedang makan, pak dokter yang selesai berolahraga dengan istrinya, datang. Istrinya yang berbaju olahraga dengan jilbab warna merah maroon memesankannya nasi dengan goreng ikan lele. Kami tidak tahu kalau itu adalah pak dokter yang selama ini selalu membayari makan kami. Saya sendiri baru ngeh waktu seorang bapak yang makan di sebelah saya mau bayar, tiba-tiba pak dokter bilang semuanya akan dibayar olehnya. Pak dokter itu juga meminta tolong si ibu warung untuk memanggil beberapa orang lansia yang sedang duduk di pinggir trek lari untuk makan juga. Semua anggota TNI yang tadi makan di sana pun, semuanya dibayari. “Kata pak dokter siapapun boleh makan di sini dan akan dibayari oleh pa dokter”, begitu penjelasan si ibu warung.

***

Waktu saya mau bayar pun begitu, Si Ibu warung mengatakan saya tidak usah membayar. Duh pak dokter membuat saya bingung bagaimana harus mengucapkan terima kasih karena sudah sering dibayari makan. Mana pak dokternya ada di sini lagi. Saya menengok ke pak dokter dan istrinya, mereka tersenyum, dan saya mengucapkan terima kasih diikuti doa dalam hati, semoga pak dokter dan istri selalu sehat.

***

Entah sejak kapan pak dokter ini rutin membayari orang-orang yang makan di warung itu. Beliau membayari siapapun, bahkan yang tidak beliau temui. Tindakannya membuktikan bahwa orang baik itu masih ada di bumi yang penuh dengan intrik dan kejam ini. 😁 Yang dilakukannya bukanlah untuk kepentingan politik. Bukan semacam orang yang baik karena sedang mencalonkan diri untuk jabatan tertentu. Bukan untuk sesuatu bernama pencitraan. Melihat apa yang pak dokter beri untuk orang lain, membuat saya ingin sekali bisa menjadi seperti beliau. Mampu berbagi dengan orang lain. Bisa membayari makanan siapapun tanpa takut kehabisan uang. Bukankah bersedekah itu tidak akan mengurangi harta kita bahkan akan semakin membuatnya bertambah? Pak dokter pastilah orang yang sangat meyakini itu.