Pada hujan tadi sore

Sore tadi aku memandangi hujan yang merinai di halaman departemen store. Aku ingat kamu. Tapi bukan hujan itu yang mengingatkanku akanmu, sebab pada dasarnya aku memang selalu mengingatmu, tanpa jeda, di segala cuaca, di seluruh musim.

Hujan turun dengan derasnya. Kupikir, mungkin kamu tengah melintas di antara derai-derai hujan saat itu. Terkadang aku berpikir ingin sekali menjadi hujan agar bisa merinai di punggungmu. Tapi mungkin kamu tidak menyukai hujan. Mungkin hujan seringkali menyulitkanmu. Menghambat aktivitasmu. Dan aku, tentu saja tidak ingin menyulitkanmu, tidak ingin menjadi penghambat bagimu.

Ah, kupikir lebih baik aku bertransformasi menjadi payung agar bisa meneduhkanmu. Kira-kira warna apa yang kau suka untuk payungmu? Ataukah kau tidak suka memakai payung? Jika begitu, aku akan menjadi jas hujan. Agar kau bawa kemana-mana setiap hari dan selalu ada saat kau membutuhkan. Melindungi dan memelukmu dari terpaan hujan. Jika kau masih tidak suka juga, maka aku akan menjadi musim. Musim apapun yang kau suka. Atau menjadi cuaca. Cuaca apapun yang membuatmu nyaman. Atau aku akan menjadi apapun, yang bisa membuatmu bahagia, bahkan jika itu adalah ketiadaanku. Maka aku bersedia menjadi tiada.

Iklan

Perihal jatuh kepadamu

Kau tahu, yang namanya cinta tak pernah bisa kita rencanakan akan jatuh kepada siapa. Seperti bola yang meluncur tajam dalam permainan bola voli, terkadang jatuh meluncur kepada orang yang tidak siap menerimanya, sehingga bola jatuh ke lapangan.

Ah, barangkali kau tidak tahu, betapa jatuh cinta kepadamu adalah sesuatu yang sangat menyulitkan, seperti soal uraian matematika yang kita tak tahu rumusnya tak tahu cara penyelesaiannya sehingga kertas ujian tetap kosong.

Jatuh cinta kepadamu nyaris seperti jatuh dari atas gedung tinggi, pasti terluka parah, jika pun misalnya, masih selamat dari kematian.

Ah, kau tentu tak akan pernah mengerti betapa jatuh cinta kepadamu adalah sesuatu yang sangat mengerikan. Bagaimana tidak, jika kenyataan berbicara bahwa kau hanya bisa kuhidupkan dalam mimpi. Jika kenyataannya nyaris seperti menikamkan belati pada dada sendiri.

 

Kesurupan

“Ada yang kesurupan, ada yang kesurupan”,

“Penjaga sekolah kesurupan”

Seketika kabar itu menjadi viral, bukan di medsos, melainkan di setiap mulut dan gendang telinga orang-orang.

“Sia teh boga pikiran teu, anjing?”, (kamu itu punya pikiran tidak, anjing?”), teriak penjaga sekolah itu kepada seorang guru yang sejak tadi memang tampak terlibat pembicaraan dengannya.

“Aing teh cape goblog, anjing, boga pikiran teu sia teh hirup teh mikir teu? Teu kasiwer aing teh kudu nyokot plastik ka ruang guru mah”, (Saya itu capek goblok, anjing, kamu itu punya pikiran gak, kamu hidup itu pakai pikiran gak? Kalau harus mengambil plastik ke ruang guru gak bakal terkerjakan.”, begitu si penjaga sekolah itu terus berteriak. Kali ini sambil dilemparnya tong sampah ke arah guru itu. Tong sampah melayang memuntahkan segenap isinya yang beraneka. Berantakan. Tong sampah plastik itu pun tak kuasa menahan diri untuk tidak pecah.

Sementara, guru perempuan itu tak mampu bergeming. Lidahnya kelu menghadapi sumpah serapah yang memberondongnya bagaikan jutaan peluru yang ditembakkan tepat mengenai jantungnya itu. Kedua tangannya sibuk mengelus-elus dada menahan hati yang kembang kempis karena sesak. Makian penjaga sekolah itu baginya terdengar seperti bom nuklir yang dijatuhkan oleh Sekutu tepat di gendang telinganya. Sesaat ia berharap tuli agar tak perlu mendengarnya. Sekuat tenaga ia membendung genangan di matanya yang nyaris ambrol. Matanya nanar. Tubuhnya terasa limbung.

Seorang guru laki-laki mendekati penjaga sekolah itu dan menenangkannya. Lantas membawanya keluar dengan setengah menyeret.

Kabar tentang kejadian ini pun terbang dari mulut ke mulut hinggap dari telinga ke telinga. Kaum perempuan membicarakannya dengan segenap bumbu dan penyedap rasa yang faktual, tajam, dan terpercaya. Para lelaki membicarakannya dengan segenap kebijaksanaan yang tiba-tiba hinggap di kepalanya.

Katanya, “Penjaga sekolah itu emang udah lama gak bener kerjanya.”

“Toilet jarang dibersihkan, dapur selalu dipenuhi kolaborasi bau sisa makanan dengan bau tubuh kecoa, piring dan sendok selalu hilang.”

“Memangnya kapan dia membersihkan sampah? Penjaga sekolah yang satu lagi yang rajin membersihkannya, bukan dia.”

“Dia itu kalau ngepel lantainya malah jadi bau.”

“Kalau guru-guru pulang sore, dia pasti marah-marah, membentak-bentak, padahal seharusnya dia tahu sekolah ini fullday school.”

“Dia itu sok sibuk, ngomong doang sibuk, padahal kerjanya nihil.”

“Dia pikir cuma dia yang di sini bekerja, semuanya di sini kerja, kalau gak mau cuci piring ya jangan jadi office boy.”

“Dia itu gak punya kesopanan. Hidupnya tak kenal etika.”

Begitulah perasaan setiap orang tiba-tiba tumpah. Semuanya mengeluarkan argumen dan unek-unek yang sudah dipendam sejak lama. Semuanya angkat bicara.

Penjaga sekolah sudah lelah menjadi penjaga sekolah selama bertahun-tahun dan tak kunjung naik pangkat menjadi guru atau kepala TU.

Penjaga sekolah sudah bosan menyapu dan mengepel, apalagi menyeduh teh setiap pagi, ia ingin beralih menjejalkan rumus matematika ke setiap kepala siswa.

Penjaga sekolah sudah muak dengan gelas, piring, sapu, pengki, dan plastik sampah, ia ingin segera bercengkrama dengan laptop, hotspot, proyektor, dan spidol whiteboard.

“Padahal masalahnya sepele, hanya karena plastik sampah disimpan di penjaga sekolah yang satu lagi, dan dia ga mau ngambil. Cuma kayak gitu aja dia harus meneriakiku dengan anjing dan goblok?”, guru perempuan itu menjelaskan.

Penjaga sekolah itu akhirnya terduduk lemas di pos satpam sambil menelungkupkan tangannya di muka, entah merenung, entah menyesal, entah tidak keduanya. Air mata menyungai di kulit pipinya yang legam.

 

Oh my plate memberi salam, apa kabar kurus?

Akulah si tukang makan, pecinta kuliner, foodlover, yang bercita-cita ingin kurus.

Sore tadi, dalam cuaca yang cukup bersahabat, setelah hujan yang tak pernah absen sejak pagi sampai pagi lagi setiap harinya, aku bersama tiga kawanku bersepakat untuk menyambangi tempat kuliner yang baru buka minggu ini di Kota Tasikmalaya, Oh My Plate. Letaknya berada di Jalan Pemuda, Tasikmalaya. Sekalian merayakan ulang tahunku, ceritanya.

Kami berangkat sekitar pukul 16.00 WIB dan sampai di sana setengah jam kemudian. Kami mengambil tempat duduk di teras depan yang menurutku sendiri merupakan tempat yang strategis agar bisa menikmati makanan sekaligus menikmati langit sore yang meneduhkan.

Restonya tidak terlalu besar juga tidak terlalu ramai saat kami datang. Hanya ada beberapa kursi yang terisi pengunjung. Sungguh di luar dugaan. Kulihat beberapa pengunjung memesan menu andalan resto ini, Vulcano Rice, yaitu nasi goreng berbentuk kerucut yang di tengah puncaknya dilelehkan telur dan diberi topping sosis, keju, beef, bakso, dll, serta dihidangkan di atas hot plate. Aku sendiri sedikit tertarik untuk memesan menu ini, apalagi dengan beberapa level kepedasan yang ditawarkan, tetapi karena porsinya besar, dan teman-teman yang lain tidak ada yang mau, maka aku memutuskan untuk memesan menu ini lain waktu saja.

Beberapa lama dibuat bingung, bimbang, galau untuk memilih menu, karena rasanya ingin memesan semuanya, akhirnya setelah menimbang dengan jujur dan adil, aku memutuskan untuk memesan rice and dory katsu sambal matah. Tertarik menu ini karena sambal matahnya yang menggiurkan. Penyajiannya sama seperti yang lain yakni di atas hot plate. Rasanya? Mmmm delicious. Nasi yang disajikan di atas hot plate dengan dory katsu, telur yang langsung digoreng di hot plate itu, dengan irisan jagung dan bawang bombay, serta disiram sambal matah di atasnya. Mmmm, aku megap-megap antara pedas dan panas.

Temanku bernama Rahmi memesan rice and chicken katsu sambal matah. Hampir sama dengan pesananku. Bedanya hanya pada ayamnya saja. Adapun temanku yang lain, Ryssa, memesan spaghetti saus rica yang mmmmm pedasnya bikin aku pengen pesen menu ini kalau ke sini lagi. Sementara temanku yang satunya lagi, Karina, memesan rice and chicken curry. Semua menu disajikan di atas hot plate. Yang ini bumbu curry-nya yummy banget. Kami memang sengaja memilih menu yang berbeda agar bisa saling mencicipi.

Untuk minumnya, aku selalu bersetia kepada ice green tea, yang kalau menurutku sih ice green tea nya agak berbeda dari tempat lain. Temanku yang lain memesan iced lychee yakult.

Berbicara harga, resto ini cukup ramah di kantong. Terbukti, untuk empat makanan dan empat minuman ini aku hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp 200.000 sudah termasuk pajak restoran 10%.

Yah, dan teman-teman memberi kejutan kue ulang tahun dan lagu happy birth day yang dinyanyikan bersama beberapa pelayan resto, mengingatkan bahwa aku semakin menua. Kapan kurusnya??

 

Hanya saja, sebuah kalimat membuatku merasa meranggas karenanya

Aku adalah sebatang pohon yang meranggas pada musim penghujan. Aku adalah sejumput rumput yang mengering pada musim semi. Hanya sebab sebuah kalimat.

Malam ini dalam ketaksengajaan aku mendapati sebuah kalimat yang kau lempar entah dari mana. Sebentuk kalimat yang entah bagaimana tetiba menjelma belati yang begitu saja mengoyak jantungku dan membuatku berdarah-darah karenanya.

Mungkin benar yang peribahasa katakan bahwa seuntai kalimat bisa jauh melebihi tajamnya pedang. Terutama bagiku jika kalimat itu kau yang katakan. Pabila manis, maka tak ada gula yang mampu menyaingi dan pabila pahit, maka tak ada empedu yang bisa menandingi.

Kalimatmu sungguh pedang, sungguh belati, sungguh samurai, yang mengoyak, memorakporandakan hatiku. Aku tercabik. Seketika aku berubah menjadi seonggok daging yang dicincang koki di sebuah restoran. Sebentar kemudian aku berubah menjadi daun yang luruh berguguran di pekarangan. Aku lantas merasa menjadi pohon yang mengering, meranggas, mematahkan ranting, meluruhkan daun. Padahal di luar hujan, padahal ini bukan kemarau, padahal ini bukan musim gugur.

Aku meranggas oleh sebab cemburu, kau tahu?

Mencuri senja, memanggang muka, meluruh peluh di tanahmu : sebuah catatan perjalanan

Berpikir tentang Sumatera adalah memunculkan kembali segenap ingatan tentangmu.

Pada libur weekend kemarin, aku menyempatkan diri untuk menjejak kaki di tanahmu. Tanah Sumatera. ¬†Sebuah perjalanan yang seharusnya kulakukan bertahun lalu manakala kau melafalkan kalimat yang hingga saat ini masih bergaung di telingaku, “Kalau kita menikah, kau maunya tetap tinggal di Jawa?”. Ya, semestinya perjalanan ini kulakukan bertahun lalu, menuju rumahmu, menemui ibumu. Namun takdir menggariskan aku melakukan perjalanan ini minggu lalu, pun bukan menuju rumahmu yang sudah jadi rumah perempuan lain, bukan pula menemui ibumu yang sekarang menjadi ibu bagi perempuan lain, tapi menuju Krakatau, gunung di tengah Selat Sunda yang selalu kau banggakan dulu, saat kau bercerita tentang tanahmu.

Jumat lalu, 29 September 2017 aku berangkat terburu sepulang sekolah menuju pool bus Budiman untuk berangkat menuju Pelabuhan Merak, pelabuhan yang menghubungkan tanahku dengan tanahmu. Dari Tasikmalaya, aku berangkat sendiri dan akan meneruskan perjalanan ke Merak dari Terminal Leuwipanjang bersama seorang teman yang sudah menungguku di Bandung. Aku dan Fani, temanku itu, ikut open trip Krakatau, dan kami harus tiba di Merak pada pukul 23.00 sebagai titik awal perjalanan kami.

Bandung macet, dan itu membuat bus Arimbi Bandung-Merak yang kami tumpangi berjalan layaknya keong. Hujan deras mengiringi perjalanan kami. Alhasil, itu membuat kami cukup panik karena estimasi perjalanan yang seharusnya enam jam bisa jadi lebih panjang. Bus baru berjalan layaknya sebuah bus ketika meninggalkan Kota Bandung dan melaju di Tol Cipularang. Lega, meski tetap kami yakin akan tiba di Merak lebih dari pukul 23.00.

Benar saja, tepatnya pukul 01.00 dini hari kami baru tiba di Merak. Untung saja calon teman-teman seperjalanan kami masih menunggu. Oh iya, itu adalah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Merak. Katro memang. Padahal itu adalah tempat dimana kamu pulang pergi Jawa-Sumatera semasa kuliah dulu. Yang kubayangkan malam itu, adalah bersamamu menuruni bus dan lalu berjalan bergandengan menuju pelabuhan, lantas aku mampir ke toilet dan kamu membeli tiket. Yang terjadi kemudian adalah kita menyusuri lorong panjang menuju tempat kapal berlabuh, lalu sembari menunggu kapal tiba dan memarkir, kita berfoto-foto mengabadikan momen berlatar kerlip lampu kapal dan gemerlap Jakarta di kejauhan. Kemudian kau menggandeng tanganku menaiki kapal besar, berdesakan, dan kita duduk di sebuah ruangan ber AC, tidur, untuk kemudian bangun di Bakauheni. Namun kau tak ada di sini. Semuanya memang terjadi seperti itu, tapi bukan kamu yang membersamaiku menyebrang, melainkan teman-teman.

Kami tiba di Pelabuhan Bakauheni pukul 05.00 keesokan harinya. Dari sana kami menaiki angkot menuju Dermaga Canti. Kubayangkan, pastilah dulu jalan ini adalah jalan yang selalu kau lalui saat pulang mudik. Mungkin kau pernah duduk di angkot yang sama. Atau mungkin kau menaiki bus besar di depan sana. Ah, kuhirup udara dalam-dalam, mencoba merasakan udara Sumatera yang menjadi nafasmu. Sengaja kuambil tempat duduk di dekat jendela, supaya aku bisa melihat dan mencatat lamat-lamat jalan-jalan yang sering kau lalui.

Setelah satu jam, kami tiba di Dermaga Canti, Kalianda, Lampung, dan kami harus menyeberangi laut kembali menuju Pulau Sebesi. Kami menaiki kapal kecil, semua penumpang tertidur, tapi kantuk tak mampu membuatku mengabaikan gelombang laut dan ayunan kapal juga tebakan-tebakan dalam hatiku tentang di tanah yang manakah kamu dulu tinggal.

Pukul 09.00 kami sampai di Pulau Sebesi, sebuah pulau kecil dengan beberapa rumah yang dijadikan homestay. Kesan pertamaku adalah bahwa pulau itu tampak biasa saja, dan cukup berantakan. Sebuah desa biasa di pinggir pantai. Kami diberi sarapan seharga Rp 15.000,00 dengan nasi dan lauk berupa telur balado dan tempe goreng. Lalu kami disediakan homestay yang sekamarnya kami isi delapan orang. Lima perempuan, tiga laki-laki. Aku, Fani, Ikbal, Adel, Sapta, Rizki, Dhani, dan Ardi.

Setelah duhur kami dibagi alat snorkeling yang kami sewa seharga Rp 75.000,00/dua hari. Lalu kami menaiki kapal menuju Pulau Sebuku. Ya, itu adalah spot snorkeling pertama kami. Perjalanan sekitar satu jam dan matahari tepat di ubun-ubun. Kami dipanggang di atas kapal murni tanpa penghalang. Aih, kulit akan semakin menyokelat. Panasnya luar biasa. Otomatis, tiba di Sebuku, aku langsung nyebur. Menyambangi ikan-ikan dan rumput laut. Terlentang sesekali memandangi langit. Menenggelamkan diri kembali.

Sorenya kami menghabiskan senja di Pulau Umang-umang, pulau kecil di tengah laut, yang sekelilingnya berupa pantai dengan pasir putih. Pulau yang indah. Apalagi dihiasi matahari yang sedang ditelan lautan di balik gunung. Betah di sana. Tempatnya juga hanya 15 menit naik kapal dari Pulau Sebesi.

Malamnya, karena lelah dan ngantuk berat, setelah sholat isya aku langsung pulas. Baru terbangun dini hari karena hujan deras. Seharusnya, pukul 03.00 dini hari kami berangkat menuju Krakatau, tapi karena derasnya hujan, kami tertahan di kasur homestay.

Pukul 06.00 pagi barulah kami memulai perjalanan menuju Krakatau. Tentu saja dengan kapal yang kemarin juga. Cuaca pagi itu masih menyisakan mendung sisa hujan semalam. Kami duduk di pinggir sebelah atas kapal menjulurkan kaki ke laut. Di tengah perjalanan, hujan turun lagi. Semuanya masuk ke dalam kapal. Aku sendiri hanya jongkok di emperan karena kapal sudah penuh. Perjalanan ternyata tak sesingkat penyebrangan sebelumnya, ini sangat lama, dan gelombang laut yang pasang menggoyang perut kami yang belum diisi sarapan. Cuaca tetap mendung, udara sangat tidak enak, dinginnya terasa aneh, gelombang pasang semakin menjadi, kapal kami meliuk-liuk sebentar tumpah ke kanan sebentar tumpah ke kiri, seolah laut sedang mengamuk karena kami mengganggu tidurnya. Kontan mereka yang duduk di dalam kapal mulai mabuk perjalanan. Banyak yang lalu pindah keluar dan memuntahkan isi perut ke laut. Aku sendiri perut serasa dikocok-kocok, meski tidak sampai muntah. Sungguh perjalanan yang meletihkan. Dua jam lebih kami baru tiba di Krakatau atau tepatnya anak gunung Krakatau.

Kami menyantap sarapan nasi box yang kami bawa dari Sebesi setibanya di Pulau Anak Krakatau. Pulau yang sunyi di tengah laut dengan gunung menjulang cukup tinggi. Ya, Krakatau sudah tiada sejak meletus puluhan tahun lalu, dan kehadirannya kemudian digantikan oleh munculnya Anak Krakatau yang seolah lahir dari perut laut.

Kami trekking sekitar satu jam. Lumayan mengguyurkan peluh apalagi aku yang jarang olahraga. Puncak anak Krakatau masih mengepulkan asap karena perutnya menyimpan lahar panas. Bau belerang cukup menyengat tercium. Dan kami, aku, Fani, Rizki, Dhani, serta Ardi, terduduk melepas lelah di atas bongkahan batu memandang hamparan laut yang mengelilingi Anak Krakatau. Sembari mencoba mengakrabkan diri sebab kami adalah teman baru. Orang-orang kebanyakan sibuk berfoto. Ada juga wisatawan asing berkulit bule yang sepertinya sedang berpacaran. Ah, cuaca hari itu sangat syahdu. Langit berselimut kabut. Tapi pertemanan kami terasa hangat.

Kami meninggalkan Krakatau menuju Pulau Lagoon Cabe pada sekitar pukul 10.00. Hanya butuh waktu setengah jam untuk tiba di spot snorkeling itu. Cuaca mulai membaik. Kami ber-snorkeling ria bermain dengan para ikan yang menari-nari gemulai. Sungguh lagoon cabe adalah spot snorkeling yang bagus. Ikannya banyak. Warna-warni berkelebatan di sekitar kepala kami. Sungguh menyenangkan, apalagi matahari mulai menampakkan diri.

Pukul 12.00 kami harus menghentikan keasyikan dan kembali ke Sebesi.  Cuaca saat itu sangat panas dan kami dipanggang lagi di atas kapal sepanjang terombang ambing di lautan sampai-sampai baju kami yang basah mengering dengan sendirinya. Tiba di Sebesi pukul 14.00 kami disambut dengan sayur asem, ikan laut, dan tempe goreng. Sederhana tapi nikmat untuk perut yang lapar dan lelah. Apalagi makannya di bawah pohon rindang menghadap lautan yang beriak tenang lengkap dengan semilir angin yang sepoi. Aih. Sungguh merupakan romansa jika aku duduk di sana denganmu. Loh?

Pukul 16.00 kami memulai perjalanan pulang kembali ke Dermaga Canti. Panas, tentu saja. Namun perjalanan menyebrang ini sungguh diwarnai merah senja. Matahari membuat langit merona mengantar kepulangan kami.