Analogi

1

Drama Korea Missing Nine

Drama ini berkisah tentang sembilan orang yang mengalami kecelakaan pesawat dan terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni. Kesembilan orang itu adalah rombongan artis yang akan konser di luar negeri dan tentu saja sudah berteman baik sejak lama.

Terdampar di pulau tak berpenghuni tentu saja membuat hidup mereka tidak mudah. Memerlukan kebersamaan dan rasa saling menjaga agar mereka dapat bertahan hidup. Namun sifat orang tidaklah sama. Tentu saja, dari kesembilan orang itu ada yang memiliki sifat buruk, egois alias mementingkan dirinya sendiri walaupun harus menjadi penjahat bagi yang lain.

Akhirnya, keegoisan itu menjadikan pulau tak berpenghuni itu menjadi tempat pertumpahan darah.

2

Mendaki Gunung

Katanya, kalau ingin mengetahui sifat asli seseorang, ajaklah ia mendaki gunung. Ajaklah orang itu untuk menghadapi kesulitan bersama-sama. Ajaklah orang itu ke dalam kondisi yang membutuhkan kebersamaan dan kesetiakawanan untuk bertahan hidup.

3

Kamu

Tapi kamu, sepertinya pengecualian. Tak perlu terdampar di pulau tak berpenghuni bersamamu, tak perlu pergi mendaki gunung bersamamu, tak perlu menghadapi kesulitan bersamamu. Tak perlu semua itu. Sebab tanpa itupun, sifat aslimu sangat kentara. Egoismu tak tertolong.

Menjadi guru

Menjadi guru adalah memiliki dada berhektar-hektar lapangnya.

Menjadi guru adalah menumpuk berton-ton kesabaran.

Menjadi guru adalah mengerti, bukan hanya perihal materi,  tetapi bahwa setiap manusia tidaklah sama.

Menjadi guru adalah memahami, bahwa setiap diri memiliki potensi.

Menjadi guru adalah memelihara kecemasan.

 

Berenang adalah penenang

Kamis ini, seperti halnya Kamis-Kamis sebelumnya, aku kembali dengan aktivitas berenang. Yah, sejak merasa badan semakin melebar dan nafas cepat sekali tersengal, aku mulai suka berenang, olahraga yang menurutku menyenangkan, sebab terlalu malas dengan olahraga yang lain.

Tentu saja, karena tidak memiliki kolam renang pribadi, aku dan teman yang biasa berenang bareng, pergi ke kolam renang di Hotel Tyara. Tentu saja lagi, aku bukan seorang yang bisa berenang dengan baik, hanya asal bisa selamat tanpa tenggelam dari ujung ke ujung dengan gaya semau gue.

Pada dasarnya yang menyenangkan dari berenang adalah air. Karena aku bermain dengan air. Olahraga tanpa keringat dan tanpa perlu merasa gerah. Ah, lagipula, aku tidak benar-benar bermaksud olahraga, apalagi mengecilkan badan, hanya saja, berenang sungguh membuat pikiran menjadi tenang. Menyegarkan otak dan kepala yang mumet. Membuat perasaan yang kisruh menjadi lumer bersama riak-riak air. Sungguh, ketika segala sesuatu terasa runyam dan membuat stres, berenang adalah obat penenang.

Biasanya aku hanya bolak-balik memanjang sebanyak dua kali, selebihnya, aku hanya telentang di atas air dan melihat langit dan menikmati gelombang, sungguh menyegarkan. Memandang langit dengan telentang di atas air, benar-benar terasa rileks.

Bercerita kepada Bangku-bangku Kosong

Suatu kali. Kala tiba waktuku.

Dalam pergantian jam.

Aku memasuki ruang sunyi. Kudapati kursi-kursi menatapku bisu.

Lantas meja-meja melempariku senyum penuh ejekan.

Mataku berkeliling mencari. Namun hanya ruang sunyi tanpa sesiapa.

Mataku bertatapan dengan dinding. Dinding tertawa, terbahak menertawakanku.

Begitu saja aku duduk. Namun kursi yang biasa menyangga tubuhku, tetiba bertanya, “Mengapa kau kemari? Ini hanya ruang sunyi.”

“Teman-temanku seharusnya menunggu di sini.”, jawabku singkat.

“Itu tak mungkin, tak ada yang datang kemari sejak tadi”, tukas meja.

“Ah, sebentar lagi mereka pasti datang. Mereka selalu datang.”, jawabku lagi.

“Pulang saja. Mereka tak akan datang. Hanya kau yang menganggap mereka teman. Kau? Mereka tak menganggapmu siapapun. Sudahlah! Pulang sajalah!”, hardik kursi.

Aku terdiam.

Kulirik jam di handphone. Pukul 14.00 WIB. Sudah lima belas menit semenjak tadi aku datang.

Ah, ke mana mereka?

Hujan mulai menderai di halaman.

Tetiba, aku merasa mungkin aku sama seperti hujan. Yang seringkali, kedatangannya tak diharapkan. Oleh mereka yang tak pandai bersyukur maksudnya.

“Ah, kenapa masih menunggu? Percayalah, tak akan ada yang datang.”

“Tak apa. Aku akan tetap menunggu.”

“Kau senang membuang waktu rupanya.”, jawab meja lagi.

“Aku akan berbicara dengan kalian, aku akan bercerita kepada kalian : bangku-bangku yang selama ini berpura-pura bisu dan tuli.”

“Baiklah, terserah kau saja. Toh kami juga tak bisa ke mana-mana.”, jawab sebuah kursi entah yang mana.

Mataku berkeliling. Kembali. Kulihat wajah-wajah yang biasa duduk di kursi-kursi itu. Kulihat derai tawa mereka. Kudengar celoteh mereka.

“Ah, sudah. Kau jangan berkhayal lagi. Selama ini, kau merasa akrab dan punya hubungan baik dengan mereka hanyalah ekspektasi yang kau bangun sendiri. Semuanya hanyalah imajinasimu. Nyatanya, kau tak mengenal mereka. Sama sekali.”, teriak dinding di samping kiriku.

“Ah, kau benar dinding. Sepertinya aku memang tak mengenal mereka. Aku tak bisa membaca mereka. Aku dan mereka hanyalah sekumpulan orang asing yang secara kebetulan terjebak pada ruang dan waktu yang sama.”, jawabku.

Ya, ruang sunyi ini.

 

 

Just a bad day

Hari ini benar-benar hari yang buruk. Entahlah. Aku merasa harus marah pada apa yang terjadi. Aku sungguh kecewa, mereka yang selama ini sangat kupercaya, nyatanya berbuat sesuatu yang nyaris tak bisa kupercaya. Tepat hari ini. Aku marah, aku kecewa, aku merasa terhianati, aku sakit hati.

Mungkin, aku hanya merasa kecewa lantaran harapan dan kepercayaan yang kubangun sendiri. Yang terlalu yakin bahwa aku yang selama ini selalu baik kepada mereka akan dibalas dengan baik pula oleh mereka. Nyatanya, hubungan baikku dengan mereka selama ini hanyalah imajinasi. Akulah yang berekspektasi tentang mereka. Bahwa mereka baik, bahwa mereka menyenangkan, hanyalah apa yang kupikirkan tentang mereka, hanyalah persepsi yang kuhidupkan sendiri. Faktanya, kini aku merasa tak mengenal mereka. Aku dan mereka hanyalah sekumpulan orang yang secara kebetulan terjebak dalam ruang dan waktu yang sama. Aku tak mengenal mereka, aku tak bisa membaca mereka.

Sebab sekaya apapun aku akan kosakata, aku memang tak memiliki kata tidak untukmu

Ah. Kau datang. Sudah kubilang kan bahwa kau pasti menepati janji untuk selalu pulang. Bukankah dulu kau bilang aku adalah rumah?

Meski seharus apapun aku melupakanmu, kurasa memang tak akan bisa. Bagaimana mungkin bisa? Jika kau selalu datang lagi, dan lagi, membuatkanku kenangan yang baru. Aku sudah mencoba enyah, tapi kau, kenapa pulang? dan aku, tak mungkin abai padamu kan? Ah kau memang brengsek yang kucintai. Kau tahu sekali tentangku, bahwa ada satu kata yang tak kumiliki untuk kuucapkan padamu: tidak. Itulah mungkin kenapa dulu kau pergi dengan teramat percaya diri setelah menghujamkan belati di seluruh tubuhku, kau pergi saat tubuhku bersimbah pilu. Kau pergi dengan tampang seolah tak akan pernah ingin untuk melihatku kembali, sebab kau sendiri memiliki keyakinan bahwa jika pun suatu hari kau ingin pulang, aku tak mungkin tidak membukakan pintu, sebab kau tahu aku tak punya kata tidak untukmu.

Namun ada hal yang mungkin kau tak pernah tahu, bahwa aku pun selalu memiliki keyakinan bahwa kau pasti pulang, sejauh apapun kau pergi, kau tak akan pernah tersesat untuk pulang ke rumahmu sendiri.