Diposkan pada BPN30dayChallenge2018, Writting Challenge

[Blogger Perempuan Network 30 Day Writting Challenge] Day 9

KOTA-KOTA YANG PERNAH DITINGGALI

Tantangan hari ke 9 sebenarnya bukan tentang ini, tetapi karena satu dan lain hal, mungkin karena bingung kalau harus berbicara tentang blogger favorit, akhirnya aku pakai tema pengganti yaitu tentang kota-kota yang pernah kutinggali. Kupikir ini setidaknya akan lebih mudah untuk dituliskan dan diceritakan.

Selama sekian tahun saya hidup, semenjak dihadirkan ke bumi untuk pertama kalinya sekian tahun lalu hingga sekarang sudah bekerja dan hidup mandiri, setidaknya ada lima kota yang pernah saya tinggali. Alhamdulillah untuk tak seperti dalam peribahasa Sunda, kurung batok, yang artinya diam saja di rumah atau di kampung halaman, sehingga memiliki banyak pengalaman hidup di kota lain, jauh dari rumah, jauh dari keluarga.

CIAMIS

Kota ini adalah kota di mana aku membuka mata melihat dunia untuk pertama kalinya saat aku dihadirkan Tuhan di permukaan bumi ini. Di kota ini pula aku belajar merangkak, belajar berjalan, dan menjejakkan kaki di tanah untuk pertama kalinya. Kota tempat di mana seluruh keluarga dan handai taulan berkumpul. Kota kecil tempat di mana aku menghabiskan masa kanak-kanakku, berkejaran, berlarian di bawah hujan, bermain petak umpet, congklak, hingga pecle, menyeselesaikan sekolah dasar, bertengkar, mengejar layangan, pergi mengaji, berenang di sungai, mencecap sekolah menengah pertama hingga SMA, pun jatuh cinta untuk pertama kalinya.

Ciamis tentu saja akan selalu menjadi kota tercinta. Sejauh apapun aku pergi, senyaman dan seindah apapun kota-kota lain yang aku tinggali, Ciamis akan selalu menjadi tempat di mana aku akan selalu pulang.

YOGYAKARTA

Kota kedua yang pernah kutinggali adalah Yogyakarta atau Ngayogyakarta Hadiningrat yang lebih dikenal dengan istilah Jogja. Selepas SMA aku diterima di salah satu universitas negeri di kota ini lewat jalur SBMPTN (dulu namanya SPMB). Waktu itu aku memang ingin sekali kuliah di luar kota, ingin mencoba hidup mandiri jauh dari rumah jauh dari orang tua. Beruntung waktu itu bisa lolos tes SPMB, sebab kalau tidak, ayahku sudah memutuskan aku harus kuliah di universitas swasta yang ada di Ciamis atau di Tasikmalaya. Waktu itu aku ogah-ogahan kalau harus kuliah di kampung halaman.

Pertama kalinya aku ke Jogja adalah waktu SMA. Waktu itu seangkatan pernah berwisata sekolah ke sana. Masih ingat waktu itu di bus, guide tour menjelaskan kepada kami tentang universitas yang kami lewati waktu itu. Seorang teman sekelasku mengatakan bahwa dia ingin sekali bisa kuliah di sana kelak. Aku? Sama sekali waktu itu tidak pernah berpikir ataupun membayangkan bahwa kampus itu ternyata kelak menjadi kampus tempatku mencari ilmu.

Aku datang ke Jogjakarta untuk daftar ulang mahasiswa baru diantar oleh ayahku. Aku datang ke tempat seorang tetangga di Ciamis yang kebetulan memiliki usaha di Jogja. Akhirnya aku juga mendapat kosan di daerah sana, tepatnya di daerah Pugeran, Maguwoharjo, belakang Cassa Grande di Jalan Ring Road Utara. Meskipun tempatnya cukup jauh dari kampus, harus menempuh perjalanan sekitar 20 menit naik kendaraan umum, aku tetap memutuskan tinggal di daerah sana karena ada kenalan yaitu tetanggaku itu.

Di rumah kosan Pugeran itu tempatnya nyaman dan bersih. Ada empat puluh kamar di sana dan semuanya terisi penuh. Karena lokasinya dekat Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, otomatis penghuni kos di sana mayoritas adalah mahasiswi kampus itu. Hanya ada aku dan dua orang lainnya yaitu Mbak Evi dan Mbak Novi yang bukan mahasiswa sana (Mbak Evi dan Mbak Novi kuliah di UPN Veteran Yogyakarta). Karena itu pulalah maka mayoritas penghuni kos adalah nonmuslim. Hanya aku, Mbak Evi, dan Mbak Novi yang muslim. Menjadi minoritas, berbeda agama, beda kebiasaan hidup, ditambah lagi beda usia di mana waktu itu aku adalah satu-satunya mahasiswa baru sedangkan satu kosan semuanya adalah mahasiswa tingkat akhir, membuatku kesulitan bergaul dan menjadi penyendiri di kosan. Beruntung waktu itu ada seorang lain yang tinggal di tempat tetanggaku dari Ciamis itu yang juga kuliah di jogja dan seangkatan denganku,  bersamanyalah aku menghabiskan hari-hari mengerjakan tugas kuliah, sampai-sampai orang-orang yang kenal menyangka bahwa barangkali kami adalah jodoh.

Tinggal di daerah Pugeran hanya bertahan satu tahun. Lokasi yang jauh dari kampus, tidak ada teman dekat di kosan, ditambah lagi Yudi (temanku yang tinggal di rumah tetangga itu) juga pindah, membuatku juga ikut-ikutan pindah. Aku pindah ke lokasi dekat kampus tepatnya di daerah Samirono, Jalan Colombo, Yogyakarta. Di daerah ini aku tinggal bersama dengan teman se-gank dan sekelas di kampus. Teman-temanku di kosan ini semuanya berasal dari Karawang sehingga satu rumah kos ini orang Sunda semuanya. Di sini aku menemukan beberapa perbedaan pada bahasa Sunda.

Tinggal di daerah Samirono ternyata membuatku sedikit bisa belajar bermasyarakat dan belajar berguna bagi masyarakat. Waktu itu TPA Al-Ikhlas Samirono kekurangan tenaga pengajar sehingga jadilah kami sekosan menjadi pengajar IQRO dan doa-doa bagi anak-anak di sana, juga mengajar membaca Al-qur’an bagi ibu-ibu di sana yang mualaf atau yang belum bisa membaca Al-quran juga yang belum bisa bacaan sholat. Rasanya waktu itu sangat menyenangkan, bisa kenal dengan masyarakat dan anak-anak di sana, menjadi bagian dari kehidupan di sana bukan hanya bergaul dengan sesama mahasiswa saja.

Yogyakarta berhati nyaman adalah semboyan Kota Yogyakarta. Ya, jogja memang nyaman dan sangat kondusif untuk belajar. Tak heran kalau dijuluki sebagai kota pelajar. Tak ada kemacetan dan lalu lintas padat di sini (setidaknya waktu itu) juga tak bising karena bukan metropolitan. Yogyakarta juga adalah kota penuh kenangan, kota tempat di mana aku bertemu seseorang yang sangat berarti dalam pengertianku tentang kehidupan, kota tempat di mana aku bertemu dengan profesor-profesor hebat lulusan luar negeri yang membangun mimpi-mimpiku, dan stttt,,Yogyakarta juga adalah kota di mana untuk pertama kalinya aku mengenal istilah ayam kampus. 😀 maklum udik 😀

Aku tinggal di Yogyakarta selama tiga tahun lima bulan. Akhirnya aku harus berpisah dengan teman-teman di sana meninggalkan sejuta kenangan. Jogja, kota tempat di mana aku mengalami kepahitan yang sangat menyakitkan, juga kota di mana aku melakukan kebodohan yang terbodoh sepanjang sejarah.

KLATEN

Aku tinggal di Klaten, Jawa Tengah, sebenarnya bukan untuk waktu yang lama. Hanya sekitar lima sampai enam bulan untuk kegiatan KKN. Di sana aku dan teman-teman berempat belas tinggal di sebuah rumah dua lantai milik Mbah Mangun. Rumahnya tidak terlalu bagus tetapi cukup nyaman di dekat sawah sehingga setiap hari kami melihat pemandangan berupa hamparan sawah luas. Tinggal berempat belas dalam satu rumah komentarku adalah “seru”. Bagaimana tidak, kami berempat belas ini adalah cewek cowok, setiap hari kami rebutan kamar mandi, saling membatali saat selesai wudhu, masak bareng dari yang enak sampai yang rasanya gak karuan, solat berjamaah, sampai rebutan channel televisi antara yang pengen nonton sepakbola vs drama korea. Di sini juga untuk pertama kalinya aku menghadiri acara pernikahan ala Jawa juga mengenal macam hidangan dalam resepsi Jawa yaitu waktu Mbah Mangun menikahkan anaknya.

BANDUNG

Selesai kuliah di Jogja aku mencari kerja di Bandung dan alhamdulillah dapat. Mengapa tidak lanjut kerja di Jogja? Waktu itu aku berpikir Jogja kurang menjanjikan untuk pekerjaan (sebenarnya gak pernah nyoba nyari sih :-D) dan barangkali ini yang menjadi penyesalanku kemudian, sebab barangkali, seandainya aku tetap tinggal di Jogja, aku tak akan kehilangan dia.

Aku akhirnya tinggal dan bekerja di Bandung. Sebenarnya Bandung bukan kota yang asing bagiku sebab sejak kecil pun sering dibawa orang tua berlibur di Bandung. Di Bandung aku tinggal di sebuah kosan di daerah Muararajeun, Jalan Katamso. Di sana aku tinggal bersama seorang sahabat dari Ciamis yang juga bekerja di Bandung.  Bandung adalah kota yang menyenangkan, adalah kota yang ingin sekali aku tetap tinggal. Bandung adalah kota ramai yang tidak memusingkan, yang tetap terasa adem ayem meski penuh dengan modernitas. Fasilitas kota ini lengkap, masih hijau, dan terutama kota ini adalah surga kuliner. Di Bandung aku belajar bagaimana berbagi kesulitan dan saling membantu dengan teman, saat keuangan sudah tidak disokong orang tua dan semuanya harus ditanggung sendiri. Di Bandung pulalah aku mengenal berbagai makanan yang berasal dari luar negeri, yang dulu sama sekali tidak pernah mampu terbeli oleh kantong mahasiswa sepertiku, makanan yang gaya, gaul, tapi tidak mengenyangkan.

TASIKMALAYA

Ternyata Bandung tidak ditakdirkan untuk kutinggali lebih lama. Aku akhirnya lolos tes CPNS dan mengharuskanku pindah lagi ke daerah Tasikmalaya. Pindah ke Tasikmalaya adalah berarti pulang ke kampung halaman sebab daerahnya yang berselahan sekali dengan Ciamis.

Tinggal di kota ini cukup menyenangkan. Kota kecil yang tidak ramai dan minim fasilitas, kota yang penuh dengan konflik batin bagiku, tetapi menyenangkan karena membuatku bisa dekat dengan orang tua, membuatku bisa menengok dan memperhatikan mereka, mengurus dan menyayangi mereka dengan nyata.

Di kota inilah aku menuliskan semua ini sekarang. Duduk di sebuah cafe kecil, sendirian, sembari makan steak saus padang.

Iklan

Penulis:

sekadar merapikan kenangan

4 tanggapan untuk “[Blogger Perempuan Network 30 Day Writting Challenge] Day 9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.