Diposkan pada BPN30dayChallenge2018, Uncategorized, Writting Challenge

[Blogger Perempuan Network 30 Days Writting Challenge : Day 11]

ABOUT MY COLLECTION

Tantangan hari ke-11 ini tentang barang yang dikoleksi di rumah. Kalau bicara tentang barang koleksi, yang pasti saya koleksi sih buku karena memang suka membaca sejak kecil.

Novel dan komik

Novel dan komik adalah jenis buku yang saya koleksi. Tidak aneh ya, sebab memang jenis buku yang menyenangkan untuk dibaca. Sebenarnya saya juga berminat membaca buku-buku tentang komputer dan ensiklopedia-ensiklopedia, hanya saja biasanya saya membaca buku-buku itu di perpustakaan, atau di Gramedia, kan suka ada ya buku sampel yang udah dibuka plastiknya, jadi biasanya numpang baca aja di sana sampai selesai, gak dibeli, yang dibelinya tetep novel.  Itulah kenapa saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam di Gramedia dan itu juga alasan kenapa biasanya saya tak pernah mengajak siapapun ke Gramedia, soalnya pasti boring nungguin saya membaca, selain juga karena di antara teman-teman yang dekat tidak ada yang memiliki minat yang sama terhadap buku. Jadi, kalau pergi bersama teman pun, biasanya bareng-barengnya makan dan belanja saja, selanjutnya saya akan pergi ke Gramedia sendirian dan mereka pulang.

Mengapa mengoleksi novel dan komik? Jadi sebenarnya saya memiliki keinginan untuk membuat perpustakaan pribadi di rumah dengan konsep semacam taman bacaan yang dibuka untuk umum. Alangkah menyenangkan apabila nanti banyak orang, tua-muda, remaja dan anak-anak datang ke rumah saya untuk membaca. Saya akan menyatukannya dengan cafe dan taman sehingga mereka bisa membaca dengan santai. Dengan begitu barangkali minat baca bangsa Indonesia bisa meningkat. Nah, dalam rangka mewujudkan cita-cita luhur itu, maka  sejak kuliah saya mulai mengumpulkan novel dan komik. Dengan sisa uang bekal yang tidak seberapa, itu pun hasil berhemat, saya selalu datang ke berbagai pameran buku di Yogyakarta. Lumayan, punya uang seratus ribu saja bisa dapat banyak novel dan komik, sebab ada banyak komik yang bahkan harganya hanya lima ribuan. Sampai sekarang pun saya masih suka datang ke berbagai pameran buku biar bisa memborong buku dengan harga diskon. Selain itu, saya juga memprogramkan one month two books, minimal dalam satu bulan membeli dua buku.

Saya ingat waktu SMA, saya dan sepupu saya biasa datang ke taman bacaan di Ciamis dan meminjam buku untuk tiga hari. Biasanya kami menyewa banyak komik dan majalah. Waktu itu majalah yang suka kami sewa adalah majalah Annida dan  Aneka Yess. Senang sekali rasanya waktu itu datang ke taman bacaan dan menyewa buku untuk dibaca bareng-bareng temen di pesantren (waktu SMA saya tinggal di pesantren tapi sekolah di sekolah umum). Dari situlah saya terinspirasi ingin punya taman bacaan sendiri, nantinya siapapun tidak perlu menyewa, boleh meminjam dan membacanya.

Tupperware warna hijau

Nah selain buku, barang yang saya koleksi di rumah adalah barang-barang dari tupperware, khusus yang berwarna hijau. Dari mulai botol minum, gelas, piring, sendok, garfu, toples, mangkuk, dll. semuanya berwarna hijau.

Souvenir dan undangan pernikahan

Ini sih sebenarnya bukan hal yang sengaja dikoleksi. Namun karena kalau pergi ke undangan biasanya dikasih suvenir berupa gantungan kunci, kipas, miniatur boneka pasangan, gelas, dll. tanpa sengaja semua itu terkumpulkan dan menjadi banyak karena saya tidak membuangnya ataupun menggunakannya. Jadi semuanya saya taruh saja di suatu kotak khusus menyimpan suvenir pernikahan. Oh ya, saya juga sebenarnya tanpa sengaja mengumpulkan undangan pernikahan dari orang-orang yang mengundang saya sejak SMA, karena tak pernah dibuang, jadinya banyak sekali undangan pernikahan yang terkumpul, dari mulai yang sepertinya harganya murah sampai yang mahal. Mungkin tadinya buat referensi, contoh undangan pernikahan, hehe.

Struk belanjaan, struk makan, dll.

Haha, ngaco banget ya kayak gini dikoleksi, haha

Nah, ini juga bukan koleksi sih, tapi tau-tau terkumpul banyak karena tak pernah dibuang. Biasanya setelah belanja saya taruh struk belanjaan itu di dalam dompet sampai berjejal di dalam dompet dan membuat dompet terlihat tebal. Orang mungkin mengira tebal oleh uang, padahal, itu dompet tebal oleh struk belanjaan. Setelah dompet terasa sesak oleh struk, biasanya saya pindahkan struk-struk itu ke dalam stopmap bertali, apa sih ya namanya, pokoknya itu kayak tempat menyimpan file-file kertas, nah saya menggunakannya untuk menyimpan struk belanjaan dari hari ke hari, minggu ke minggu, sampai bertahun-tahun.  Bukan hanya struk belanjaan sebenarnya, tetapi juga struk makan, struk pembayaran sesuatu, tiket nonton, tiket bus, tiket kereta, tiket masuk tempat wisata, tanda terima dari kantor pos, tanda terima dari JNE, sampai bukti pembayaran uang kuliah setiap semester beserta KRS (Kartu Rencana Studi) setiap semester pada zaman kuliah dulu, pun masih ada dan lengkap.

Nah, itu dia koleksiku, haha. Apa koleksimu kawan?

Iklan

Penulis:

sekadar merapikan kenangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.