Diposkan pada Catatan Perjalanan, Puisi

Pantai Mawun

Bagaimana harus kupuisikan pantai ini?

Memuja keindahannya dan memperumpamakannya denganmu? Ah, aku pasti bercanda dan kau akan tertawa karenanya

Ingin sekali kumetaforakan birunya langit, hamparan pasir yang memucat, atau toska laut dengan renyahnya tawamu,

Ingin sekali kukatakan bahwa denyar ombak yang hilir mudik itu adalah aku yang sedang mencoba menemukan jejak kaki yang kau tanggalkan waktu itu di antara bulir-bulir pepasir,

Namun sepertinya aku tlah kehabisan kosakata.

Kau tahu? Pantai ini adalah seuntai puisi yang secara pribadi ditulis langsung oleh Tuhan dengan diksi yang tak pernah ada dalam kamus manapun.

Bukankah Tuhan begitu puitis?

Sedangkan kau? Adalah larik-larik dalam bait puisiku yang seharusnya kuhapus

Dan aku, hanyalah seorang pemuja yang miskin kata.

Iklan
Diposkan pada Catatan Perjalanan

Mencuri senja, memanggang muka, meluruh peluh di tanahmu : sebuah catatan perjalanan

Berpikir tentang Sumatera adalah memunculkan kembali segenap ingatan tentangmu.

Pada libur weekend kemarin, aku menyempatkan diri untuk menjejak kaki di tanahmu. Tanah Sumatera.  Sebuah perjalanan yang seharusnya kulakukan bertahun lalu manakala kau melafalkan kalimat yang hingga saat ini masih bergaung di telingaku, “Kalau kita menikah, kau maunya tetap tinggal di Jawa?”. Ya, semestinya perjalanan ini kulakukan bertahun lalu, menuju rumahmu, menemui ibumu. Namun takdir menggariskan aku melakukan perjalanan ini minggu lalu, pun bukan menuju rumahmu yang sudah jadi rumah perempuan lain, bukan pula menemui ibumu yang sekarang menjadi ibu bagi perempuan lain, tapi menuju Krakatau, gunung di tengah Selat Sunda yang selalu kau banggakan dulu, saat kau bercerita tentang tanahmu.

Jumat lalu, 29 September 2017 aku berangkat terburu sepulang sekolah menuju pool bus Budiman untuk berangkat menuju Pelabuhan Merak, pelabuhan yang menghubungkan tanahku dengan tanahmu. Dari Tasikmalaya, aku berangkat sendiri dan akan meneruskan perjalanan ke Merak dari Terminal Leuwipanjang bersama seorang teman yang sudah menungguku di Bandung. Aku dan Fani, temanku itu, ikut open trip Krakatau, dan kami harus tiba di Merak pada pukul 23.00 sebagai titik awal perjalanan kami.

Bandung macet, dan itu membuat bus Arimbi Bandung-Merak yang kami tumpangi berjalan layaknya keong. Hujan deras mengiringi perjalanan kami. Alhasil, itu membuat kami cukup panik karena estimasi perjalanan yang seharusnya enam jam bisa jadi lebih panjang. Bus baru berjalan layaknya sebuah bus ketika meninggalkan Kota Bandung dan melaju di Tol Cipularang. Lega, meski tetap kami yakin akan tiba di Merak lebih dari pukul 23.00.

Benar saja, tepatnya pukul 01.00 dini hari kami baru tiba di Merak. Untung saja calon teman-teman seperjalanan kami masih menunggu. Oh iya, itu adalah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Merak. Katro memang. Padahal itu adalah tempat dimana kamu pulang pergi Jawa-Sumatera semasa kuliah dulu. Yang kubayangkan malam itu, adalah bersamamu menuruni bus dan lalu berjalan bergandengan menuju pelabuhan, lantas aku mampir ke toilet dan kamu membeli tiket. Yang terjadi kemudian adalah kita menyusuri lorong panjang menuju tempat kapal berlabuh, lalu sembari menunggu kapal tiba dan memarkir, kita berfoto-foto mengabadikan momen berlatar kerlip lampu kapal dan gemerlap Jakarta di kejauhan. Kemudian kau menggandeng tanganku menaiki kapal besar, berdesakan, dan kita duduk di sebuah ruangan ber AC, tidur, untuk kemudian bangun di Bakauheni. Namun kau tak ada di sini. Semuanya memang terjadi seperti itu, tapi bukan kamu yang membersamaiku menyebrang, melainkan teman-teman.

Kami tiba di Pelabuhan Bakauheni pukul 05.00 keesokan harinya. Dari sana kami menaiki angkot menuju Dermaga Canti. Kubayangkan, pastilah dulu jalan ini adalah jalan yang selalu kau lalui saat pulang mudik. Mungkin kau pernah duduk di angkot yang sama. Atau mungkin kau menaiki bus besar di depan sana. Ah, kuhirup udara dalam-dalam, mencoba merasakan udara Sumatera yang menjadi nafasmu. Sengaja kuambil tempat duduk di dekat jendela, supaya aku bisa melihat dan mencatat lamat-lamat jalan-jalan yang sering kau lalui.

Setelah satu jam, kami tiba di Dermaga Canti, Kalianda, Lampung, dan kami harus menyeberangi laut kembali menuju Pulau Sebesi. Kami menaiki kapal kecil, semua penumpang tertidur, tapi kantuk tak mampu membuatku mengabaikan gelombang laut dan ayunan kapal juga tebakan-tebakan dalam hatiku tentang di tanah yang manakah kamu dulu tinggal.

Pukul 09.00 kami sampai di Pulau Sebesi, sebuah pulau kecil dengan beberapa rumah yang dijadikan homestay. Kesan pertamaku adalah bahwa pulau itu tampak biasa saja, dan cukup berantakan. Sebuah desa biasa di pinggir pantai. Kami diberi sarapan seharga Rp 15.000,00 dengan nasi dan lauk berupa telur balado dan tempe goreng. Lalu kami disediakan homestay yang sekamarnya kami isi delapan orang. Lima perempuan, tiga laki-laki. Aku, Fani, Ikbal, Adel, Sapta, Rizki, Dhani, dan Ardi.

Setelah duhur kami dibagi alat snorkeling yang kami sewa seharga Rp 75.000,00/dua hari. Lalu kami menaiki kapal menuju Pulau Sebuku. Ya, itu adalah spot snorkeling pertama kami. Perjalanan sekitar satu jam dan matahari tepat di ubun-ubun. Kami dipanggang di atas kapal murni tanpa penghalang. Aih, kulit akan semakin menyokelat. Panasnya luar biasa. Otomatis, tiba di Sebuku, aku langsung nyebur. Menyambangi ikan-ikan dan rumput laut. Terlentang sesekali memandangi langit. Menenggelamkan diri kembali.

Sorenya kami menghabiskan senja di Pulau Umang-umang, pulau kecil di tengah laut, yang sekelilingnya berupa pantai dengan pasir putih. Pulau yang indah. Apalagi dihiasi matahari yang sedang ditelan lautan di balik gunung. Betah di sana. Tempatnya juga hanya 15 menit naik kapal dari Pulau Sebesi.

Malamnya, karena lelah dan ngantuk berat, setelah sholat isya aku langsung pulas. Baru terbangun dini hari karena hujan deras. Seharusnya, pukul 03.00 dini hari kami berangkat menuju Krakatau, tapi karena derasnya hujan, kami tertahan di kasur homestay.

Pukul 06.00 pagi barulah kami memulai perjalanan menuju Krakatau. Tentu saja dengan kapal yang kemarin juga. Cuaca pagi itu masih menyisakan mendung sisa hujan semalam. Kami duduk di pinggir sebelah atas kapal menjulurkan kaki ke laut. Di tengah perjalanan, hujan turun lagi. Semuanya masuk ke dalam kapal. Aku sendiri hanya jongkok di emperan karena kapal sudah penuh. Perjalanan ternyata tak sesingkat penyebrangan sebelumnya, ini sangat lama, dan gelombang laut yang pasang menggoyang perut kami yang belum diisi sarapan. Cuaca tetap mendung, udara sangat tidak enak, dinginnya terasa aneh, gelombang pasang semakin menjadi, kapal kami meliuk-liuk sebentar tumpah ke kanan sebentar tumpah ke kiri, seolah laut sedang mengamuk karena kami mengganggu tidurnya. Kontan mereka yang duduk di dalam kapal mulai mabuk perjalanan. Banyak yang lalu pindah keluar dan memuntahkan isi perut ke laut. Aku sendiri perut serasa dikocok-kocok, meski tidak sampai muntah. Sungguh perjalanan yang meletihkan. Dua jam lebih kami baru tiba di Krakatau atau tepatnya anak gunung Krakatau.

Kami menyantap sarapan nasi box yang kami bawa dari Sebesi setibanya di Pulau Anak Krakatau. Pulau yang sunyi di tengah laut dengan gunung menjulang cukup tinggi. Ya, Krakatau sudah tiada sejak meletus puluhan tahun lalu, dan kehadirannya kemudian digantikan oleh munculnya Anak Krakatau yang seolah lahir dari perut laut.

Kami trekking sekitar satu jam. Lumayan mengguyurkan peluh apalagi aku yang jarang olahraga. Puncak anak Krakatau masih mengepulkan asap karena perutnya menyimpan lahar panas. Bau belerang cukup menyengat tercium. Dan kami, aku, Fani, Rizki, Dhani, serta Ardi, terduduk melepas lelah di atas bongkahan batu memandang hamparan laut yang mengelilingi Anak Krakatau. Sembari mencoba mengakrabkan diri sebab kami adalah teman baru. Orang-orang kebanyakan sibuk berfoto. Ada juga wisatawan asing berkulit bule yang sepertinya sedang berpacaran. Ah, cuaca hari itu sangat syahdu. Langit berselimut kabut. Tapi pertemanan kami terasa hangat.

Kami meninggalkan Krakatau menuju Pulau Lagoon Cabe pada sekitar pukul 10.00. Hanya butuh waktu setengah jam untuk tiba di spot snorkeling itu. Cuaca mulai membaik. Kami ber-snorkeling ria bermain dengan para ikan yang menari-nari gemulai. Sungguh lagoon cabe adalah spot snorkeling yang bagus. Ikannya banyak. Warna-warni berkelebatan di sekitar kepala kami. Sungguh menyenangkan, apalagi matahari mulai menampakkan diri.

Pukul 12.00 kami harus menghentikan keasyikan dan kembali ke Sebesi.  Cuaca saat itu sangat panas dan kami dipanggang lagi di atas kapal sepanjang terombang ambing di lautan sampai-sampai baju kami yang basah mengering dengan sendirinya. Tiba di Sebesi pukul 14.00 kami disambut dengan sayur asem, ikan laut, dan tempe goreng. Sederhana tapi nikmat untuk perut yang lapar dan lelah. Apalagi makannya di bawah pohon rindang menghadap lautan yang beriak tenang lengkap dengan semilir angin yang sepoi. Aih. Sungguh merupakan romansa jika aku duduk di sana denganmu. Loh?

Pukul 16.00 kami memulai perjalanan pulang kembali ke Dermaga Canti. Panas, tentu saja. Namun perjalanan menyebrang ini sungguh diwarnai merah senja. Matahari membuat langit merona mengantar kepulangan kami.

 

 

 

 

 

 

Diposkan pada Catatan Perjalanan

Pendakian Gunung Guntur 2249 mdpl : Si kecil yang menggigit

Jauh-jauh hari tanggal merah 5-6 Mei ini sudah kutandai untuk acara liburan, gunung atau pantai. Temanku Fani mengajakku eksplore pantai di Gunung Kidul. Aku udah setuju. Namun tetiba rencana itu jadi agak sulit terealisasi karena satu dan lain hal. Kemudian aku membuat plan B yakni mendaki Gunung Merapi. Temenku di Boyolali udah siap menemani pendakian Merapi ini dan aku sendiri membawa seorang teman, Anay, yang siap berangkat. Namun ternyata rencana ini pun harus gagal terealisasi karena kami tidak mendapat bus untuk berangkat ke Boyolali. Akhirnya aku dan Anay sepakat untuk mendaki Gunung Guntur di Garut bersama senior kami, Om Enda.

Kamis, 05 Mei 2016

Kami sepakat akan packing di Basecamp Palagga pada pukul 10.00 WIB. Namun apa daya aku baru nyamper Anay ke rumahnya pada pukul 11.00 WIB. Kami belanja logistik kemudian packing bersama di basecamp. Pada pukul 13.30 WIB kami baru mulai berangkat menuju Garut dengan mobil Om Enda. Aku duduk di belakang dan Anay di depan. Perjalanan menuju Garut akan memakan waktu sekitar 3 jam hingga aku sempat tertidur dalam perjalanan ini.

IMG_20160505_134031

Sekitar pukul 16.30 WIB kami tiba di Garut. Kami pun berhenti dulu untuk istirahat, makan, dan sholat di sebuah rumah makan di kaki Gunung Guntur. Dari tempat ini puncak Gunung Guntur sudah melambai-lambai.

IMG_20160505_164533

IMG_20160505_172147

Pukul 17.30 WIB selesai makan kami pun melanjutkan perjalanan yang hanya tinggal sedikit lagi menuju basecamp pendakian. Dari jalan raya kami berbelok ke jalan kecil di antara rumah-rumah warga lalu kami menyusuri jalan berlubang dan tidak rata yang di kiri jalannya adalah bongkahan batu-batu besar. Selesai dengan jalan yang belum diaspal itu pun kami tiba di kaki Gunung Guntur dan melapor kepada RW setempat sekaligus menitipkan mobil di sana.

Karena sudah hampir adzan Maghrib maka kami pun memutuskan untuk memulai pendakian setelah sholat Maghrib. Untunglah cuaca malam itu cerah. Biasanya kalau menyentuh air di kaki gunung dinginnya serasa menyentuh es, namun tidak di Guntur. Airnya sama sekali tidak dingin. Kami pun menyelesaikan sholat Maghrib tanpa sensasi dingin. Lantas pada pukul 18.45 WIB kami memulai pendakian.

Beberapa menit menyusuri jalan desa, kami lantas harus melakukan registrasi pendakian di Basecamp Pendakian Gunung Guntur. Di sana kami harus membayar pendaftaran sebesar Rp 15.000 per orang. Dari basecamp pendakian kami harus belok kiri menyusuri jalan berbatu koral yang menanjak. Konon katanya kalau hujan besar jalan tersebut menjelma menjadi sungai yang membanjir. Malam itu banyak sekali pendaki yang sedang dalam perjalanan naik juga turun.

Setelah berjalan beberapa lama kami melewati lokasi penambangan pasir. Di sini lumayan terang sehingga kami tidak perlu menyalakan head lamp maupun senter. Di sebelah kiri jalan, tampak mobil-mobil besar juga alat-alat berat pertambangan beronggok-onggok. Lantas kami juga melewati gunungan batu yang sepertinya bagus untuk dijadikan latar berfoto. Namun karena malam, kami tidak berfoto di sana.

Karena lelah kami lantas beristirahat di sebuah gubuk. Dari sini pemandangan Kota Garut tampak indah dengan kerlap-kerlip lampu menyerupai jutaan bintang. Dari sana kami lantas mulai masuk setapak menuju hutan. Jalanan terus menanjak dengan tanah yang lembab. Sepanjang jalan terdengar suara deras air mengaliri sungai di sebelah kiri tebing tempat kami berpijak. Ternyata di sepanjang jalur pendakian ini sudah banyak warga yang mendirikan warung.

Jalur pendakian tidak seluruhnya menanjak, ada sedikit yang landai juga ada yang berupa turunan. Kami juga harus menyebrangi sungai yang lumayan besar tanpa jembatan. Selepas sungai kami mendapati sebuah warung yang ternyata adalah warung terakhir.

Dari sana kami mulai mendapat tantangan cukup berat karena jalur pendakian adalah tanjakan dengan bongkahan-bongkahan batu. Kami harus merayap-rayap mendaki tanjakan batu yang rasanya tidak kunjung selesai ini. Rasanya benar seseorang yang pernah mengatakan bahwa Guntur adalah Si kecil cabe rawit. Lelahnya mendaki batu-batu ini terobati dengan pemandangan Kota Garut yang cantik dengan kerlap-kerlip lampunya yang menyatu dengan langit penuh bintang. Wuah, luar biasa mengobati sesak nafasku ini.

Sukses mendaki tanjakan berbatu ini, kami lantas mendaki sebuah tempat terbuka dengan hamparan ilalang maha luas. Yups, kami hampir tiba di area camp pos 3. Dari sini kami melihat pos 3 sepertinya sudah penuh dengan dome para pendaki. Hiruk pikuknya sudah terdengar begitu ramai. Karena lelah, kami lantas beristirahat di antara hamparan ilalang. Aku telentang menatap langit yang begitu cantik malam itu. Sementara keringat membanjiri mukaku.

IMG_20160505_215545

Beberapa pendaki sudah ada yang mendirikan camp di tempat ini. Mereka ramai mengobrol. Lantas setelah berjalan beberapa saat kami tiba di pos 3. Kembali kami melapor dan meninggalkan KTP di sana. Kami tiba di pos 3 pada pukul 21.45 WIB. Di sana kami langsung mencari tempat yang strategis untuk mendirikan dome. Cukup sulit karena area camp sudah hampir penuh. Setelah menemukan yang kami rasa lumayan, kami pun mendirikan dome dan lantas memasak air untuk menyeduh kopi dan memasak mie.

Pukul 24.00 WIB kami berangkat tidur. Guntur tidak terasa dingin sehingga sleeping bag kami gunakan bertiga saja. Sekitar pukul 03.00 WIB dini hari aku terbangun oleh suara para pendaki yang sudah sibuk untuk summit attack. Kami masih betah tidur sampai pukul 05.00 WIB karena memang kami sudah berencana untuk summit attack pada pagi sekitar pukul 08.00 WIB.

Setelah bangun kami pun berburu sunrise di pos 3.

IMG_20160506_054043

IMG_20160506_054117

IMG_20160506_060306_HDR

IMG_20160506_061451_HDR

Sekitar pukul 06.30 kami mulai memasak. Beberapa yang kami masak adalah nasi, mie goreng, dan chicken nugget. Tak lupa masak air untuk menyeduh susu dan kopi. Selesai masak, kami makan di atas batu yang berada di depan tenda kami.

IMG_20160506_063347_HDR

IMG_20160506_064822

Selesai makan, kami bersiap untuk summit attack. Dari tempat kami duduk, puncak 1 tampak sudah begitu dekat. Kupikir sepuluh menit saja cukup untuk mendaki ke puncak. Namun ternyata dugaan kami salah besar. Yang tampak dekat itu ternyata sangat tinggi dengan kemiringan luar biasa. Mungkin sekitar 75 derajat. Treknya bukan main menyulitkan karena terdiri atas pasir dan kerikil yang menggelincirkan. Kami harus memilih-milih yang akan kami pijak supaya tidak ikut terlongsorkan bersama pasir dan kerikil-kerikil tajam. Yang kuperkirakan sepuluh menit kenyataannya adalah dua jam empat puluh lima menit. Yups, nyaris tiga jam kami mendaki 75 derajat kerikil dan pasir itu. Benar kata Anay, dekat di mata jauh di fakta, begitu istilah untuk trek ini. Guntur benar-benar si kecil cabe rawit. Pendek sih, hanya 2.249 mdpl, tapi treknya nyiksa. Cukup bikin lo sesak nafas.

IMG_20160506_081751IMG_20160506_081857_BURST11IMG_20160506_082101

IMG_20160506_082121_BURST4

Tiba di puncak 1 pada pukul 10.45 WIB kami langsung mendaki lagi untuk melihat kawah. Ternyata ketika tiba di puncak 1 pendaki akan tahu bahwa ada puncak 2 yang artinya harus mendaki seperti tadi lagi. Lalu setibanya di puncak 2 akan tampak puncak 3, dan seterusnya sampai puncak 5. Puncak-puncak tersebut tidak akan terlihat jika belum sampai di puncak sebelumnya. Artinya, puncak 2 tidak akan terlihat kalau belum sampai di puncak 1.

Begitulah pada akhirnya kami hanya mendaki sampai puncak 1. Rasanya enggan untuk mendaki dua kali lipat yang seperti tadi.

IMG_20160506_111247_HDR

IMG_20160506_111536_HDR

IMG_20160506_111650_HDR

IMG_20160506_111752_BURST16

IMG_20160506_111802_HDR

IMG_20160506_112206_HDR

Setelah puas berfoto-foto dan makan cemilan di puncak, kami pun turun karena waktu sudah menjelang sore. Beberapa pendaki ada juga yang camp di puncak 1 bahkan ada yang lanjut ke puncak 2 dan 3.

Trek turun ternyata sama dahsyatnya. Namun lebih mudah daripada ketika naik tadi. Kami menyusuri kembali pasir dan batu kerikil yang tajam dan menyakiti kaki. Badan harus agak miring ke belakang supaya tidak jatuh tersungkur. Bagian belakang telapak kaki harus dimasukkan ke dalam tumpukan pasir dan kerikil tersebut agar kami tidak terjatuh. Kadangkala, saat trek begitu sulit kami harus melakukan prosotan agar terbawa ke bawah begitu saja oleh pasir. Menyenangkan meski mengerikan. Alhasil kaki sakit karena kerikil-kerikil tajam itu masuk ke dalam sepatu. Oh ya, naik Guntur memang wajib pake sepatu, kalo nggak, bukan cuma sandal gunungmu yang bakal ancur, tapi juga kakimu.

Trek turun ini benar-benar rawan, kalo ga tersungkur maka risiko lainnya adalah tergelincir meluncur bebas jauh ke bawah sana. Maka harus super hati-hati. Perjalanan turun dengan super hati-hati ini kulewati selama satu jam.

IMG_20160506_124130_HDR

IMG_20160506_124211_HDR

IMG_20160506_125009_HDR

IMG_20160506_125031_HDR

Sukses menuruni tumpukan pasir dan kerikil tajam 75 derajat ini kami langsung bersiap pulang. Tiba di tempat camp kami bertemu serombongan teman yang juga anak Palagga. Mereka adalah anggota baru yang sekarang duduk di kelas X SMA. Mereka membantu kami untuk packing.

IMG_20160506_141010_HDR

Selesai packing kami pun pamit untuk turun. Kami juga tak lupa melapor ke pos 3 sambil mengambil KTP yang kemarin ditinggalkan.

IMG_20160506_141950_HDR

Dari sana kami menuruni hamparan ilalang dan juga tanjakan batu yang tadi malam. Ternyata batu-batu ini lebih menyulitkan saat turun karena seringkali keril tersangkut di batu-batu ini dan mendorongku hingga nyaris tersungkur. Jalur pulang juga agak macet karena banyaknya pendaki yang naik juga turun. Gerimis hujan juga mengiringi perjalanan turun ini.

Perjalanan turun ini kami selesaikan dalam waktu dua jam. Kami tiba di kampung terdekat pada pukul 16.30 WIB. Setelah istirahat dan beres-beres kami pun kami melanjutkan pulang ke Ciamis pada pukul 17.30 WIB.

Berikut adalah foto-foto yang kami ambil di Gunung Guntur.

IMG_20160506_062005IMG_20160506_062118_HDRIMG_20160506_062237_HDR

IMG_20160506_062721_HDR

IMG_20160506_062858_BURST5

IMG_20160506_063146

IMG_20160506_063501_HDR

IMG_20160506_081751

IMG_20160506_082246_HDR

IMG_20160506_082402_BURST1IMG_20160506_082853_HDRIMG_20160506_083956_HDRIMG_20160506_095728_HDRIMG_20160506_111736_HDRIMG_20160506_111926_HDR

 

 

 

Diposkan pada Catatan Perjalanan

Pendakian Gunung Ciremai 3.078 mdpl : catatan masa SMA

Pendakian Gunung Ciremai adalah ekspedisi wajib di ekskul pencinta alam sekolahku. Aku bersekolah di SMA Negeri 1 Ciamis dan ekskul pencinta alamnya adalah Palagga (Pencinta Alam Anak Gunung Galuh). Pertama masuk SMA saya langsung jatuh cinta pada ekskul ini. Mungkin itu yang disebut love at first sight. Saya bertekad harus mengikuti sungguh-sungguh ekskul ini. Karena ekskul ini pulalah saya kemudian menjadi pencinta warna hijau dan memegang teguh komitmen untuk tidak pernah membuang sampah sembarangan.

Ekspedisi Ciremai adalah ekspedisi rutin yang selalu dilaksanakan setiap tahun. Tahun 2003 adalah giliran angkatanku yang melakukannya. Oh ya, aku berada di angkatan 12 Palagga atau kami biasa menyebutnya Hantu 12. Setiap angkatan memang disebut hantu karena lambang organisasi kami adalah burung hantu. Tahun ke 12 Palagga beranggotakan 22 orang, tapi yang mengikuti ekspedisi Ciremai hanya delapan orang. Teman yang lain tidak bisa ikut karena terbentur izin orang tua. Maklumlah, waktu itu kami masih siswa kelas dua SMA sehingga izin orang tua adalah harga mati.

Jauh-jauh hari kakak-kakak Hantu 11 sudah membantu mengarahkan persiapan kami sedemikian rupa. Mereka memberikan pengetahuan tentang jalur pendakian, membagi peralatan kelompok yang harus dibawa, menata peralatan pribadi, packing bareng, termasuk hal-hal yang harus dan tidak boleh dilakukan selama di sana. Setiap sore kami berkumpul untuk membicarakan persiapan pendakian. Kakak-kakak juga memberi kami pinjaman peralatan seperti carrier, matras, dll. Serunya, saat-saat berkumpul seperti ini juga diwarnai dengan cerita kakak-kakak Hantu 11, 10, dan alumni hantu-hantu sebelumnya tentang pengalaman mereka saat ekspedisi Ciremai. Yang paling seru adalah cerita-cerita horor dari mereka yang sampai sekarang aku ga tahu apakah cerita benar atau hanya fiktif belaka.

ciremai jalur

Kami diminta menggambar jalur pendakian di buku agenda Palagga masing-masing. Rencananya kami akan mendaki Ciremai jalur Palutungan dan turun di jalur Linggarjati. Jalur ini memang jalur tetap Palagga setiap tahun. Sebenarnya untuk pendakian ini aku sendiri pun kesulitan mengantongi izin. Pasalnya masa itu aku tinggal di asrama pesantren, tentu saja pihak pengurus di pesantren tidak memberiku izin untuk mendaki. Namun waktu itu tekadku sangat bulat. Segalanya sudah kupersiapkan. Dengan ataupun tanpa izin aku tetap akan ikut, begitu ujarku kala itu. Malam harinya dengan dibantu beberapa teman di pesantren, aku mengambil kunci pintu belakang agar pagi hari setelah sholat subuh aku bisa kabur lewat pintu belakang asrama putri. Tentu saja itu karena tidak memungkinkan untuk keluar dari gerbang depan apalagi dengan menggendong carrier.

Pagi harinya setelah sholat subuh aku mengendap-endap keluar lewat pintu belakang asrama putri. Teman yang membantuku keluar akan mengunci kembali pintu dan mengembalikan kuncinya ke tempatnya semula. Aku naik angkutan kota ke sekolah dan lantas packing ulang bersama seluruh tim.

Tim pendakian ini terdiri atas sembilan orang, yakni aku, Ani Siti Yuningsih, Fani Sofiani, Ela Hayati, Eka, Jono, Endang, Bani, dan Om Enda. Om Enda ini bertindak sebagai pembimbing kami. Dia adalah kakak kami dari Palagga Hantu 2. Kami seluruh tim pendakian berkumpul sejak pagi di sekolah untuk checking ulang peralatan dan apel pelepasan secara resmi oleh pembina Palagga, Pak Opik. Tentu saja teman-teman lain yang tidak akan ikut mendaki pun ikut membantu dan hadir di sekolah. Sebelum berangkat, kami berfoto dulu di depan sekolah.

depan sma
Atas kanan-kiri : Eka, Aku, Bani (di belakangku), Pak Taofik (tengah berkaca mata), Ela, Ani. Bawah kanan-kiri : Endang, Fani, Jono, Karwati

Kami berangkat dari terminal Ciamis yang tidak jauh dari sekolah kami menuju daerah Kuningan dengan kendaraan elf jurusan Ciamis-Kuningan. Waktu tempuh Ciamis-Kuningan sekitar tiga jam. Aku lupa berapa ongkos elf waktu itu. Kami turun di daerah Cigugur sebagai titik awal pendakian kami. Dari sana kami berjalan kaki menyusuri jalan beraspal menuju Palutungan. Aku ingat waktu itu kami sholat ashar di sebuah masjid di daerah sana. Selesai sholat kami memulai pendakian. Kami menyusuri perkebunan warga, kalo ga salah waktu itu didominasi tanaman kol. Ini sudah cukup melelahkan karena terus-terusan menanjak. Selesai dengan area tanaman kol kami mulai masuk hutan yang cukup rapat. Rencananya kami akan melakukan camping pertama di Cigowong, tempat yang cukup strategis karena masih ada sumber air. Konon, setelah Cigowong ini kami tidak akan lagi menemukan sumber air kecuali turun lagi ke gua walet.

Pada hari yang sudah gelap, mungkin sekitar magrib kami tiba di Cigowong (1450 mdpl) dan mendirikan dome. Kami mendirikan dua dome. Di sini kami bisa memasak dengan nyaman karena tidak jauh dengan sumber air. Aku ingat ada sebuah sungai yang mengalir di sini. Paginya, beberapa temanku berdarah-darah pada punggung dan kakinya karena dikerubuti sepasukan lintah saat tidur. Yang paling parah adalah Bani.

ciremai8
Makan mie di camp Cigowong

ciremai11

Paginya sekitar pukul 07.00 kami melanjutkan pendakian menuju Batu Kuda. Aku lupa berapa lama kami sampai di sana. Yang pasti Batu Kuda ini berada pada ketinggian 1575 mdpl. Konon katanya kami tidak boleh berlama-lama di sini karena terkadang ada asap beracun. Dari sini kami melanjutkan perjalanan menuju pos Pangguyangan badak  pada ketinggian 1800 mdpl.

ciremain
Break di pos Pangguyangan Badak

Di pos Pangguyangan Badak kami cuma break sebentar. Sekadar duduk-duduk melepas lelah, minum air, atau makan makanan ringan.Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju pos Arban di ketinggian 2050 mdpl.

ciremai4
Sepertinya ini adalah Pos Arban

Di pos Arban kami beristirahat sambil memasak juga. Masak mie tentu saja. Sepanjang perjalanan kami beristirahat secara teratur. Kami berencana akan camping lagi di pos pasanggrahan. Cape dan sesak nafas kami nikmati dengan canda tawa. Di beberapa pos kami berhenti membuka perbekalan. Dari Arban kami terus menanjak sampai menemukan tanjakan dahsyat yang disebut tanjakan asoy. Tanjakan yang benar-benar asoy membuat kami nyaris kehabisan nafas. Tanjakan Asoy ini berada pada ketinggian 2200 mdpl.

ciremai
Wajah-wajah lesu pasca disiksa Tanjakan Asoy

Aku tak ingat jam berapa kami tiba di pos pasanggrahan (2.650 mdpl). Yang pasti kami camping lagi di sini. Malam harinya kami bermain kartu. Aku ingat waktu itu aku tak bisa tidur sepanjang malam karena sewaktu main kartu kami taruhan dan temanku Jono sesumbar bahwa taruhan kami adalah kembali secara tiba-tiba ke Cigowong bagi yang kalah. Waktu itu aku kalah dan ketakutan sepanjang malam, takut tetiba bangun tidur sudah ada di Cigowong lagi. Karena itulah aku memilih untuk tidak tidur.

Paginya, setelah sarapan dan packing ulang kami melanjutkan perjalanan menuju Goa Walet  (2.950 mdpl). Dari sana kami langsung menuju puncak. Perjalanan menuju puncak ini benar-benar menohok jantung. Karena memang sejak awal jalur pendakian Ciremai tidak ada landai-landainya. Seluruhnya dari Palutungan hingga puncak adalah tanjakan tanpa henti. Sebelum puncak kami melewati tanjakan maha gila yang disebut tanjakan setan. Di tanjakan ini kami mendaki dengan tangan dan kaki. Oksigen yang semakin menipis menambah sesak nafas kami. Hidung dan pernafasan benar-benar terasa perih.

ciremai9
Break di tengah teror Tanjakan Setan

ciremai3

Kami akhirnya sampai di puncak setelah perjuangan dengan segenap kekuatan hingga titik darah penghabisan, hehe. Di puncak kami makan siang dan ziarah di makam pendaki yang meninggal di sana.

ciremai10ciremai14

puncak 2

Puncak Ciremai menghitam saat kami ke sana. Seluruh hutan edelweis hangus karena kebakaran beberapa bulan sebelumnya. Akibatnya kami tidak bisa menikmati pesona hutan edelweis Ciremai.

puncak 1

Dari puncak kami turun melalui jalur Linggarjati. Perjalanan turun kami tempuh selama 5-6 jam. Kami camp lagi di Cibunar karena kalau langsung turun ke daerah Linggarjati pun kami tidak akan mendapat kendaraan untuk pulang ke Ciamis. Di camp Cibunar (750 mdpl) terdapat rombongan pendaki dari Bekasi yang juga camp di sana.

ciremai7

ciremai5
Foto bersama pendaki dari Bekasi

Esoknya setelah sarapan kami melanjutkan perjalanan turun ke daerah Linggarjati. Aku ingat waktu itu kami menyusuri jalan desa hingga ke jalan raya untuk menemukan kendaraan umum. Waktu turun ke desa mataku terasa aneh memandang warna warni pemandangan kota setelah empat hari hanya melihat warna hijau dan cokelat. Lantas kami berfoto di depan gedung bersejarah, yakni Gedung Perjanjian Linggarjati.

ciremai_n

Setelah menemukan angkutan kami kembali ke Ciamis. Tidak lupa kami mampir dulu di Waduk Darma, objek wisata daerah Kuningan, Jawa Barat.

ciremai2

 

Diposkan pada Catatan Perjalanan

Tek Tok Gunung Papandayan : Satu hari jalan-jalan ceria di 2.665 mdpl

Jalan-jalan ceria ke Gunung Papandayan ini sebenarnya tanpa perencanaan sama sekali. Ceritanya seorang teman tiba-tiba menghubungiku. Namanya Siti Fatonah. Mbak Sifat ini adalah teman yang kukenal saat mendaki Gunung Semeru pada tahun 2012. Lebih dari empat tahun tidak pernah bertemu, Mbak Sifat yang baru saja kembali dari tugasnya di Wakatobi ingin mampir ke Tasikmalaya sebelum pulang ke rumahnya di Boyolali. Mbak Sifat memintaku mengantarnya ke Gunung Papandayan saat berada di Tasikmalaya.

Rabu, 27 Januari 2016

Sekitar pukul 05.30 kami mulai berangkat dari kosanku di Manonjaya menuju Gunung Papandayan di Kabupaten Garut. Kami akan melakukan perjalanan dengan sepeda motor. Kuperkirakan perjalanan akan ditempuh selama kurang lebih tiga jam.

20160127_170206
Perkenalkan, Ririn berjaket ungu dan Mbak Sifat berjaket orange

Di perjalanan Mbak Sifat ingin mampir dulu di Menara Bambu yang dibuat sebagai miniatur Menara Eifel di daerah Singaparna. Kami tiba di Singaparna sekitar pukul 06.30 WIB. Di sana kami mengambil beberapa foto dan melanjutkan kembali perjalanan setelah merasa cukup puas. Tadinya mau sekalian sarapan di daerah itu, tapi tak ada yang menarik hati sehingga kami langsung melanjutkan perjalanan. Motor kami bawa secara bergantian.

20160127_064153
Di miniatur menara Eiffel Singaparna

Pukul 08.10 WIB kami tiba di daerah Sukarame, Garut. Di sana kami berhenti untuk sarapan. Kami memilih warung soto di depan kantor Kepala Desa Sukarame. Dan hanya karena ingin, kami juga membungkus gado-gado untuk bekal pendakian.

Jalan yang kami lewati sudah beraspal bagus. Tanjakan-tanjakan yang dulu banyak bolong-bolong dan menyulitkan sekarang sudah diperbaiki.

IMG_1630IMG_1628IMG_1626IMG_1632

Sekitar pukul 09.30 WIB kami tiba di tempat parkir Gunung Papandayan. Area parkirnya cukup luas dengan disertai warung-warung penjaja makanan dan oleh-oleh, juga mushola dan WC umum. Di sana juga ada pos penjagaan untuk registrasi pendakian.

IMG_1635

Setelah simaksi pendakian dan membeli kaos bertuliskan Papandayan Mountain seharga Rp 35.000,00, kami pun segera melanjutkan perjalanan menuju pos 1. Jalur yang kami lewati berupa jalan cukup lebar dengan bebatuan kerikil besar di sepanjangnya. Jalanan tidak terlalu menanjak tetapi tidak bisa disebut datar. Setelah melawatinya, jalanan menjadi sempit dan yang kami pijak adalah bebatuan hasil longsoran pada saat gunung ini meletus. Semuanya menjadi pemandangan bagus apalagi di sekelilingnya adalah tebing-tebing batuan kapur yang menambah pemandangan semakin memukau. Di kejauhan tampak kepulan asap kawah papandayan yang memutih. Bau belerang pun tercium tajam.

IMG_1636IMG_1643IMG_1644IMG_1647IMG_1648IMG_1662IMG_1672IMG_1673IMG_1674

Setelah berjalan beberapa menit, kami tiba di kawah papandayan yang mengepulkan asap. Di sini terdapat papan tugu bertuliskan ‘Kawah Papandayan’. Setelah melewati ini, perjalanan menyusuri batuan kapur hampir selesai. Sepanjang perjalanan ini kami berkenalan dengan seorang Ahjussi asal Korea Selatan yang sedang mendaki bersama menantunya. Ahjussi ini bercerita banyak tentang Korea Selatan juga operasi plastik di sana. Katanya dia juga sudah banyak mendaki gunung di Indonesia karena menantunya ini orang asli Indonesia. Pembicaraan kami begitu seru sampai tak terasa jalan berbatu putih kekuningan ini sudah selesai kami tuntaskan. Kami tiba di suatu pelataran yang terdapat percabangan jalur. Dari sana kami bisa memilih apakah akan mengambil jalur menanjak yang langsung ke hutan mati atau jalur landai ke pos 2 terlebih dahulu. Di sana terdapat papan penunjuk jalan, warung, dan WC umum.

IMG_1684

B612_20160127_105445

Kami memilih jalan landai menuju pos 2. Rencananya perjalanan pulang baru akan kami tempuh lewat jalur menanjak ke hutan mati tadi. Artinya kami akan turun dari sana. Ini kali ke dua aku ke sini sehingga jalur tersebut sudah kuhapal. Pendakian tetap kami lakukan berempat dengan Ahjussi Korea dan menantunya.

Setelah duduk sebentar di warung yang tutup di sana, kami melipir sebelah kiri warung mengikuti jalur yang cukup lebar. Setelah itu jalan terpotong oleh longsor sehingga kami harus turun melewati jalan di antara pepohonan.

IMG_1685IMG_1688IMG_1689IMG_1692

Setelah melewati turunan di antara pepohonan ini, kami tiba di sebuah sungai kecil dengan airnya yang sangat jernih. Dulu sungai ini cukup lebar dan membasahkan manakala aku melewatinya. Tapi sekarang mungkin karena proses alam, batuannya menjadi besar dan airnya dangkal. Kami tak perlu berbasah-basah menyebranginya.

IMG_1699IMG_1702

Puas berfoto kami pun melanjutkan perjalanan. Di seberang sungai kami disuguhi tanjakan yang sempit. Sukses menanjak ada percabangan jalan yang harus kami pilih. Kiri atau kanan. Aku pun memutuskan memilih kanan. Jalur ini biasanya dilewati juga oleh motor trail yang mengangkut hasil panen kentang para petani Papandayan.

Tanjakannya ternyata lumayan bikin ngos-ngosan. Ahjussi Korea meminta kami beristirahat terlebih dahulu karena dia mulai kelelahan. Aku juga merasa sudah cukup lelah. Jadilah kami duduk-duduk di pinggiran setapak menanjak itu sambil mendengarkan cerita Ahjussi Korea tentang negara dan wirausahanya.

Selesai dengan tanjakan ini kami kemudian menemukan jalanan berbatu koral yang lebar. Kutebak jalan ini dulunya menyatu dengan jalan yang tadi sebelum kami turun ke sungai. Namun karena longsor jalanan terputus sehingga kami harus turun menyebrangi sungai terlebih dahulu.

IMG_1706IMG_1707IMG_1713

Kami kemudian tiba di pos 2 yang berupa dataran agak luas dengan beberapa warung penjual makanan dan minuman. Ahjussi Korea membeli mie rebus di sini. Pemilik warung menyarankan kami untuk ke Tegal Panjang terlebih dahulu namun kami sudah memutuskan akan langsung ke Pondok Saladah.

B612_20160127_114052

Perjalanan menuju Pondok Saladah cukup sepuluh menit. Jalan yang kami lewati adalah setapak dengan pepohon rimbun di kiri kanan. Setelah melewati kerimbunan, kami menemukan tempat dengan view yang bagus di sebelah kiri. Nun jauh di bawah sana, di bawah tebing tempat kami berjalan, tampak sebuah air terjun dan mata air mini yang kurasa mengandung belerang. Warnanya tampak hijau kebiruan.

Beberapa saat kemudian kami tiba di Pondok Saladah. Sebuah tempat terbuka yang cukup luas dengan hamparan edelweis yang memukau. Tempat ini merupakan tempat yang sangat cocok untuk camping. Di sini juga terdapat beberapa warung.

IMG_1727IMG_1736

IMG_20160427_105243[1]

IMG_20160427_131159[1]

Di Pondok Saladah kami beristirahat di sebuah warung. Kami menyantap gado-gado yang kami bawa dari kaki gunung sembari mendengarkan cerita Ahjussi tentang keluarganya.

Ahjussi Korea tidak mau melanjutkan perjalanan ke Hutan Mati meskipun sudah kuyakinkan bahwa dari Pondok Saladah ke Hutan Mati tidaklah jauh juga tidak menanjak. Namun katanya beliau sudah sangat lelah sehingga kami akhirnya melanjutkan perjalanan berdua saja.

Setelah melewati rumpun-rumpun edelweis, kami tiba di sebuah tempat yang penuh pepohonan menghitam dengan daun yang meranggas. Inilah hutan mati yang eksotis.

IMG_1737IMG_1741IMG_1764IMG_1768IMG_1769IMG_1770IMG_1772

Setelah melewati hutan mati kami melanjutkan perjalanan menuju Tegal Alun. Kami bertanya-tanya kepada beberapa pendaki yang lewat tentang jalur menuju Tegal Alun. Jalurnya memang agak tersembunyi dan sulit ditemukan. Kami diminta mengikuti pepohonan yang diberi tanda tali rapia merah. Kami pun mengikutinya.

Jalur menuju Tegal Alun adalah tanjakan berbatu tanpa henti. Ada beberapa medan yang cukup sulit karena licin, ada pula beberapa pohon tumbang yang menghalangi jalan. Aku berkali-kali berhenti dan duduk di atas pohon-pohon tumbang ini karena lelah. Kiri kanan jalur adalah pepohonan yang rapat.

Beberapa menit kemudian kami tiba di Tegal Alun. Tempatnya berupa hamparan edelweis yang luas. Di sini sepi. Hanya ada satu rombongan pendaki yang akan turun. Kami pun hanya mengambil beberapa foto karena hujan sudah mulai turun. Akhirnya kami turun bersama dengan rombongan pendaki tadi.

IMG_1749IMG_1750

20160127_133605

IMG_20160427_131232[1]IMG_20160427_131534[1]

Kami turun dari Tegal Alun dengan diiringi rinai hujan. Untungnya tiba di hutan mati hujan reda. Kami melanjutkan perjalanan turun ke tempat parkir melalui tebing di samping kawah. Tebing ini lumayan curam karena licin dan berbatu yang mudah longsor manakala diinjak. Di kanan tebing ini kawah Papandayan menganga.

IMG_20160427_132614[1]IMG_20160427_132343[1]IMG_20160427_132315[1]IMG_20160427_132229[1]

IMG_20160427_132546[1]

IMG_1780IMG_1779IMG_1780IMG_1781IMG_1785IMG_1786IMG_1789IMG_1791IMG_1797IMG_1869

Sekitar pukul 16.30 kami tiba di parkiran dan lantas melanjutkan perjalanan turun untuk kembali ke Tasikmalaya. Berikut ini adalah foto-foto yang kami ambil di Papandayan.

IMG_1816IMG_1834IMG_1859IMG_1860IMG_1863IMG_186820160127_101828

IMG_20160427_132638[1]IMG_20160427_132817[1]IMG_20160427_132743[1]IMG_20160427_132506[1]IMG_20160427_132411[1]IMG_20160427_132137[1]IMG_20160427_132058[1]IMG_20160427_131935[1]IMG_20160427_131906[1]IMG_20160427_131832[1]IMG_20160427_131743[1]IMG_20160427_110858[1]

IMG_1678

Diposkan pada Catatan Perjalanan

Catatan Pendakian Gunung Slamet 3428 mdpl Jalur Bambangan : antara Badai Gunung hingga Serangan Babi Hutan

Berawal dari percakapan tentang rencana tahun baruan pada ulang tahun Palagga saat itu, saya tiba-tiba bersepakat akan ikut dalam rencana pendakian seorang kawan bernama Rega. Rega Razib M. Johara, nama lengkapnya, adalah teman saya di organisasi Palagga. Dia berencana akan mendaki Gunung Slamet bersama temannya yang bernama Wildan Sofari Darga yang biasa dipanggil Idong. Jadilah dalam rencana itu kami akan mendaki bertiga.

Jadilah kami membeli tiket kereta api Ciamis-Purwokerto dengan harga Rp 50.000,00 pada tanggal 24 Desember 2013 untuk keberangkatan esok siangnya. Untungnya saya yang membeli tiket terakhir masih bisa mendapat  tempat duduk yang bersebelahan dengan dua calon teman seperjalananku: Rega dan Idong.

Rabu, 25 Desember 2013

Kami janjian untuk packing bersama hari ini sejak pagi di basecamp Palagga SMAN 1 Ciamis. Kami packing dibantu teman Palagga yang lain, yaitu Om Enda, Anay, dan Azhar. Rega dan Idong sibuk ke sana ke mari membeli logistik. Kami mengumpulkan uang Rp 50rb per orang untuk membeli logistik.

Kereta kami akan berangkat pukul 15.15 dari Stasiun Ciamis yang tidak jauh dari almamater kami SMAN 1 Ciamis. Maka sekitar pukul 14.45 kami berangkat ke stasiun diantar dengan mobil Om Enda. Sambil menunggu kereta tiba, kami tim pendakian dan tim pengantar pun berfoto bersama dulu.

20131225_150019
Aku, Anay, Om Enda, Idong, dan Rega di Stasiun Ciamis

 

20131225_150520
Aku, Rega, dan Idong sebelum naik kereta

Pukul 15.15 kereta kami tiba di Stasiun Ciamis. Kami duduk bertiga bersebelahan. Di depan kami adalah sepasang suami istri yang sudah cukup berumur. Sepanjang perjalanan sore itu sangat menyenangkan. Langit kemerahan menghiasi perjalanan kami. Aku, Rega, dan Idong sibuk mengambil foto sembari makan keripik pisang.

20131225_170716
Di dalam kereta api Ciamis-Purwokerto

Kami tiba di Stasiun Purwokerto pada pukul 19.27 WIB. Sebelumnya, kereta berhenti cukup lama entah di daerah apa waktu azan magrib sehingga kami bisa sholat magrib terlebih dahulu.

20131225_192730
Di Stasiun Kereta Api Purwokerto

Keluar dari stasiun kami kebingungan karena ternyata di Purwokerto sulit mendapatkan kendaraan umum pada malam hari. Dari stasiun ke terminal bus juga cukup jauh waktu kulihat di Google Map juga waktu kutanya kepada penduduk setempat. Rega mengajukan ide untuk berjalan kaki ke terminal. Aku menolak ide itu sebab di terminal pun kami belum tentu dapat kendaraan. Takutnya sudah berjalan kaki jauh dan capek, eh busnya ga ada. Maka kukasih mereka ide brilian : nebeng mobil bak terbuka. Rega dan Idong mulai mencari mobil bak terbuka yang terparkir di sekitar stasiun yang tujuannya searah dengan kami. Akhirnya setelah bertanya-tanya, kami pun dapat tebengan yang searah dengan tujuan kami meskipun kami nantinya harus turun di perempatan Sokaraja dan mencegat bus ke arah Purbalingga, sebab bak terbuka yang kami tumpangi ini tidak akan lanjut ke Purbalingga.

20131225_200206
Aku dan Rega di atas bak terbuka dengan latar lampu jalan

 

20131225_195947
Menumpang mobil bak terbuka

Ternyata perjalanan kami ke perempatan Sokaraja cukup jauh juga. Kami berfoto-foto di atas bak terbuka sepanjang perjalanan itu. Ini baru kali ke dua saya ke Purwokerto dan benar-benar baru melewati jalan-jalan itu. Malam itu cerah, bintang-bintang dan lampu jalan menemani perjalanan kami.

Kami turun di perempatan Sokaraja. Mobil yang tadi kami tumpangi melaju ke arah lurus dari jalan itu, sementara kami harus mencegat bus ke arah Purbalingga yang arahnya belok kiri di perempatan itu. Kami duduk-duduk di emperan toko menunggu bus lewat. Ternyata kendaraan umum di sini memang sudah jarang pada malam hari. Setengah jam, satu jam, kami tak juga mendapat bus. Bus yang lewat hanya tujuan Bandung dan Jakarta. Lebih dari satu jam menunggu cukup membuat kami hampir putus asa. Rega kembali mengajukan ide untuk berjalan kaki ke Purbalingga. Kembali ide itu kutolak sebab Purwokerto-Purbalingga sudah berbeda kabupaten jadi jelas itu bukan ide bagus. Aku lebih memilih mendirikan tenda di depan toko itu daripada harus berjalan kaki ke Purbalingga. Kami mencoba menghubungi basecamp pendakian Gunung Slamet jalur Bambangan lewat akun twitter. Siapa tahu ada info tumpangan yang bisa kami tumpangi. Idong mengusulkan untuk naik ojek saja. Tapi ide itu juga kutolak.

Akhirnya setelah hampir dua jam menunggu dan putus asa, sebuah mobil bak terbuka menghampiri kami. “Slamet?”, tanya seseorang di sebelah sopir. “Ya”, jawab kami, yang kemudian dijawab kembali oleh orang itu, “Ayo”, ujarnya. Dengan semangat kami menaikkan tas keril kami ke dalam bak terbuka itu. Kami pun numpang mobil itu yang ternyata adalah mobil dari basecamp Bambangan yang kebetulan lewat setelah mengantar pendaki yang turun gunung. Pantas saja mobil itu langsung berhenti melihat kami dengan keril-keril besar sebab ternyata itu memang mobil yang biasa dipakai untuk antar jemput pendaki. Untunglah.

Mobil itu ternyata tidak langsung ke Bambangan, melainkan mampir dulu di daerah Kya Kya Mayong karena sopir dan temannya belum makan. Aku dan Rega turun untuk sedikit berjalan-jalan, sementara Idong tertidur lelap di atas mobil.

Ketika mobil mulai melanjutkan kembali perjalanan, aku, Rega, dan Idong tidur telentang di atas bak terbuka itu. Berbantalkan keril, aku menatap bintang-bintang yang semarak di langit. Ah, malam yang begitu cerah. Indah. Udara dingin turut memeriahkan malam itu. Aku takjub menikmati langit. “Keren ya, Teh”, ujar Rega di sebelahku. “Banget, ini pengalaman keren, telentang bertiga di atas bak terbuka menatap langit yang penuh jutaan bintang”, tukasku yang semenjak tadi sudah mulai mendramatisir suasana. “Iya, serasa di film”, jawab Rega. “Ini ga bakal terlupakan”, jawabku.

Kami tiba di basecamp pendakian sekitar pukul 23.20 WIB. Sinyal internet sudah menghilang. Basecampnya ternyata sebuah rumah. Lantainya sedingin es. Aku membayangkan diri sedang berjalan di atas es yang rawan pecah di daerah kutub yang kalau pecah maka di bawahnya adalah air es juga. Hmm, basecamp itu sudah penuh oleh pendaki yang akan dan telah mendaki. Puluhan sleeping bag berisi orang berjajar-jajar pulas. Kami mencari tempat kosong dan setelah dapat langsung mengeluarkan peralatan makan dan tidur. Lapar juga ternyata. Di dapur kami memasak mie dan makan. Lantas sholat Isya dan berangkat tidur.

Kamis, 26 Desember 2013

Pukul 04.00 WIB pagi Rega sudah membangunkanku. Dia bilang kami harus mulai pendakian pukul 04.30 WIB. Kantuk masih membelengguku. Aku mengusulkan untuk memulai pendakian setelah sholat subuh, mandi, dan sarapan. Kami pun memasak. Setelah semuanya selesai kami mulai packing ulang dan bersiap memulai pendakian.

20131226_070052

20131226_070620
Aku dan Rega di Basecamp Pendakian Slamet via Bambangan

Setelah semuanya siap, akhirnya kami memulai pendakian sekitar pukul 07.00 WIB. Keluar dari basecamp pendakian, kami menyusuri jalan raya yang menanjak. Tanjakannya lumayan bikin ngos-ngosan. Di depan kami, Gunung Slamet dengan gagahnya menantang.

20131226_070759
Gunung Slamet menantang kami di belakang sana

Kami menanjak dengan santai. Tanjakan itu kami tempuh selama tujuh menit sampai tiba di Gerbang Pendakian. Baru nanjak segitu aku udah hampir kehabisan nafas. Mungkin karena baru saja selesai makan, langsung menanjak, sehingga jantung belum siap. (alibi, hehehe)

Pukul 07. 13 kami tiba di Gerbang Pendakian Gunung Slamet jalur Bambangan. Aku menarik nafas panjang-panjang. Untunglah gerbang pendakian adalah salah satu spot wajib foto, sehingga aku punya alasan untuk istirahat dulu. ^__^

20131226_071539
Gerbang pendakian Gunung Slamet via Bambangan

Setelah melewati gerbang pendakian, kami dihadapkan pada jalan bercabang. Kiri atau kanan yang harus kami ambil. Untunglah sebelumnya aku pernah membaca catatan perjalanan pendakian Slamet jalur Bambangan yang ditulis orang lain di blog, sehingga aku tahu jalan yang harus kami ambil adalah arah kanan.

Berbelok ke kanan kami kemudian menyusuri pesawahan penduduk. Kami berjalan di pematang yang sempit. Lumayan jalannya datar. Hanya ada turunan dan tanjakan tak berarti. Selesai pesawahan, kami mulai menyusuri perkebunan sayuran penduduk. Jalanan sempit mulai sedikit menanjak. Kami juga melewati sungai kecil di sana.

Pukul 07. 54 kami tiba di sebuah tempat yang terdapat lapangan sepak bola. Dari sini Gunung Slamet tampak lebih jelas. Kami beristirahat sebentar. Minum dan berfoto.

20131226_075436
Gunung Slamet tampak cantik dari sini
20131226_081906
Karena capek, berasa pengen meluk pohon

Setelah melewati lapang sepak bola ini, kami mulai berjalan di antara pepohanan pinus.  Udara semakin sejuk. Tanjakan demi tanjakan tanpa henti meneror kami. Kondisi jalan masih cukup lebar dan nyaman untuk dilewati.

20131226_081843
Idong di jalur menuju pos 1

Sekitar satu jam kemudian kami tiba di pos 1 yang diberi nama Pos Gemirung. Di sana terdapat sebuah gubuk yang cukup besar, di dalamnya terdapat papan-papan untuk duduk atau bahkan tidur. Gubuk tersebut adalah sebuah gardu pandang. Kami langsung masuk dan tanpa ba bi bu langsung rebah di salah satu papan. Kami berencana untuk beristirahat agak lama di sini. Dari gardu pandang di pos 1 ini pemandangan Kab. Purbalingga dan Purwokerto tampak kecil di kejauhan.

20131226_092845
Pemandangan dari gardu pandang pos 1

Sekitar pukul 09.45 kami mulai melanjutkan kembali perjalanan menuju pos 2. Dari pos 1 langsung disuguhi tanjakan yang lumayan bikin sesak. Jalan setapak semakin sempit. Pepohonan semakin rimbun. Pohon-pohon besar mendominasi. Udara semakin dingin. Selain menanjak, jalan yang harus kami lewati juga berkelok. Dan, dari sini, jangan harap menemukan jalan yang datar apalagi menurun. Tanjakan terus meneror tanpa ampun.

20131226_100556
Setapak menuju pos 2
20131226_100517
Idong dan pepohonan yang mulai rimbun

Pukul 11.57 WIB kami tiba di pos 2 yang diberi nama Pos Walang. Artinya hampir 2 jam kami menempuh perjalanan dari pos 1 ke pos 2. Lelahnya tak terkira. Kami beristirahat kembali cukup lama. Membuka perbekalan, sekadar memakan roti dan cokelat. Pos 2 ini berupa dataran cukup lebar di antara pepohonan besar, cukup untuk 2 atau 3 tenda. Di pos 2 ini kami bertemu dengan beberapa pendaki yang sedang dalam perjalanan turun.

20131226_115814
Tiba di pos 2

Butuh waktu dua jam lebih ternyata untuk sampai di pos 3. Jalanan yang kami lewati semakin sempit dan kebanyakan berupa jalan tikus. Seringkali jalan tikus ini menimbulkan keraguan apakah tubuhku akan muat atau tidak berjalan di sana. Udara semakin dingin dan pohon semakin rapat. Di perjalanan kami berpapasan dengan banyak pendaki yang turun. Kami terus bertanya apakah pos 3 masih jauh atau tidak dan semua bilang masih jauh.

20131226_134021
Penampakan jalan tikus menuju pos 3

Akhirnya sekitar pukul 14.20 kami tiba di pos 3 yang bernama Pos Cemara. Di pos ini kami membongkar perbekalan karena akan memasak untuk makan siang. Kami memasak mie rebus dan quacker oat. Kami juga membuat agar-agar untuk dimakan nanti di pos berikutnya kalau sudah membeku.

20131226_145717
Di sela-sela kegiatan memasak di pos 3

Di pos tiga banyak pendaki yang sudah mulai memasang tenda dome. Mereka juga menyarankan kami untuk kemping di pos 3 saja sebab katanya di pos 5, 6, dan seterusnya sudah penuh. Sementara pos 4 tidak boleh dipakai untuk kemping karena terkenal angker. Namun karena kami sudah bersepakat untuk bermalam di pos 5, kami pun meneruskan perjalanan menuju pos 4. Pada pukul 16.02 kami tiba di pos 4 yang bernama Samarantu. Karena terkenal angker, kami tidak beristirahat lama di sini. Bahkan aku tidak berani berfoto di pos ini. Hanya Rega yang diambil fotonya di sini.

20131226_160221
Rega di pos 4 Samarantu

Selain suasananya yang lumayan seram, mungkin karena sudah banyak mendengar cerita dari pendaki lain tentang keangkerannya, pos 4 juga areanya sempit dan dikelilingi pohon besar. Angkernya benar-benar terasa. Kami bersegera meninggalkan pos ini menuju pos 5.

20131226_162527

Kabut mulai naik dan hawa dingin luar biasa menyelimuti perjalanan kami menuju pos 5. Hari hampir gelap ketika kami tiba di pos 5 tempat kami akan menginap. Idong sudah berjalan duluan untuk membuat kapling tempat kami akan mendirikan tenda. Takutnya benar bahwa di pos 5 sudah penuh. Untunglah, kami masih mendapat tempat meskipun kurang strategis karena tempatnya miring.

Setelah tenda berdiri, kami langsung masuk karena ga kuat diam di luar. Anginnya luar biasa besar dan dingin bukan main. Bahkan memasak kami lakukan di dalam tenda saking dinginnya. Itu juga aku masih harus berselimutkan sleeping bag lengkap dengan kaos tangan dan kaos kaki.

Kami memasak nasi, menggoreng telur, memasak mie goreng, membuat sayur sop, juga membuat kentang goreng. Karena lapar, gelap, dan dingin, kami tidak sempat memotret makanan yang kami buat. Pokoknya kami makan dengan lahap. Memasak sambil bercerita. Makan dengan gembira.

Selesai makan-makan, kami rebahan. Aku mendapat posisi tidur di tengah karena perempuan sendiri. Rega di kananku dan Idong tidur di sebelah kiriku. Sambil rebahan, aku mendengarkan curhatan kedua temanku itu tentang pacarnya. Kami bercerita seru dan tertawa-tawa sampai akhirnya terlelap.

Tengah malam, aku terbangunkan oleh suara grasak gresek di luar dekat kepala kami. Aku diam mendengarkan sambil mengira-ngira suara apakah itu. Semakin lama semakin jelas dan bunyi grasak-greseknya semakin menjadi. Aku membangunkan Rega dan Idong untuk mengetahui asal bunyi tersebut juga agar berjaga-jaga bila itu sesuatu yang berbahaya. Rega bangun dan memeriksa ke luar, tetapi tak menemukan apa-apa. Kami terdiam di dalam tenda menunggu. Suara itu datang lagi. Rega menyorotkan lampu senter ke berbagai penjuru dari dalam tenda. Ternyata suara itu berasal dari babi hutan yang mungkin tertarik oleh bau makanan dari tenda kami. Babi itu langsung lari ketika terkena cahaya lampu senter kami.

Setelah dirasa cukup aman, kami beranjak tidur kembali. Namun tak berapa lama suara seperti tadi membangunkanku lagi. Bahkan ini lebih dahsyat. Ketika Rega kubangunkan, tenda kami tiba-tiba runtuh. Aku kaget tertimbun tenda. Rega memeriksa apa yang terjadi. Ternyata babi hutan tadi memakan tenda kami. Bagian penjuru tenda kami sudah robek-robek. Rega dan Idong membetulkan tenda kami yang runtuh. Aku memegang lampu senter menerangi mereka.

Aksi babi itu ternyata tidak cukup sampai di sana. Kami dibuat kalang kabut dan tak bisa tidur sepanjang malam. Babi itu terus menyerang. Merobek tenda dan membuat kondisi kami porak poranda. Babi itu bahkan menyeret Idong di atas matras sampai keluar dari tenda. Sepatu hilang. Kami benar-benar panik. Apalagi saat itu badai gunung juga tengah melanda kami. Angin besar terdengar berputar-putar dari bawah menuju ke atas gunung. Gemuruh angin itu benar-benar menakutkan. Anginnya seperti akan menerbangkan tenda kami. Aku membayangkan angin dengan gemuruh besar akan melahap kami saat itu. Dinginnya jangan ditanya. Aku merasa tak akan selamat malam itu. Kupikir kami akan meninggal di sana. Bayangkan saja, angin bergemuruh besar menyeok-nyeok tenda kami, badai besar sedang terjadi, dinginnya serasa membuat pori-poriku berdarah-darah, dan babi hutan kesetanan menyerang kami. Kalau tidak mati dilalap badai, diterbangkan angin gunung, kami mungkin akan mati karena hipotermia, atau kandas di mulut babi hutan. Suasana parah itu berlangsung berjam-jam sampai pagi menjelang. Aku takjub saat mendapati diriku masih hidup manakala badai gunung reda. Tenda sudah porak poranda. Idong kehilangan sepatu.

Setelah badai mereda kami mulai membereskan tenda yang sudah entah seperti apa. Kami bersiap untuk summit attack dengan terlebih dahulu memasak untuk sarapan pagi. Kami memutuskan untuk mem-packing tenda dan peralatan lain karena khawatir akan dirusak kembali oleh babi hutan selama kami summit attack. Ternyata bukan hanya tenda kami yang diserang babi semalam. Tenda lain pun yang berada di pos 5 semuanya sama diserang.

Kami menitipkan tenda dan keril kami kepada pendaki yang sudah summit attack dan hanya tinggal turun ke kaki gunung. Mereka katanya masih akan beristirahat lama di pos 5. Kami mulai summit attack pada pukul 03.30 WIB. Hanya tas kecil berisi makanan, minuman, dan kamera yang kami bawa.

Jalanan sempit menanjak tanpa henti. Padahal belum istirahat karena badai dan babi semalam, kami sudah harus menempuh tanjakan yang bikin sesak nafas. Aku tak bisa melihat seperti apa setapak yang kami tapaki karena hari masih benar-benar gelap. Selain kami, pagi itu banyak juga pendaki lain yang sama-sama sedang menuju puncak. Suasana ramai dengan percakapan antarpendaki. Tawa, celoteh, dan candaan berseliweran dengan tarikan nafas yang kuat. Aku sibuk mengatur nafas yang hampir habis. Rega terus menyemangatiku. Ah, rasanya aku ingin tidur saja.

Sekitar pukul 04.52 WIB kami tiba di pos 7 dan sunrise sudah mulai tampak.

20131227_045558

Kami bergegas menuju pos 9 yang katanya sunrise di sana lebih bagus. Akhirnya pada pukul 05.12 kami bisa menikmati sunrise di pos 9 yang bernama Plawangan. Sunrise di sana benar-benar keren. Aku takjub. Pemandangannya subhanalloh banget.

20131227_051236

20131227_051456

20131227_05163320131227_05170820131227_05191920131227_05442720131227_05444820131227_05491420131227_054918

Puas menikmati sunrise, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak. Setelah melewati pos 9, jalanan menanjak mulai berbatu-batu besar. Kami harus melakukan rock climbing. Mendaki bongkahan batu. Di sebelah kiri bawah kami melihat sehampar perdu-perdu.

20131227_05500720131227_05503320131227_05551020131227_06000620131227_060036

Rock climbing ini menyenangkan meski melelahkan. Seringkali kami beristirahat saat menemukan batu yang cukup datar untuk diduduki. Batu-batu sebesar kepalan tangan berjatuhan saat kami injak. Ini benar-benar mendaki gunung batu.

Selesai dengan rock climbing, kami harus melanjutkan dengan sand climbing, istilah yang kuciptakan sendiri untuk mendaki gunung batu berpasir dan berkerikil. Setiap satu langkah kami menanjak akan menciptakan longsoran pasir dan kerikil. Ini cukup menyeramkan sebab aku bisa saja terperosok dan dengan mudahnya jatuh. Kami berjalan dengan tangan dan kaki. Merayap. Mencoba bertahan agar bisa terus naik dan tidak terperosok ke jurang yang menganga dengan batu-batu runcing di bawah sana. Batu yang kami injak langsung berjatuhan dan kaki kami harus segera diangkat untuk langkah berikutnya agar tidak ikut turun bersama batu dan pasir itu. Tangan harus mencengkeram batu yang agak kuat agar badan tidak turun lagi bersama batu dan pasir yang kami injak. Pokoknya ini luar biasa keren, menegangkan, dan subhanalloh banget.

20131227_06004220131227_060133

Menjelang puncak, bebatuan sudah mulai ramah lagi untuk diinjak. Lelah yang luar biasa seketika hilang melihat puncak di pelupuk mata. Pemandangan luar biasa menjemput kami. Kami semakin semangat untuk segera meneriakkan “Galuh”, yel-yel organisasi kami, di puncak sana. Meski kekuatan dan kecepatan kaki kami berbeda, kami sudah bersepakat untuk menginjak puncak pada detik yang sama bersama-sama.

20131227_06024720131227_06042920131227_060521

Kami tiba di puncak pada pukul 06.10 WIB. Kami beristirahat sejenak melemaskan persendian. Angin di puncak benar-benar kencang. Dinginnya menyakiti hidung. Oksigen yang tipis di atas puncak membuat kami agak kesakitan saat menarik nafas. Hidung terasa perih. Dan sekali lagi, angin dinginnya terasa kering dan kencang sampai-sampai aku serasa akan terbawa terbang.

Kami membuka perbekalan, memakan camilan sembari menikmati suasana puncak yang sulit kudeskripsikan kerennya. Kalian harus lihat sendiri agar tahu bagaimana indahnya di sana. Cuaca yang cerah benar-benar merestui kami pagi itu.

Setelah kenyang makan camilan dan ngopi-ngopi, kami lanjutkan dengan pengambilan gambar. Kami menyusuri puncak yang luas dengan batuan tajam berpasir dan jurang menganga di kiri kanan. Bau belerang menusuk hidung kami yang perih.

20131227_08162220131227_08163320131227_08164820131227_08201820131227_08210520131227_08212320131227_08231520131227_08240420131227_08283420131227_08285220131227_08323120131227_08332920131227_08350220131227_08370820131227_08374120131227_08381320131227_08382520131227_08395220131227_08414320131227_084317

Awan seputih salju berarakan di bawah kami. Seperti inilah yang orang sebut sebagai negeri di atas awan. Lebih tepatnya kusebut padang pasir dengan bongkahan batu besar di atas awan. Langit, awan, pasir, dan semua material yang ada pagi itu membentuk kombinasi yang cantik. Aku bersyukur pernah melihatnya. Aku benar-benar bersyukur pernah menginjakkan kaki di sini.

Bau belerang, bongkahan batu, awan-awan, langit biru, hamparan pasir, dan genangan kawah semuanya mengucapkan selamat datang kepada kami.

20131227_08452420131227_08464120131227_08473520131227_08492420131227_08554820131227_09073520131227_09075620131227_090802

Sekitar pukul 10.00 WIB kami mulai turun dari puncak. Aku menuruni gunung pasir itu dengan prosotan. Tak peduli celana berpotensi bolong. Asyik juga ternyata main prosotan di sana. Lebih cepat juga daripada melangkah sedikit-sedikit yang sama-sama memungkinkan jatuh juga. Rega dan Idong turun lebih cepat bahkan mereka berlomba lari untuk sampai di pos 5 duluan. Aku berjalan santai saja menikmati suasana. Apalagi banyak juga pendaki yang sama-sama turun bersama kami sehingga aku gak perlu cemas meski Rega dan Idong sudah duluan.

Berikut adalah beberapa foto yang kuambil dalam perjalanan turun.

20131227_10100620131227_10102220131227_10103520131227_10385820131227_104202

Aku tiba di pos 5 sekitar pukul 11.00 WIB. Kami langsung memasak untuk makan pagi sebelum turun ke basecamp. Setelah selesai, kami langsung packing dan segera turun meninggalkan pos 5 supaya tidak kemalaman di jalan. Apalagi, saat itu aku terburu waktu harus bisa pulang kembali ke Ciamis malam itu, sebab besok paginya, hari Sabtu tanggal 28 Desember 2013 aku harus mengikuti kuliah pagi.

Kaki benar-benar serasa berpisah dengan persendiannya. Perjalanan turun ternyata menyakitkan. Kaki dibuat hampir kram dan lemas. Rasanya lebih putus asa daripada saat naik. Rasanya ingin sekali ada pintu ajaibnya Doraemon agar kaki tak perlu berjalan lagi. Atau kalau itu tidak mungkin, aku ingin sekali berjalan ngesot saja.

Akhirnya setelah dihiasi acara tersesat segala, sayup-sayup terdengar adzan isya. Alhamdulillah kami akhirnya tiba di desa. Kami sampai di basecamp yang sudah ramai lagi oleh pendaki yang akan dan telah naik pada pukul 19.30 WIB kurang lebih. Aku saat itu terlalu lelah untuk melihat jam.

Selesai melepas lelah dan menemukan kembali kaki dan persendian yang tadi hilang selama perjalanan turun, kami mulai membersihkan diri, berganti baju, dan packing. Tak lupa mencari kendaraan untuk pulang.

Kami mendapat tumpangan truk pendaki dari Cilacap dan hanya bisa menumpang sampai daerah Cilacap. Kami meninggalkan basecamp pada pukul 21.00 WIB. Dari Cilacap, kami naik bus ke Ciamis dan sampai di Ciamis pada pukul 03.00 dini hari.

 

 

 

Diposkan pada Catatan Perjalanan

Prau,dalam dinginmu aku menitip gigil

IMG20160101065946
Puncak seribu bukit: Prau

Prau, namanya baru kudengar saat seorang temanku, Siti Fatonah, dari Boyolali, mengajakku mendaki gunung ini. Waktu itu aku ga bisa memenuhi ajakan temanku itu, meskipun ingin, karena acara pendakiannya tidak bertepatan dengan hari libur. So, karena kerja, aku ga bisa ikut.

Kali kedua nama gunung ini kudengar adalah ketika teman-temanku dari Palagga (Pencinta Alam Anak Gunung Galuh), yang merupakan organisasi pencinta alam yang kuikuti sewaktu SMA, pergi touring dan mendaki gunung ini.

Selanjutnya, di instagram semakin banyak orang yang mengupload foto di Gunung Prau, sehingga nama gunung ini pun semakin akrab di telingaku dan aku semakin ingin datang bertandang ke gunung ini.

Kesempatan untuk itu pun datang manakala liburan akhir tahun tiba. Aku yang selalu ingin menyempatkan naik gunung pada setiap liburan pun segera mengontak semua teman yang punya minat dalam hal daki-mendaki. Hasilnya, beberapa teman menyatakan tidak bisa naik gunung karena berbagai alasan, namun ada pula yang menyatakan siap mendaki meski libur hanya satu hari. Dari sana aku pun janjian dengan Mas Somad, yang kukenal sewaktu mendaki Cikuray, dan Binda, teman se-organisasi Palagga yang akan berangkat dari Solo. Kami sepakat akan mendaki Gunung Prau pada tanggal 31 Desember 2015. Mas Somad akan berangkat dari Boyolali dengan membawa beberapa temannya, Binda akan berangkat dari Solo sepulang kerja, dan aku sendiri berangkat dari Ciamis dengan membawa satu orang teman yang juga dari organisasi Palagga, namanya Ana Yuliana.

Rabu, 30 Desember 2015

Hari ini aku janjian mau packing bareng dengan Ana Yuliana yang biasa kami (di Palagga) panggil dengan sebutan Anay di Basecamp Palagga di SMAN 1 Ciamis. Sebenarnya kami janjian mau packing jam 11 siang, namun karena dini harinya, tepatnya jam 3, aku baru saja tiba di rumah setelah liburan di Puncak, Bogor, maka janji itu pun ngaret menjadi jam 13.00.

Tiba di basecamp Palagga kami sudah membawa peralatan mendaki setengah lengkap termasuk logistik. Ada beberapa yang harus kubeli mendadak, misalnya jas hujan, karena jas hujanku yang lama ternyata sobek. Setelah wara-wiri ke sana sini, packing pun selesai pada pukul 17.30 WIB.

Selesai packing, kami berangkat ke tempat pemberhentian bus Budiman di Rumah Makan Cagar Alam, Cijeungjing, Ciamis. Dengan sepeda motor, aku diantar adikku, Fajar, sedangkan Anay diantar Fadil, seorang anggota Palagga. Kami memang harus menunggu kedatangan bus Budiman yang dijadwalkan akan datang pada pukul 22.00 WIB di rumah makan itu, karena Bus Budiman jurusan Bandung-Wonosobo tidak melewati terminal Ciamis, dan kami juga tidak kebagian tiket untuk perjalanan ini. Karena belum punya tiket, kami pun menunggu tanpa kepastian apakah akan bisa ikut bus ini atau tidak. Maklumlah, tahun baru sudah biasa semua angkutan penuh muatan.

Aku dan Anay menghabiskan waktu di rumah makan ini dengan sholat, mandi, nge-charg, dan tentu saja makan. Biaya makan sengaja tidak kami bayar dulu karena setahuku tiket bus Budiman sudah termasuk biaya satu kali makan. Yah, siapa tahu bisa dapat tiket. ^_^

IMG_20151230_192713
Makan malam di RM Cagar Alam, Ciamis

Pukul 21.30 Bus Budiman Bandung-Wonosobo tiba di Rumah Makan Cagar Alam. Aku pun segera menghampiri kernet bus menanyakan apakah ada kemungkinan aku bisa ikut bus atau tidak. Ternyata bus tersebut sudah penuh bahkan balkon belakangnya, sehingga aku dan Anay tidak bisa terangkut. Aku pun diminta untuk menunggu bus berikutnya.

15 menit kemudian bus yang dimaksud pun datang. Setelah berbicara dengan kernetnya, kami bisa ikut menumpang bus tersebut tetapi duduk di balkon belakang sampai ada penumpang yang turun di perjalanan. Janjinya, ada tiga penumpang yang akan turun di daerah Banjar dan Wangon sehingga kami harus bersabar duduk di balkon hingga saat itu tiba. Meski begitu, kami tetap membayar harga tiket seperti penumpang lain, yakni Rp 75.000,00. Tiket itu pun kami gunakan untuk membayar makanan kami tadi.

Duduk di balkon ternyata tidak terlalu buruk. Di sana kami bisa tidur dengan kaki selonjoran. Ada lima penumpang yang duduk di sana, tiga di antaranya adalah laki-laki, dan dua lagi adalah aku dan Anay.

IMG_20151230_215406
Di balkon bus Budiman Bandung-Wonosobo

Sesuai janji, mulai daerah Wangon kami bisa duduk di kursi penumpang yang seharusnya. Alhamdulillah, kami pun tidur nyenyak selama lima jam perjalanan tanpa ingat apapun sampai tiba keesokan paginya pukul 03.00 dini hari di Terminal Mendolo, Wonosobo, Jawa Tengah.

Aku terbangun dari lena mimpi oleh pertanyaan Anay yang menanyakan sudah sampai di mana perjalanan kami, yang kemudian kujawab sekenanya :Purwokerto mungkin. Ternyata aku salah, kami sudah tiba di Terminal Mendolo, Wonosobo, dan penumpang lain sudah hampir turun semuanya. Karena masih terlampau pagi, aku dan Anay beristirahat di salah satu bangku pedagang yang ada di terminal. Aku melanjutkan tidur berbantal carrier, sedangkan Anay hanya duduk-duduk di depanku.

Setelah sholat subuh pada pukul 05.00 WIB, kami mengobrol dengan tiga orang pendaki lain yang sama-sama terdampar di terminal. Kami pun sepakat untuk melanjutkan perjalanan ke daerah Dieng bersama dua orang di antara mereka, karena yang satu orang lagi ternyata tujuan pendakiannya bukan Gunung Prau, melainkan Gunung Sindoro. Dua orang yang akhirnya sepakat melanjutkan perjalanan bersama kami adalah Mas Anang dan Mbak Nadia yang berasal dari Bekasi. Aku bertukar nomor hp dengan Mas Anang untuk memudahkan komunikasi karena saat itu Mas Anang dan Mbak Nadia mau pergi mencari minimarket dulu untuk mencari gas.

Pukul 05.48 WIB, sebuah pesan masuk, ternyata dari Mas Anang yang memberi kabar bahwa Mas Anang dan Mbak Nadia menunggu di depan gerbang terminal sekalian menunggu bus/angkot yang menuju Dieng. Aku dan Anay pun segera nyamperin mereka dan pesanan sarapan nasi soto pun akhirnya kami cancel.

Sekitar 30 menitan kami menunggu dan bernego dengan beberapa sopir angkot ataupun bus yang bersedia mengantar kami ke Dieng dengan harga Rp 20 ribu per orang. Rombongan kami jadi tujuh orang ditambah dengan tiga orang dari Jakarta.

Sekitar pukul 06.20 WIB kami bertujuh berangkat menuju Dataran Tinggi Dieng dengan menyewa sebuah angkot yang menyetujui ongkos Rp 20.000,00 per orang dan bisa berhenti di mana saja jika kami ingin turun sekedar berfoto. Dengan kesepakatan itu, kami turun di Alun-alun Wonosobo dan di gerbang selamat datang di Dieng Plateau untuk sekedar berfoto.

IMG_20151231_063908_HDR
Di alun-alun Wonosobo
IMG_20151231_074313_HDR
Gapura kawasan Dieng Plateau

Jalan menuju Dieng sudah diaspal bagus. Jalanan terus menanjak dan berkelok-kelok. Kiri kanan jalan kebanyakan adalah perkebunan warga. Suasana hijau mengiringi perjalanan kami.

IMG20151231072625.jpg

IMG20151231072639

IMG20151231072630

 

 

Lima orang dari rombongan kami, termasuk Mas Anang dan Mba Nadia, turun di daerah Patak Banteng karena mereka memang akan mendaki Gunung Prau jalur Patak Banteng. Sementara aku dan Anay melanjutkan perjalanan ke daerah Dieng karena di sanalah tempat yang dijanjikan untuk bertemu dengan teman-teman dari Solo dan Boyolali. Bapak sopir angkot bersedia mengantar kami ke Dieng bahkan ke depan gerbang telaga warna Dieng dengan tambahan ongkos Rp 15.000,00 per orang.

B612_20151231_082435
penampakan sopir angkot yang mengantar kami

Sekitar pukul 08.00 WIB kami tiba di daerah Dieng, tepat di depan pintu gerbang objek wisata Telaga Warna. Aku dan Anay memang memutuskan untuk berwisata dulu ke Telaga Warna sambil menunggu teman-teman dari Solo dan Boyolali yang baru berangkat dari tempat mereka sepulang kerja pada pukul 16.00 WIB.

Turun dari angkot kami masuk ke sebuah warung tepat di sebelah kiri pintu gerbang Telaga Warna untuk sarapan terlebih dahulu sekalian mau menitip carrier karena kami pikir bukan hal bagus kalau jalan-jalan di Telaga Warna sambil menggendong carrier. Warung Mbok Minten menyediakan mie rebus, pop mie, nasi rames, nasi soto, gorengan, dan berbagai minuman termasuk minuman khas Dieng yakni Purwaceng. Kami memesan sarapan nasi soto, harganya hanya Rp 10.000,00. Di warung tersebut kami juga bisa menumpang ngisi batrei hp, ganti baju, ke toilet, dan menitip carrier. Rasa sotonya berkategori lumayan. Sotonya cepat dingin, ga perlu ditiup-tiup dulu karena udara di daerah itu dinginnya pake banget.

IMG20151231082454
Ini dia penampakan sotonya
IMG20151231082547
makan soto di warung Mbok Minten

Setelah makan, kami mulai masuk ke objek wisata Telaga Warna dengan biaya masuk Rp 5.000,00 per orang. Melewati pintu masuk, kami langsung menemukan mushola dan papan penunjuk arah. Selain Telaga Warna, melalui pintu masuk ini semua pengunjung juga bisa ke Kawah Sikendang, Telaga Pengilon, bukit, gua, dan menara pandang.

IMG_20151231_093048_HDR
tiket masuk telaga warna

Masuk kawasan wisata ini kami disuguhi pemandangan telaga cantik  yang kehijauan dinaungi langit membiru cerah. Tak banyak bicara kami langsung saja berfoto ria, mencari spot-spot bagus, dan terus berjalan menyusuri tepi telaga dengan berbalut dinginnya udara Dieng.

IMG_20151231_093533_HDR

IMG_20151231_094043IMG_20151231_095654_HDR

IMG_20151231_102159_HDR

IMG_20151231_102740_HDRIMG_20151231_102933IMG_20151231_114840_HDRIMG_20151231_115459_HDR

Hawa semakin dingin ketika kami kembali ke warung Mbok Minten sekitar pukul 12.00 WIB. Di warung kami beristirahat sampai terkantuk-kantuk bahkan tertidur. Setelah membayar dan tidak kuat lagi pengen rebahan, kami memutuskan untuk beristirahat di camp pendakian. Untuk sampai di camp pendakian, kami menggunakan jasa ojek seharga Rp 15.000,00 untuk berdua. Di camp pendakian ternyata sudah banyak pendaki yang beristirahat di sana. Kami selanjutnya menghabiskan waktu sambil menunggu teman-teman di sini dengan sholat dan tidur. Sekitar pukul 13.30 hujan turun dengan lebatnya membuat udara semakin menggigilkan. Sinyal hp sudah hilang sehingga kami hanya bisa menunggu hujan dengan tiduran atau sesekali bercengkrama dengan pendaki lain.

IMG_20160101_221154
Halaman pos pendakian Gunung Prau jalur Dieng

Hujan reda sekitar pukul 15.30 dan kami yang lapar memutuskan untuk membeli mie ongklok yang merupakan makanan khas Dieng. Mie ongklok ternyata terdiri atas mie, kol, irisan tahu, disiram bumbu kacang, dengan tumpangan dua tusuk sate ayam di atasnya. Rasanya? ya lumayanlah.

IMG20151231161528
mie ongklok sebelum diaduk
IMG20151231161831
mie ongklok setelah diaduk

Di basecamp pendakian kami berkenalan dengan beberapa orang pendaki, di antaranya rombongan pendaki yang juga dari Ciamis dan dua orang pendaki dari Bandung.

Setelah sholat ashar, kami berjalan-jalan melihat-lihat daerah sana dan ke stand-stand oleh-oleh sambil mau membeli sayuran untuk kami bawa mendaki. Tentu saja, kami tak lupa foto-foto.

IMG_20151231_181625

Semakin sore udara semakin dingin. Tersentuh air untuk berwudlu saja rasanya disentuh air es. Dinginnya luar biasa. Setelah sholat maghrib kami hanya tiduran menunggu teman-teman yang entah akan datang jam berapa. Komunikasi dengan mereka hanya bisa melalui sms atau telepon karena tak ada sinyal internet. Sampai pukul 19.30 WIB teman-teman masih jauh ternyata. Kami tertidur dalam gigil yang luar biasa. Ingin rasanya mengeluarkan sleeping bag yang kami bawa, tetapi terlalu malas untuk packing lagi nantinya. Jadilah kami hanya menahan dingin dengan kaos kaki, kaos tangan, dan jaket sehingga tak bisa tidur nyenyak.

Hingga pukul 22.00 teman-teman tak kunjung datang. Katanya mereka kena macet malam tahun baru di jalan. Kami semakin gelisah dalam kedinginan. “Lieuk beuheung sosonggeteun” kalau menurut peribahasa bahasa Sunda. Aku sholat isya dan memutuskan memakai dua celana karena dinginnya malam itu sudah mencapai tingkat di atas luar biasa. Apalagi menyentuh air, uwoooow rasanya pori-pori langsung berdarah-darah. 😀

Akhirnya sekitar pukul 23.00 teman-teman yang ditunggu pun datang. Aku yang baru saja bisa tertidur terbangun lagi oleh dering telepon dari mereka. Binda meneraktir kami makan nasgor terlebih dahulu sebelum pendakian.

Akhirnya, setelah makan dan menonton kembang api tahun baru bertaburan di langit Dieng, kami pun memulai pendakian dengan doa. Tim pendakian yang berjumlah sepuluh orang dengan lima perempuan dan lima laki-laki ini mulai mendaki tangga-tangga di antara rumah-rumah penduduk yang sudah dicor pada pukul 00.15 WIB. Hawa dingin tentu saja menjadi teman baik yang mengiringi kami sepanjang perjalanan. Setelah melewati tangga-tangga perumahan penduduk, kami mulai memasuki jalan besar di antara ladang penduduk. Sepanjang perjalanan kami bercanda ria dan seloroh teman-teman berbahasa jawa cukup menghibur karena kami yang orang sunda sibuk berjalan sambil menerjemahkan kalimat mereka. Sorot lampu senter kami arahkan ke sepanjang jalan dan kiri kanan jalan untuk melihat tanaman apa sebenarnya yang ditanam penduduk ini. Setelah melewati pos 1 kami mulai memasuki hutan pinus dengan jalanan yang menanjak dan licin karena terbasuh hujan tadi sore. Trek pendakian Gunung Prau ini lumayan landai meski tentu saja bukan berarti ga bikin cape. Jalan setapak yang kami lewati sesekali datar, lalu menanjak, terus menanjak, turun sedikit, datar lagi sedikit, lantas menanjak dan menanjak lagi. Terus seperti itu dengan jalan yang tentu saja licin dan banyak akar pohon yang merambat di sana sini.

Saat ada yang merasa kecapean kami beristirahat sebentar, lalu melanjutkan perjalanan. Beberapa di antara kami, termasuk saya, bahkan merasa ngantuk sepanjang perjalanan. Setiap kali beristirahat, udara dingin menusuk-nusuk persendian membuat gigil yang aneh. Jadilah kami mendaki dengan kulit ditusuk dingin dan mata yang dibebani kantuk.

Jalur pendakian ini ternyata rusak karena longsor sehingga kami harus ekstra hati-hati ketika melewati daerah yang tanahnya tinggal sedikit ini, belum lagi areanya sangat licin, berupa turunan, dengan jurang menganga di depannya siap melahap kami jika terperosok. Di tempat ini terbentuk antrean panjang dengan pendaki lain karena satu persatu harus memastikan orang di depannya berhasil menyeberang dengan selamat.

Selanjutnya semakin jaranglah tempat yang datar. Hanya menanjak dan menanjak lagi. Hawa dingin terus meneror kami. Hingga sekitar pukul 04.35 WIB kami tiba di puncak. Kami langsung mendirikan dome. Ada tiga dome yang kami dirikan, dua berkapasitas empat orang dan satu berkapasitas dua orang. Setelah dome berdiri, teman-teman dari Boyolali langsung bersiap tidur, sementara kami tim Palagga sibuk membuat minuman hangat: kopi, susu, energen, dan teh manis. Sembari memasak kami juga hunting sunrise bersama pendaki-pendaki lain yang juga camp di sana.

IMG_20160101_045521
Sunrise Gunung Prau
IMG_20160101_050521
sunrise Gn. Prau

Selesai berfoto dengan matahari terbit pertama di tahun 2016, kami lanjut masak-masak. Yang kami masak saat itu adalah nasi, ikan sarden, ikan asin, mie goreng, dan bala-bala dari tepung bumbu yang dicampur mie dan baso. Semuanya dibuat pedas. Lumayan, kegiatan memasak ini cukup mengusir dingin yang saat itu masih saja mencubit-cubit kulit.

IMG_20160101_051120_HDR
Mari masak

Selesai makan bareng, kami bercengkrama, menikmati segarnya pemandangan dan udara gunung yang masih saja mendesir-desir meskipun matahari sudah membersamai kami.  Tak lupa semuanya kami abadikan. Sama sekali tak ada keinginan untuk tidur, melewatkan semuanya. Berikut adalah foto-foto yang kami ambil.

IMG_20160101_083014_HDR

IMG_20160101_083230

IMG_20160101_083409

IMG_20160101_083651

IMG_20160101_084041

IMG_20160101_084712

B612_20160101_085506

_MG_3816

_MG_3827

IMG20160101084334
Hamparan bunga Daisy: di Prau ternyata tidak ada Edelweis, yang ada adalah Daisy

Sekitar pukul 10.00 WIB kami mulai packing untuk turun gunung karena saat itu kabut sudah mulai naik dan menutup pandangan kami. Tak-tik tak tik gerimis pun mulai berjatuhan sehingga kami menyiapkan jas hujan di luar carrier. Sepanjang perjalanan turun kami habiskan dengan bercanda ria dan berfoto-foto. Sekarang kami bisa melihat jelas jalur pendakian yang kami lewati malam tadi. Untunglah hujan tidak turun dan hanya gerimis dan kabut tipis yang menemani kami. Dingin? tentu saja.

IMG20160101104302

IMG20160101100051

_MG_3837.JPG

_MG_3865

_MG_3850

_MG_3838.JPG
penampakan jalan yang longsor

IMG_20160101_102403IMG_20160101_104707

IMG_20160101_113902
ladang penduduk

IMG_20160101_113951

Penduduk di sini kebanyakan bertanam carica (dibaca karika), kentang, dan terong belanda. Konon menurut penduduk sini, tanaman carica hanya bisa tumbuh di Dieng. Carica ini masih sejenis pepaya, tetapi pohon dan buahnya lebih kecil dan rasa buahnya hambar. Masyarakat Dieng mengolah carica menjadi manisan basah, manisan kering, dan keripik.

IMG20151231074648
penampakan tanaman carica

Sekitar pukul 12.00 WIB kami tiba di basecamp pendakian. Setelah sholat dan membeli oleh-oleh, kami mulai berangkat pulang ke daerah masing-masing. Aku dan Anay bergabung dengan Mas Heru dan Mas Dembong (yang waktu kemarin berkenalan di basecamp) karena sama-sama akan pulang naik bus Bandung-Wonosobo.

Kami naik minibus ke Terminal Mendolo, Wonosobo, sekitar pukul 13.45 WIB dan ternyata kami terjebak macet sehingga tiba di terminal sekitar pukul 17.00 WIB. Kami berempat sudah ketar-ketir tidak kebagian bus dan ternyata benar saja, bus sudah penuh dan kami hanya mendapat tiket dengan tempat duduk di balkon. Kami menunggu bus sambil sholat asar dan bercengkrama. Di sini kami bertemu lagi dengan rombongan dari Ciamis yang kemarin berkenalan di basecamp.

Setelah sholat maghrib, bus kami berangkat pukul 18.30 WIB. Alhamdulillah, ada empat calon penumpang yang membatalkan keberangkatannya sehingga kami berempat, aku, Anay, Heru, dan Dembong bisa duduk di tempat yang semestinya. Sementara itu, rombongan Kiki cs yang dari Ciamis harus tetap duduk di balkon.

Perjalanan pulang kami isi dengan tidur nyenyak dan kami tiba di Ciamis pukul 12.30 WIB. Setelah makan di rumah makan Cagar Alam, Ciamis, bus kami berangkat lagi dan aku turun di Imbanagara karena mau menginap di rumah Anay sekitar pukul 01.00 WIB.