Diposkan pada catatan harian, Cerita Pendek, Uncategorized

Seperti awan di langit, kau adalah angan terjauhku

Kau lihat awan-awan itu berarak? Aku senang sekali memandanginya sembari merebahkan tubuh di atas rerumput, atau sekedar telentang di atas air saat berenang. Rasanya membahagiakan. Rasanya mendamaikan.

Namun sayang sekali, selain menjadi kombinasi yang indah dengan birunya langit, ada satu fakta yang membuatku terhenyak: awan itu sangatlah jauh. Jauh sekali bahkan saat aku sudah sampai di puncak gunung tinggi sekalipun, berharap bisa menggapai awan, awan itu ternyata masih saja jauh.

Barangkali benar, bahwa yang indah kadang tercipta hanya untuk dipandangi dari kejauhan. Seperti awan-awan yang mengharmoni langit itu.

Barangkali benar, aku seharusnya menyerah saja menggapai awan. Tak apa dikatai pengecut. Tak apa disebut pecundang. Sudah. Sudahi saja. Tak usah lagi berlelah-lelah pergi mendaki gunung dengan harapan bisa dekat dengan awan. Nyatanya awan itu tetap saja jauh dan tak akan bisa kusentuh. Bahkan saat kucoba taktik lain, naik pesawat, yang katanya bisa sampai kepada awan, nyatanya, awan itu tetap saja jauh dari tanganku. Jauh, sangat jauh.

Ya, mungkin ini sudah waktunya untuk berhenti bermimpi di siang bolong. Sudah waktunya mengangkat bendera putih kepada awan-awan itu.

Iklan
Diposkan pada catatan harian, Cerita Pendek, Uncategorized

Cerita pendek tentang hari ini

Hari ini Jumat, 12 Oktober 2018, empat hari menuju masa sulit menghadapi kenyataan menjadi semakin tua, aku malah mendapati kenyataan yang lumayan aneh, aneh tetapi nyata.

Dari kejauhan, aku melihatnya berjalan. Kulihat dia juga melihatku. Tiba-tiba aku merasa belingsatan, bingung, karena aku sedang menuju ke arahnya, bingung aku harus bagaimana kalau berpapasan nanti, canggung, takut dengan keheningan yang mungkin harus dilalui, takut dia malah pura-pura tidak melihatku, loh??

Ini sungguh terasa aneh. Sejak kapan aku merasa bingung harus bagaimana hanya karena akan berpapasan dengan seseorang? Terlebih dia bukan musuh, mantan, atau seseorang yang aku punya masalah dengannya. Rasanya seperti akan tiba-tiba ditakdirkan berpapasan dengan seseorang yang pada hari sebelumnya aku bertengkar hebat dengannya. Rasanya seperti akan tiba-tiba berpapasan dengan seseorang yang selama ini aku tidak akur dengannya. Sungguh untuk sekian detik itu aku merasa bingung harus bagaimana. Sempat terbersit pikiran untuk melarikan diri. Haruskah aku balik kanan saja? Pura-pura ada yang tertinggal? Tapi itu akan terlihat mencolok kalau aku tetiba balik kanan. Ah, aku berharap ada pertolongan datang, aku berharap seseorang yang lain tiba-tiba muncul di jalanan ini. Aku berharap bisa menghilang atau menemukan alasan untuk menghindari momen ini. Tapi ah, ini tak bisa dihindari, detik-detik itu pun tiba, tak ada pertolongan, tak ada orang lain yang lewat, bahkan tak ada lubang yang bisa aku masuki tiba-tiba untuk menghilang. Sesaat aku tak bisa berpikir harus bagaimana aku menyapa, kata-kata apa yang harus kulontarkan, tenggorokanku tercekat. Sumpah kakiku terasa berubah jadi gundukan daging tanpa tulang, kakiku terasa rontok. Hingga akhirnya pada detik itu, detik dimana aku bahkan tidak sanggup melihat wajahnya, apalagi kalau harus melihat ke arah matanya, detik dimana aku bingung harus melihat ke arah mana, detik dimana kakiku terasa begitu lemas, kulihat sekilas sepertinya dia akan melewatkanku begitu saja, seolah dia tidak melihatku, atau akan tak acuh lewat begitu saja, lidahku yang mendadak terasa kelu pun akhirnya mampu menyapanya dengan satu kalimat sekadar untuk memecah kecanggungan, pertanyaan yang sebenarnya aku sudah tahu jawabannya, yang entah terdengar ataukah tidak, rasanya begitu pelan hingga kukira gaungnya hanya terdengar oleh telingaku sendiri. Tapi kemudian kudengar dia menjawab pelan dengan satu kata yang membuatku menarik nafas lega pada detik berikutnya.

Ah akhirnya kecanggungan dan keheningan itu usai sudah. Aku melanjutkan perjalanan dengan kaki lemas. Loh kenapa sih mesti kayak gini? Mesti ngerasa tulang kaki tetiba rontok seperti dulu saat SMA berpapasan dengan ketua OSIS yang favorit cewek satu sekolahan dan disenyumi olehnya, lunglai, seperti mau pingsan.

Dan ketika tiba di ujung jalan, kujitak kepalaku sendiri. Bodoh, kenapa juga mesti lemas dan kebingungan seperti itu? Sejak kapan aku menjadi sepengecut ini?

Diposkan pada catatan harian, Cerita Pendek, Surat untuk Dia, Uncategorized

Retoris

Barangkali, kalimatku memang selalu retoris bagimu. Tak ada bedanya entah itu deklaratif, interogatif, ataupun imperatif. Bagimu semua sama, hanya retoris. Entah aku sedemikian rupa menyusun kata agar tak bernada sumbang, entah sepuisi apa kalimat-kalimat itu kuracik, bagimu tetap sama: retoris.

Aku mengerti bahwa setiap jiwa memiliki diksi sendiri-sendiri. Dan retoris nyata sebagai diksimu.

Aku mengerti.

Aku tak perlu merasa terluka hanya karena menginginkan metafora atau asosiasi.

Diposkan pada catatan harian, Cerita Pendek, Surat untuk Dia

Selain mendoakanmu, apa lagi yang bisa kulakukan?

Entah kepedihan seperti apa yang kualami. Seperti ada daun alang-alang yang tumbuh di dada dan menggesek-gesek di sana. Semakin hari, semakin mengingatmu, rasanya semakin bagaikan disayat-sayat.

Tidak ada yang pergi, sebab kau bahkan belum datang. Aku melongok dari balik gorden seperti menunggu hujan turun padahal hari tengah begitu cerah. Aku merasa patah bahkan sebelum tumbuh.

Tidak ada orang yang pernah merencanakan akan jatuh cinta kepada siapa. Pun aku. Jangan membenciku sebab aku jauh lebih tersiksa dan tersakiti. Aku mengalami hari-hari dimana aku ingin menghabiskan detik dengan berlari dan berteriak, menangis sejadi-jadinya hingga air mata kering, atau kembali ke masa lalu dan tidak pernah mengenalmu.

Kau tidak akan pernah mengerti pedih seperti apa yang kualami. Tak ada yang mampu kulakukan pula sebagai wujud rasa. Aku hanya akan menyayangimu melalui doa-doa yang kubumbungkan ke langit. Bagiku, seperti itu saja sudah merupakan cinta.

Yah, benar. Begitu saja. Selain mendoakanmu, memangnya apa lagi yang bisa kulakukan?

Diposkan pada catatan harian, Cerita Pendek, Uncategorized

Ini hujan bulan Junimu

Di pemakaman, sore kemarin, aku tercenung dengan mulut yang tak henti merapalkan ayat-ayat doa untuk kepergian ibumu. Sementara air mata dengan derasnya menjadi sungai di pipimu, pun di pipiku. Tanah merah. Orang-orang yang berkerumun. Semuanya saksi kedukaanmu. Hujan yang mengguyur sore itu seolah ikut berduka untuk dukamu.

Aku mengerti kesedihanmu. Bukan, bukan hanya sekadar mengerti. Aku merasakan kepedihannya. Ditinggalkan orang yang dicintai yang selama ini senantiasa membersamai tentu adalah hal yang maha berat.

Aku tercenung memandangi gundukan tanah merah itu. Air mata menderas mengingat suatu hari akan tiba giliranku ditidurkan di bawah dinginnya gundukan itu untuk selamanya. Aku berteriak dalam diam. Menjerit tanpa jeritan. Aku takut, sebab dosa yang tak terhingga kupikul.

Ini penghujung Juni, dan hujan. Tanpa pernah kita sangka Juni ini menjadi Juni yang mengirim duka kepadamu. Namun percayalah kamu tidak sendirian. Dukamu telah menjadi dukaku. Tak sanggup aku membayangkan betapa menakutkannya bumi ini saat orang tua tak akan ada lagi, pergi meninggalkan selamanya. Itu tentu jauh lebih menakutkan daripada tersesat sendirian dalam hutan. Kau tahu, dukamu telah menjadi pengingat bagiku untuk menjadi lebih baik bagi ayah dan ibuku.

Kau masih harus bahagia. Masih ada banyak orang yang menyayangimu. Sementara, kupikir, seandainya itu terjadi kepadaku, aku tidak memiliki sesiapapun lagi yang akan mencintaiku. (Semoga Alloh swt memberikan keberkahan panjang usia dan kesehatan untuk ayah dan ibuku).

Ini hujan bulan Junimu. La tahzan, innalloha ma’ana.

Diposkan pada catatan harian, Cerita Pendek

Dia yang sedang flu hari ini

Dia terduduk lemas hari ini.

Hanya beberapa jarak di dekatku.

Satu kursi memisahkan.

Aku duduk memijat-mijat keyboard dengan mata yang tetap menghadap layar yang sesekali melirik ke arahnya.

Di ruangan ini hanya ada aku dengannya, tanpa sepatah kata.

Sesekali kudengar dia seperti menarik ingus. Sedang flu rupanya.

Aku ingin bertanya. Tapi lidah tidak merespon kemauan hati.

Kulihat dia terus menatap layar handphone.

Mungkin menunggu pesan dari seseorang.

Mungkin juga hanya melihat-lihat timeline orang lain.

Atau mungkin saja dia juga sama bingungnya denganku untuk sekadar beberapa kata.

Dan aku, entah kenapa merasa takut dia mengintip layar di depanku saat kutulis tentang ini.

Untunglah kemudian dia pergi, dengan ujung mataku yang mengekorinya.

Diposkan pada catatan harian, Cerita Pendek, Surat untuk Dia

Perihal jatuh kepadamu

Kau tahu, yang namanya cinta tak pernah bisa kita rencanakan akan jatuh kepada siapa. Seperti bola yang meluncur tajam dalam permainan bola voli, terkadang jatuh meluncur kepada orang yang tidak siap menerimanya, sehingga bola jatuh ke lapangan.

Ah, barangkali kau tidak tahu, betapa jatuh cinta kepadamu adalah sesuatu yang sangat menyulitkan, seperti soal uraian matematika yang kita tak tahu rumusnya tak tahu cara penyelesaiannya sehingga kertas ujian tetap kosong.

Jatuh cinta kepadamu nyaris seperti jatuh dari atas gedung tinggi, pasti terluka parah, jika pun misalnya, masih selamat dari kematian.

Ah, kau tentu tak akan pernah mengerti betapa jatuh cinta kepadamu adalah sesuatu yang sangat mengerikan. Bagaimana tidak, jika kenyataan berbicara bahwa kau hanya bisa kuhidupkan dalam mimpi. Jika kenyataannya nyaris seperti menikamkan belati pada dada sendiri.