Diposkan pada BPN30dayChallenge2018, Opini

How about social media? Dunia di mana mencibir dan menghujat orang lain menjadi budaya

Social media atau dalam bahasa Indonesia sering kita sebut media sosial alias medsos, dibangun dengan dua kata yaitu sosial dan media. Selama ini kita sering mendengar kalimat bahwa manusia adalah makhluk sosial. Apa sih sosial itu artinya? Kata sosial mulanya berasal dari bahasa latin β€œsocius” yang mempunyai arti segala sesuatu yang lahir, tumbuh, serta berkembang dalam kehidupan bersama. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dikatakan bahwa sosial artinya berkenaan dengan kehidupan masyarakat. Itulah kenapa dikatakan manusia adalah makhluk sosial karena tidak bisa hidup sendirian, harus hidup bermasyarakat. Lalu media, apa artinya media? Kembali dalam KBBI dikatakan bahwa media berarti alat. Berarti kalau digabung, media sosial berarti alat untuk bermasyarakat, alat untuk bergaul dengan orang lain dalam kehidupan masyarakat.

Seperti kita tahu bahwa sekarang ini yang namanya medsos itu sudah sangat menyebar dan banyak sekali jenisnya bak jamur di musim hujan. Medsos benar-benar memasyarakat. Dari balita sampai lansia hampir semua mengenal medsos.

Lihat saja, sekarang keponakan saya yang masih PAUD sudah keranjingan menonton youtube. Dia bisa betah di rumah seharian hanya dengan menonton orang lain bermain boneka atau bermain rumah-rumahan di youtube daripada memainkan sendiri boneka atau rumah-rumahan dengan temannya. Kadang-kadang, walaupun banyak teman bermain di rumahnya atau dia yang bermain di rumah temannya, mereka berkumpul menonton youtube. Tidak heran kalau sekarang banyak orang menjadi kaya dengan penghasilan dari youtube walaupun mungkin konten yang diunggahnya hanya seperti itu atau bahkan unfaedah. Dari sini saya ingin menghimbau para youtuber dan para vlogger agar membuat konten yang sarat faedah karena tayangan-tayangan itu bahkan ditonton anak kecil.

Saya sendiri menonton youtube hanya untuk menonton video klip lagu-lagu atau melihat video-video ilmu pengetahuan atau berita yang terkait dengan pelajaran untuk dijadikan media pembelajaran. Jadi, terima kasih para youtuber yang sudah membuat konten-konten bagus yang bahkan bisa dijadikan bahan pelajaran.

Medsos pertama yang saya kenal dulu adalah friendster. Jadul banget ya. Dulu saya sangat bangga dan takjub banget dengan friendster ini. Bangga karena belum banyak orang yang mengenal medsos dan saya adalah salahsatu yang sudah mengenalnya. Bangga karena waktu itu teman-teman saya banyak yang tidak tahu apa itu FS dan hanya segelintir yang sering ke warnet yang tahu (dulu kalau mau internetan harus ke warnet) dan dengan perasaan bangga saya menjelaskan FS ini kepada teman-teman πŸ˜‚. Kenapa takjub? Ya saya takjub sekali ketika menggunakan FS ini karena di sana saya bisa menemukan dan berhubungan kembali dengan teman-teman lama saya yang sudah lost contact. Benar-benar takjub saya waktu itu. πŸ˜‚

Selang beberapa lama setelah FS, tetiba muncullah facebook yang lebih mudah digunakan dan ternyata lebih menjamur. Berbondong-bondong orang menggunakan FB termasuk saya. FB kemudian menjadi medsos yang paling merakyat (menurut saya) karena penggunanya dari semua kalangan.

Saya sendiri sempat ilfil kepada FB dan ingin menutup akun karena terlalu banyak anak-anak alay pengguna FB atau bahkan orang-orang tua juga yang suka bikin status alay dan aneh (mungkin saya juga pernah alay seperti itu tapi tidak parah 😬), orang-orang yang suka bikin status berisi keluhan, kemarahan, atau umpatan sungguh membuat saya merasa muak dengan FB. Akhirnya, solusinya saya meng-unfriend orang-orang yang suka bikin status yang membuat saya merasa muak.

Lalu, ada medsos yang sangat saya sukai yaitu instagram. Barangkali karena saya bisa melihat foto orang lain di tempat yang bagus dan saya juga bisa memilih untuk hanya mengikuti yang konten-kontennya tidak memuakkan.

Blog? Ini yang paling saya sukai karena banyak sekali ilmu pengetahuan yang didapat di sini.

Kembali ke perihal media sosial, tentu saja saya tidak memungkiri ada positif dan negatifnya. Positifnya, setiap orang bisa kembali menyambung silaturahmi dengan teman atau bahkan saudara yang sudah jauh dengan mudah dan murah. Dalam medsos juga orang bisa berkarya baik itu dalam bentuk video, foto, ataupun kalimat-kalimat (dalam bentuk tulisan). Namun di sisi lain, negatifnya, banyak orang yang kemudian menjadi terlalu berani mengungkapkan umpatan kemarahan terhadap orang lain, mungkin karena tidak berhadapan secara langsung sehingga keberaniannya meningkat, terlalu berani untuk mengomentari bahkan mengurusi hidup orang lain, mem-bully orang lain, memojokkan, atau mengumbar aib diri sendiri dan orang lain. Ini yang membuat saya teramat muak.

Dengan media sosial orang yang dalam kehidupan sehari-hari kesulitan berbicara mengungkapkan pendapat bisa begitu lancar di medsos. Dengan media sosial, orang yang dalam dunia nyata tidak berani menghujat dan memarahi orang lain, bisa menjadi teramat berani dan bahkan mampu mengeluarkan hujatan berlebihan. Apalagi dengan adanya akun-akun gosip artis yang kerjaannya mengikuti kehidupan pribadi artis dengan segenap komentar dan hujatan para netizen seolah menjadikan hal bergosip dan menghujat orang lain sebagai hal biasa dan bahkan membudaya. Seolah mengumbar aib dan keburukan orang lain adalah daya tarik tersendiri dan para netizen itu beramai-ramai memberi komentar, menghujat, ikut marah, seolah semua itu memang urusan mereka. Ah, sudahlah. Sekali lagi sosial media itu baik jika digunakan dengan baik, untuk hal-hal yang bermanfaat, jangan sampai menggunakannya untuk hal-hal yang unfaedah dan membuang-buang waktu seperti mengurusi dan menghujat hidup orang lain sebab hidup kita juga belum tentu benar. Terakhir, jangan sampai kita memasyarakatkan, membudayakan hal-hal seperti mengumbar kemarahan, mengumbar aib, dan menghujat orang lain dengan adanya media sosial ini.

Iklan