Diposkan pada Catatan Perjalanan, Puisi

Pantai Mawun

Bagaimana harus kupuisikan pantai ini?

Memuja keindahannya dan memperumpamakannya denganmu? Ah, aku pasti bercanda dan kau akan tertawa karenanya

Ingin sekali kumetaforakan birunya langit, hamparan pasir yang memucat, atau toska laut dengan renyahnya tawamu,

Ingin sekali kukatakan bahwa denyar ombak yang hilir mudik itu adalah aku yang sedang mencoba menemukan jejak kaki yang kau tanggalkan waktu itu di antara bulir-bulir pepasir,

Namun sepertinya aku tlah kehabisan kosakata.

Kau tahu? Pantai ini adalah seuntai puisi yang secara pribadi ditulis langsung oleh Tuhan dengan diksi yang tak pernah ada dalam kamus manapun.

Bukankah Tuhan begitu puitis?

Sedangkan kau? Adalah larik-larik dalam bait puisiku yang seharusnya kuhapus

Dan aku, hanyalah seorang pemuja yang miskin kata.

Iklan
Diposkan pada Puisi

Di antara bulir pasir mana kau menyembunyi?

Aku cemas padamu

Sudah terlampau jauh aku menyusur

Pantai-pantai dengan pasir yang menghitam, yang memutih, yang menguning, yang kasar seperti telapak tanganmu, yang lembut seperti tatapanmu, tak ada yang berbekas jejakmu

Di manakah kau bersembunyi?

Kau tahu, ombak-ombak yang berlarian di laut adalah aku yang mengejarmu

Berlari ke pantai mencari jejak yang dahulu pernah kita tapakkan bersama

Bukankah bulir-bulir kekuningan itu pernah begitu dalam menyimpan jejakmu?

Aku cemas padamu

Aku terus berlarian menghampiri setiap bulir pasir di setiap pantai

Menghampiri setiap kaki yang menjejak

Menghampiri setiap payung yang diletakkan di tepi

Barangkali saja, payung itu yang pernah meneduhi kita di hadapan laut waktu itu

Aku bertanya, kepada bocah-bocah telanjang yang berenang

Adakah mereka tahu di mana seseorang yang sedang bermain petak umpet bersembunyi?

Aku bertanya kepada turis-turis yang berjemur tanpa busana

Adakah mereka tahu seseorang yang menyimpan jejak kakinya di pasir? Adakah mereka melihat seseorang yang mudah sekali marah mengutuk-ngutuk di pantai ini?

Dan gelengan kepala mereka memaksaku menggulung diri kembali ke laut.

Aku cemas padamu

Di antara bulir pasir mana kau menyembunyi?

Aku harus menjadi ombak di laut mana agar bisa bertemu denganmu?

Sungguh, aku cemas padamu.