Diposkan pada catatan harian, Surat untuk Dia

Tell me how to reach your heart

Do you know? I am happy just because your smile.

Because of you I can make a definition that happy is not need a thousand of spotlight, not need some of luxury, or must be crowded.

For me, you are the luxury. Don’t bring a diamond, or a gold chunks, just your arrival was a luxury for me.

I always imagine you in every empty seat i sit beside. I always imagine you when i opened or closed my eyes. For me, you are the real poetry.

Tell me, how to reach your heart?

Iklan
Diposkan pada catatan harian, Cerita Pendek, Surat untuk Dia, Uncategorized

Retoris

Barangkali, kalimatku memang selalu retoris bagimu. Tak ada bedanya entah itu deklaratif, interogatif, ataupun imperatif. Bagimu semua sama, hanya retoris. Entah aku sedemikian rupa menyusun kata agar tak bernada sumbang, entah sepuisi apa kalimat-kalimat itu kuracik, bagimu tetap sama: retoris.

Aku mengerti bahwa setiap jiwa memiliki diksi sendiri-sendiri. Dan retoris nyata sebagai diksimu.

Aku mengerti.

Aku tak perlu merasa terluka hanya karena menginginkan metafora atau asosiasi.

Diposkan pada catatan harian, Cerita Pendek, Surat untuk Dia

Selain mendoakanmu, apa lagi yang bisa kulakukan?

Entah kepedihan seperti apa yang kualami. Seperti ada daun alang-alang yang tumbuh di dada dan menggesek-gesek di sana. Semakin hari, semakin mengingatmu, rasanya semakin bagaikan disayat-sayat.

Tidak ada yang pergi, sebab kau bahkan belum datang. Aku melongok dari balik gorden seperti menunggu hujan turun padahal hari tengah begitu cerah. Aku merasa patah bahkan sebelum tumbuh.

Tidak ada orang yang pernah merencanakan akan jatuh cinta kepada siapa. Pun aku. Jangan membenciku sebab aku jauh lebih tersiksa dan tersakiti. Aku mengalami hari-hari dimana aku ingin menghabiskan detik dengan berlari dan berteriak, menangis sejadi-jadinya hingga air mata kering, atau kembali ke masa lalu dan tidak pernah mengenalmu.

Kau tidak akan pernah mengerti pedih seperti apa yang kualami. Tak ada yang mampu kulakukan pula sebagai wujud rasa. Aku hanya akan menyayangimu melalui doa-doa yang kubumbungkan ke langit. Bagiku, seperti itu saja sudah merupakan cinta.

Yah, benar. Begitu saja. Selain mendoakanmu, memangnya apa lagi yang bisa kulakukan?

Diposkan pada catatan harian, Cerita Pendek, Surat untuk Dia

Perihal jatuh kepadamu

Kau tahu, yang namanya cinta tak pernah bisa kita rencanakan akan jatuh kepada siapa. Seperti bola yang meluncur tajam dalam permainan bola voli, terkadang jatuh meluncur kepada orang yang tidak siap menerimanya, sehingga bola jatuh ke lapangan.

Ah, barangkali kau tidak tahu, betapa jatuh cinta kepadamu adalah sesuatu yang sangat menyulitkan, seperti soal uraian matematika yang kita tak tahu rumusnya tak tahu cara penyelesaiannya sehingga kertas ujian tetap kosong.

Jatuh cinta kepadamu nyaris seperti jatuh dari atas gedung tinggi, pasti terluka parah, jika pun misalnya, masih selamat dari kematian.

Ah, kau tentu tak akan pernah mengerti betapa jatuh cinta kepadamu adalah sesuatu yang sangat mengerikan. Bagaimana tidak, jika kenyataan berbicara bahwa kau hanya bisa kuhidupkan dalam mimpi. Jika kenyataannya nyaris seperti menikamkan belati pada dada sendiri.

 

Diposkan pada Surat untuk Dia

Kepada My Zy #3

Zy, tadi siang dalam pembicaraan dengan beberapa teman aku mengatakan bahwa yang lebih mencintai akan cenderung lebih mengalah. Ungkapan itu tiba-tiba keluar dari mulutku saat beberapa teman sedang terlibat perdebatan seputar laki-laki susis. Aku berargumen bahwa sebenarnya tidak ada yang namanya laki-laki susis, kalaupun ada laki-laki yang mengalah kepada perempuan, itu bukan karena takut, melainkan karena lebih mencintai.

Kupikir karena itulah selama ini aku selalu mengalah padamu. Karena aku lebih mencintai. Aku mengalah saat kamu marah, aku juga mengalah saat aku sendiri yang merasa marah. Aku meminta maaf saat membuatmu marah, aku juga meminta maaf saat aku yang seharusnya marah.

Bukankah benar Zy? Bahwa yang lebih mencintai akan menjadi pihak yang lebih banyak tersakiti. Mungkin karena itulah aku sering menangis diam-diam saat merelakan diri untuk mengalah karena takut ditinggal pergi.

Mungkin benar pula bahwa mencintai adalah merelakan diri untuk disakiti. Tidakkah aku seperti itu, Zy?