Diposkan pada Uncategorized

?

Tuhan tahu, betapa bersyukurnya aku atas hari ini. Sungguh hari yang menyenangkan, aku bisa melihatnya lebih lama, lebih dekat. Dia tidak menghindar seperti biasanya. Dia bahkan baik-baik saja berdiri di sampingku, tertawa bersamaku. Aku bahkan sangat bersyukur jika pun itu hanya sekadar bisa menghitung jerawat di tepi keningnya.

Aku menggeser vas bunga di meja agar tak menghalangi upayaku memandanginya. Dia tahu. Dia melirik padaku. Entah apa yang dia pikirkan tentang itu. Mungkin dia kesal, mungkin juga dia salting. Duh bahkan malam ini aku tak mampu menghalau bayangannya.

Cinta barangkali memang memiliki kekuatan untuk membuat hal-hal sederhana menjadi sangat membahagiakan. Kemarin malam hatiku melompat-lompat kegirangan hanya karena dia mau memakan nasi goreng yang kubelikan untuknya secara diam-diam.

Ah, Tuhan, aku sungguh mencintainya, tapi tak ada yang bisa kulakukan.

Iklan
Diposkan pada Uncategorized

Kenangan Masa Kecil

Pada masa prasekolah, alias sebelum saya masuk sekolah dasar (karena saya tidak bersekolah PAUD maupun TK), saya memiliki tiga orang teman sepermainan. Satu perempuan dan dua laki-laki. Yang perempuan bernama Ana, dia teman sejak orok karena saya dan dia memang bersepupu. Rumah orang tua kami juga bersebelahan. Sementara yang dua laki-laki adalah anak tetangga rumah depan belakang bernama Deni yang biasa kami panggil Apeh dan satu lagi Aris. Di kemudian hari, saya, Ana, dan Apeh menjadi teman satu kelas di SD, sedangkan Aris pindah rumah mengikuti orang tuanya ke Kota Banjar sehingga karena itu pada masa remaja dan dewasa kami menjadi asing meski Aris kerap datang ke rumah neneknya yang dekat rumah kami.
Yang paling saya ingat adalah saat Apeh disunat dan kami tetap mengajaknya bermain seperti biasa. Kami bermain petak umpet dengan Apeh yang memakai topi pada bagian “itu”-nya 😂 serta memakai sarung.

Pada masa-masa itu aku dan Ana memiliki teman khayalan yaitu Kiki dan Nonoh. Teman khayalan di sini maksudnya adalah teman yang berasal dari imajinasi kami berdua. Setiap hari saat kami bermain berdua, kami selalu bermain seolah-olah kami bermain berempat, dalam imajinasi kami, kami tidak bermain berdua saja melainkan ada dua teman lain lagi yaitu Kiki dan Nonoh.

Saya masih ingat kami sering bermain portal-portalan dengan pohon waregu (apa ya namanya pohon waregu dalam bahasa Indonesia🤔😁) pokoknya pohon yang batangnya lurus dan lentur sehingga kami bisa menariknya ke bawah untuk menghalangi jalan seperti sebuah portal masuk. Pohon itu tumbuh di depan rumah nenek kami. Siapapun yang lewat di depan rumah nenek kami akan kami halangi jalannya dengan portal itu dan baru bisa lewat kalau sudah membayar dengan uang dari daun 😂. Tentu saja Kiki dan Nonoh juga ikut bermain di sana.

Pada masa itu saya dan Ana juga sangat takut dengan seorang anak laki-laki nakal yang suka mengganggu kami bernama Aay. Di kemudian hari Aay juga menjadi teman satu kelas kami di SD.

Di sekolah dasar, teman sekelas saya ada 22 orang dengan sembilan perempuan dan sisanya laki-laki. Pada saat masih kelas 1,2,3 semuanya baik-baik saja. Konflik yang terjadi hanya seputar menulis aksara tegak bersambung, hapalan perkalian, dan pemeriksaan kuku yang panjang atau hitam.

Di kelas 4 mulai ada konflik yang terjadi. Ternyata yang namanya bullying itu sudah ada sejak zaman saya pun, hanya namanya yang baru dikenal akhir-akhir ini. Dulu ada seorang teman sekelas saya bernama Kokon Koniah yang selalu dibully secara verbal bahkan selalu dipukuli oleh anak-anak laki-laki. Setiap anak laki-laki di kelas akan menyumbang satu atau dua pukulan kepadanya sembari memberikan cercaan seperti bau, jelek, kotor, tolol, atau kata-kata kasar dan menghina lainnya.

Waktu itu saya merasa tidak tahan melihat semua itu. Sebagai sesama anak perempuan saya merasa kasihan kepada Kokon juga merasa kesal kepada anak-anak laki-laki. Saya dan beberapa anak perempuan lain mencoba membela Kokon. Setiap ada satu anak laki-laki yang memukul Kokon, maka saya akan membalas memukul anak laki-laki itu. Akibatnya, saya dan semua anak perempuan lain akhirnya dimusuhi oleh anak-anak laki-laki di kelas. Setiap hari mereka jadi rutin memukul anak perempuan lain bukan hanya Kokon. Jadinya saya berkelahi setiap hari dengan mereka.

Saya ingat, pernah suatu ketika di kelas 4, keadaan sedang damai saat kami membuka-buka buku sejarah. Dalam buku sejarah kelas 4 SD itu di antaranya ada dua gambar pahlawan, yakni Ki Hajar Dewantara dan KH. Mas Mansur. Anak-anak laki-laki berpendapat bahwa KH. Mas Mansur adalah Ki Hajar Mas Mansur sama seperti Ki Hajar Dewantara. Sementara menurut saya, KH pada KH Mas Mansur bukan singkatan dari Ki Hajar Mas Mansur melainkan Kiai Haji Mas Mansur. Terjadilah perdebatan sengit mengenai itu yang kemudian menjadi perkelahian. Jadi ya begitu hal-hal sepele bisa jadi permusuhan yang berujung perkelahian. Bahkan pernah saya dimusuhi dan harus berkelahi dengan mereka hanya karena saya mendapat dispensasi tidak masuk kelas waktu saya mengikuti lomba mata pelajaran juga lomba LT III Pramuka. Waktu itu saya memang seringkali ditunjuk guru untuk mengikuti berbagai lomba sehingga kerap tidak masuk kelas karena dispensasi, lucunya, teman-teman laki-laki itu merasa kesal karena saya bisa tidak ikut belajar sementara mereka harus tetap terkurung di kelas untuk belajar.

Pernah suatu kali di kelas 5, saya berkelahi dengan seorang teman bernama Iwan yang biasa dipanggil Bemo. Saya ingat waktu saya udah kepepet menabrak meja guru sampai memecahkan vas bunga. Untuk mempertahankan diri, saya cakar saja si bemo itu dan tangan saya masuk ke dalam saku depan bajunya, lalu saya tarik tangan saya sehingga menyebabkan baju si bemo robek sampai semua kancing bajunya berhamburan. Untungnya orang tua si bemo tidak meminta ganti rugi.

Pada masa kegentingan itu, yang bahkan sempat membuat saya ingin pindah sekolah, saya memiliki seorang pahlawan berkuda putih yang selalu membela saya saat saya harus berkelahi dengan teman-teman laki-laki itu. Dia adalah anak kelas 1 SMP yang berasal dari Bandung dan tinggal di pesantren tempat saya belajar mengaji. Setiap kali ada teman laki-laki yang mengganggu saya, dia pasti akan turun tangan membela saya bahkan dia berani berkelahi melawan delapan orang sekaligus dan untungnya selalu menang. Sejak itu saya sungguh menganggapnya pahlawan nasional dalam hidup saya. Mungkin juga itu adalah pertama kalinya saya merasa dicintai tapi saya terlalu kecil untuk mengerti bahwa itu adalah cinta. Namanya Sahrul Fatoni. Saya biasa memanggilnya Toni. Tidak apa-apa saya sebutkan namanya toh kemungkinan besar dia tidak akan membaca tulisan ini. 😁 Toni selalu hadir membela saya, berkelahi untuk saya, sehingga saya mengurungkan keinginan pindah sekolah. Saya pikir tidak apa-apa kalaupun seluruh dunia memusuhi saya selagi saya memiliki Toni yang akan selalu membela (mungkin pikiran ini terlalu dewasa untuk anak kelas 5 SD 😁). Kadang saya kasihan lihat Toni berkelahi habis-habisan melawan geng teman laki-laki SD  saya hanya karena seorang dari mereka melemparkan sandal saya ke atas genting. Dia juga akan bersusah payah naik genting untuk mengambilnya. Sekali lagi, untungnya, Toni pandai berkelahi sehingga selalu menang berapa banyak pun lawannya.

Diposkan pada BPN30dayChallenge2018, Uncategorized, Writting Challenge

5 Tips Hidup Sehat

5 TIPS HIDUP SEHAT

Setiap orang tentu mendambakan hidup sehat. Memangnya siapa yang ingin sakit? Tidak mungkin ada. Kesehatan adalah rezeki tersendiri, anugerah yang kadang dilupakan orang sebagai rezeki. Kebanyakan orang beranggapan bahwa rezeki itu melulu tentang uang, harta kekayaan, atau makanan, padahal kesehatan juga adalah rezeki yang tak ternilai harganya. Sebab kalaupun punya banyak harta, mampu membeli makanan enak, jika tubuhnya sakit, maka tak akan bisa menikmati semua harta kekayaan itu. Harta pun akan habis untuk membeli sehat. Nah, maka dari itu kita sangat perlu menjaga kesehatan agar tubuh kita terjaga dari penyakit. Untuk menjaga kesehatan itu kita bisa melakukannya dengan cara-cara sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Minum air putih

Minum air putih adalah hal yang sangat penting untuk tubuh terutama untuk kesehatan ginjal. Konon katanya tubuh kita memerlukan asupan air putih atau air mineral yang cukup banyak. Pagi hari saat bangun tidur sebaiknya kita minum air putih hangat. Apalagi setelah makan, sebaiknya tidak minum apapun selain air putih atau air mineral. Untuk hal ini saya sudah membiasakan diri mau makan di manapun, di restoran atau di foodcourt manapun (kecuali di PH sih) 😁, saya selalu memesan air mineral untuk minumannya.

Tidur yang cukup

Maafkan acting tidur gue yang keliatan palsu, haha

Begadang jangan begadang, kalau tiada artinya,, begitu kata Bang Haji Roma. Memang benar kata bang haji sebaiknya kita tidak boleh begadang sebab tubuh membutuhkan istirahat yang cukup. Menurut pakar kesehatan setidaknya kita harus tidur minimal 8 jam per hari. Apalagi katanya bagian tubuh memiliki jam istirahat tersendiri yang pada jam tersebut kita harus istirahat. Misalnya untuk kesehatan jantung pada pukul 11 malam kita harus sudah tidur. Lagipula tidur yang cukup pada malam hari akan membuat kita fresh dan bugar pada siang hari.

Sarapan

Nah, salah satu hal yang sangat penting menurut saya adalah sarapan. Kalau saya sendiri sih badan akan jadi lemas, loyo, dan pusing jika beraktivitas tanpa sarapan. Menurut sebuah studi, kadar kolesterol jahat (LDL) pada wanita sehat yang tidak sarapan cenderung lebih tinggi dibandingkan mereka yang sarapan. Mereka yang membiasakan diri untuk sarapan juga cenderung mengonsumsi lebih sedikit kalori dibandingkan mereka yang melewatkan sarapan. Dengan demikian, sarapan membantu melindungi tubuh dari penyakit. Kebiasaan sarapan pagi juga bisa membuat kalian lebih fokus dan produktif dalam mengerjakan pekerjaan di kantor ataupun sekolah karena perut sudah diisi. Jika kalian tidak sarapan pagi, kemungkinan daya pikir kalian bisa menurun. Selain itu, katanya sarapan pagi juga dapat membantu menurunkan berat badan loh. Penelitian menunjukkan bahwa sarapan pagi dengan menu yang sehat dapat membantu menurunkan berat badan. Dengan sarapan, kalian tidak akan terlalu lapar pada siang hari, sehingga keinginan untuk mengonsumsi makanan berlebihan pada saat makan siang dapat terhindarkan. Ketika kalian melewatkan sarapan pagi, maka akan lebih mudah untuk tergoda mengonsumsi makanan lain yang tinggi kalori namun tidak mengenyangkan. Tidak sarapan membuat kebutuhan harian tubuh akan vitamin dan nutrisi sulit untuk terpenuhi. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang sarapan lebih mungkin untuk memenuhi kebutuhan gizinya secara menyeluruh, baik itu asupan serat, kalsium, vitamin A, B, C dan vitamin lainnya yang dibutuhkan tubuh. So, kalian yang tidak suka sarapan. mulai sekarang sarapanlah!

Kurangi konsumsi gula, Perbanyak makan buah-buahan

Perbanyak makan buah-buahan guys

Eating an apple a day keeps the doctor away

Mengurangi konsumsi terhadap makanan dan minuman yang mengandung gula atau glukosa akan membantumu untuk hidup sehat. Secara, glukosa menyebabkan berbagai masalah pada tubuh seperti diabetes. Kalau saya sendiri sih, mengurangi gula dengan cara berhenti meminum minuman bersoda, pokoknya say no to soda, juga membiasakan meminum air mineral walaupun makan di resto atau di foodcourt, tidak membeli minuman yang mengandung kadar gula tinggi. Kalau makanan sih saya sendiri masih sulit untuk mengurangi konsumsi nasi apalagi menggantinya dengan yang lain. Untuk meminimalisasi konsumsi gula, biasakan juga makan buah-buahan. Gantilah kue-kue manis atau gorengan atau makanan yang terbuat dari tepung terigu dengan buah-buahan. Kalau saya sendiri sih merutinkan diri mengonsumsi buah plum.

Travelling alias rutinkan piknik

Ini saya sedang nongkrong di Puncak Gunung Merapi

Nah, ini sangat penting kawan, demi kesehatan pikiran dan perasaan agar tidak stres. Apalagi jika kalian adalah orang yang kelelahan berperang dengan aktivitas pekerjaan setiap hari. Stres adalah tanda-tanda kelelahan. Maka sangat penting untuk selalu menyempatkan pergi berlibur agar merefresh otak yang selalu bergumul dengan drama pekerjaan apapun setiap hari.
Menurut sebuah studi dari Universitas Negeri New York di Oswego, setelah mengamati 12.000 pria ditemukan bahwa pria yang pergi berlibur bisa mengurangi risiko mengalami kematian dengan segera sebesar 20%. Hal yang sama juga didapatkan dari sebuah artikel New York Times, kalian bisa meningkatkan 21% tingkat kematian dengan cepat ketika kalian nggak mengambil liburan setiap tahun.
Menurut para peneliti dari  Amerika dan Perancis, liburan bisa meningkatkan kemampuan dalam memecahkan masalah, meningkatkan kesadaran akan koneksi yang terputus serta mendorong orang untuk mencoba sesuatu yang baru. Dengan begitu, liburan juga berarti bisa membuat kalian lebih kreatif. Makanya, ini udah Desember, ayo berlibur kawan!

Diposkan pada BPN30dayChallenge2018, Uncategorized, Writting Challenge

[Blogger Perempuan Network 30 Days Writting Challenge : Day 11]

ABOUT MY COLLECTION

Tantangan hari ke-11 ini tentang barang yang dikoleksi di rumah. Kalau bicara tentang barang koleksi, yang pasti saya koleksi sih buku karena memang suka membaca sejak kecil.

Novel dan komik

Novel dan komik adalah jenis buku yang saya koleksi. Tidak aneh ya, sebab memang jenis buku yang menyenangkan untuk dibaca. Sebenarnya saya juga berminat membaca buku-buku tentang komputer dan ensiklopedia-ensiklopedia, hanya saja biasanya saya membaca buku-buku itu di perpustakaan, atau di Gramedia, kan suka ada ya buku sampel yang udah dibuka plastiknya, jadi biasanya numpang baca aja di sana sampai selesai, gak dibeli, yang dibelinya tetep novel.  Itulah kenapa saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam di Gramedia dan itu juga alasan kenapa biasanya saya tak pernah mengajak siapapun ke Gramedia, soalnya pasti boring nungguin saya membaca, selain juga karena di antara teman-teman yang dekat tidak ada yang memiliki minat yang sama terhadap buku. Jadi, kalau pergi bersama teman pun, biasanya bareng-barengnya makan dan belanja saja, selanjutnya saya akan pergi ke Gramedia sendirian dan mereka pulang.

Mengapa mengoleksi novel dan komik? Jadi sebenarnya saya memiliki keinginan untuk membuat perpustakaan pribadi di rumah dengan konsep semacam taman bacaan yang dibuka untuk umum. Alangkah menyenangkan apabila nanti banyak orang, tua-muda, remaja dan anak-anak datang ke rumah saya untuk membaca. Saya akan menyatukannya dengan cafe dan taman sehingga mereka bisa membaca dengan santai. Dengan begitu barangkali minat baca bangsa Indonesia bisa meningkat. Nah, dalam rangka mewujudkan cita-cita luhur itu, maka  sejak kuliah saya mulai mengumpulkan novel dan komik. Dengan sisa uang bekal yang tidak seberapa, itu pun hasil berhemat, saya selalu datang ke berbagai pameran buku di Yogyakarta. Lumayan, punya uang seratus ribu saja bisa dapat banyak novel dan komik, sebab ada banyak komik yang bahkan harganya hanya lima ribuan. Sampai sekarang pun saya masih suka datang ke berbagai pameran buku biar bisa memborong buku dengan harga diskon. Selain itu, saya juga memprogramkan one month two books, minimal dalam satu bulan membeli dua buku.

Saya ingat waktu SMA, saya dan sepupu saya biasa datang ke taman bacaan di Ciamis dan meminjam buku untuk tiga hari. Biasanya kami menyewa banyak komik dan majalah. Waktu itu majalah yang suka kami sewa adalah majalah Annida dan  Aneka Yess. Senang sekali rasanya waktu itu datang ke taman bacaan dan menyewa buku untuk dibaca bareng-bareng temen di pesantren (waktu SMA saya tinggal di pesantren tapi sekolah di sekolah umum). Dari situlah saya terinspirasi ingin punya taman bacaan sendiri, nantinya siapapun tidak perlu menyewa, boleh meminjam dan membacanya.

Tupperware warna hijau

Nah selain buku, barang yang saya koleksi di rumah adalah barang-barang dari tupperware, khusus yang berwarna hijau. Dari mulai botol minum, gelas, piring, sendok, garfu, toples, mangkuk, dll. semuanya berwarna hijau.

Souvenir dan undangan pernikahan

Ini sih sebenarnya bukan hal yang sengaja dikoleksi. Namun karena kalau pergi ke undangan biasanya dikasih suvenir berupa gantungan kunci, kipas, miniatur boneka pasangan, gelas, dll. tanpa sengaja semua itu terkumpulkan dan menjadi banyak karena saya tidak membuangnya ataupun menggunakannya. Jadi semuanya saya taruh saja di suatu kotak khusus menyimpan suvenir pernikahan. Oh ya, saya juga sebenarnya tanpa sengaja mengumpulkan undangan pernikahan dari orang-orang yang mengundang saya sejak SMA, karena tak pernah dibuang, jadinya banyak sekali undangan pernikahan yang terkumpul, dari mulai yang sepertinya harganya murah sampai yang mahal. Mungkin tadinya buat referensi, contoh undangan pernikahan, hehe.

Struk belanjaan, struk makan, dll.

Haha, ngaco banget ya kayak gini dikoleksi, haha

Nah, ini juga bukan koleksi sih, tapi tau-tau terkumpul banyak karena tak pernah dibuang. Biasanya setelah belanja saya taruh struk belanjaan itu di dalam dompet sampai berjejal di dalam dompet dan membuat dompet terlihat tebal. Orang mungkin mengira tebal oleh uang, padahal, itu dompet tebal oleh struk belanjaan. Setelah dompet terasa sesak oleh struk, biasanya saya pindahkan struk-struk itu ke dalam stopmap bertali, apa sih ya namanya, pokoknya itu kayak tempat menyimpan file-file kertas, nah saya menggunakannya untuk menyimpan struk belanjaan dari hari ke hari, minggu ke minggu, sampai bertahun-tahun.  Bukan hanya struk belanjaan sebenarnya, tetapi juga struk makan, struk pembayaran sesuatu, tiket nonton, tiket bus, tiket kereta, tiket masuk tempat wisata, tanda terima dari kantor pos, tanda terima dari JNE, sampai bukti pembayaran uang kuliah setiap semester beserta KRS (Kartu Rencana Studi) setiap semester pada zaman kuliah dulu, pun masih ada dan lengkap.

Nah, itu dia koleksiku, haha. Apa koleksimu kawan?

Diposkan pada catatan harian, Cerita Pendek, Uncategorized

Seperti awan di langit, kau adalah angan terjauhku

Kau lihat awan-awan itu berarak? Aku senang sekali memandanginya sembari merebahkan tubuh di atas rerumput, atau sekedar telentang di atas air saat berenang. Rasanya membahagiakan. Rasanya mendamaikan.

Namun sayang sekali, selain menjadi kombinasi yang indah dengan birunya langit, ada satu fakta yang membuatku terhenyak: awan itu sangatlah jauh. Jauh sekali bahkan saat aku sudah sampai di puncak gunung tinggi sekalipun, berharap bisa menggapai awan, awan itu ternyata masih saja jauh.

Barangkali benar, bahwa yang indah kadang tercipta hanya untuk dipandangi dari kejauhan. Seperti awan-awan yang mengharmoni langit itu.

Barangkali benar, aku seharusnya menyerah saja menggapai awan. Tak apa dikatai pengecut. Tak apa disebut pecundang. Sudah. Sudahi saja. Tak usah lagi berlelah-lelah pergi mendaki gunung dengan harapan bisa dekat dengan awan. Nyatanya awan itu tetap saja jauh dan tak akan bisa kusentuh. Bahkan saat kucoba taktik lain, naik pesawat, yang katanya bisa sampai kepada awan, nyatanya, awan itu tetap saja jauh dari tanganku. Jauh, sangat jauh.

Ya, mungkin ini sudah waktunya untuk berhenti bermimpi di siang bolong. Sudah waktunya mengangkat bendera putih kepada awan-awan itu.

Diposkan pada Uncategorized

Mengapa dadaku berdebar hebat hari ini?

Ini perasaan yang sama, sama seperti waktu dulu sebelum naik panggung untuk lomba pidato, hati berdebar dan perut mulas tak karuan. Meski akhirnya tetap jadi juara.

Semenjak kemarin debar ini tak juga sirna. Semalam pun sulit tidur karena ada sesuatu yang entah apa membuat sesak. Apalagi hari ini, debar ini semakin hebat. Mungkin karena hari ini akan bermain pada final bola voli, bidang yang sebenarnya semenjak sekolah tak pernah kugeluti, bidang yang cukup asing bagiku dan aku baru belajar.

Semasa sekolah dulu aku bukan penggemar pelajaran olahraga meskipun sebenarnya aku adalah murid kesayangan guru olahraga killer yang juga adalah wali kelas saat itu. Mengapa jadi murid kesayangan padahal tidak jago olahraga? Itu karena aku membuatnya bangga dalam bidang akademik. Malah katanya aku dimasukkan di kelasnya dengan permintaan khusus darinya bersama dengan beberapa teman yang merupakan timnas voli sekolah, sehingga beliau bisa menciptakan kelas yang juara dalam bidang olahraga juga juara dalam bidang akademik.

Meskipun tidak jago olahraga dan lebih sering menonton di pinggir lapang saat pelajaran olahraga, nilai pelajaran olahragaku tidak pernah buruk. Bapak guru olahraga killer wali kelasku itu selalu memberikan nilai bagus untukku. Barangkali karena aku adalah murid kesayangan. 😂 Tapi sebenarnya bukan karena itu aku bersantai di pinggir lapang sementara yang lain bermain voli, bukan karena aku merasa punya jaminan pasti diberi nilai bagus, bukan pula karena aku tidak berminat untuk belajar bermain voli (sebab sebenarnya aku adalah orang yang sangat suka belajar), tapi lebih karena lapangnya selalu dikuasai oleh teman-temanku yang atlet timnas voli itu sehingga tidak memberikan ruang dan waktu bagiku untuk belajar.

Olahraga yang sewaktu sekolah aku cukup percaya diri melakukannya adalah lari. Aku bisa berlari dengan cukup cepat makanya semasa SMA pernah jadi juara lari marathon. Aku juga sangat menyukai olahraga beladiri makanya pernah mengikuti karate, wushu, dan juga taekwondo semasa SMA dan kuliah, meski ya, tidak mahir ketiganya.

Ketika menjadi guru, aku baru menyadari bahwa seharusnya dulu aku mempelajari segala hal sehingga banyak hal yang bisa kulakukan. Penyesalan memang selalu datang di akhir. Menyesal sekali dulu tidak pernah belajar bermain voli padahal seharusnya aku memanfaatkan dengan baik kesempatan sebagai murid kesayangan guru olahraga. Andai saja dulu belajar, barangkali hari ini, menjelang final pertandingan voli PGRI ini, debarnya tidak akan sehebat ini.

Sekarang yang harus kuatasi adalah menguasai hati sendiri. Menentramkan debar ini. Kata guru ngajiku dulu, ingatlah selalu kepada Alloh, sebab hanya dengan mengingat Alloh hati menjadi tentram. Semoga aku bisa.

Diposkan pada catatan harian, Cerita Pendek, Uncategorized

Cerita pendek tentang hari ini

Hari ini Jumat, 12 Oktober 2018, empat hari menuju masa sulit menghadapi kenyataan menjadi semakin tua, aku malah mendapati kenyataan yang lumayan aneh, aneh tetapi nyata.

Dari kejauhan, aku melihatnya berjalan. Kulihat dia juga melihatku. Tiba-tiba aku merasa belingsatan, bingung, karena aku sedang menuju ke arahnya, bingung aku harus bagaimana kalau berpapasan nanti, canggung, takut dengan keheningan yang mungkin harus dilalui, takut dia malah pura-pura tidak melihatku, loh??

Ini sungguh terasa aneh. Sejak kapan aku merasa bingung harus bagaimana hanya karena akan berpapasan dengan seseorang? Terlebih dia bukan musuh, mantan, atau seseorang yang aku punya masalah dengannya. Rasanya seperti akan tiba-tiba ditakdirkan berpapasan dengan seseorang yang pada hari sebelumnya aku bertengkar hebat dengannya. Rasanya seperti akan tiba-tiba berpapasan dengan seseorang yang selama ini aku tidak akur dengannya. Sungguh untuk sekian detik itu aku merasa bingung harus bagaimana. Sempat terbersit pikiran untuk melarikan diri. Haruskah aku balik kanan saja? Pura-pura ada yang tertinggal? Tapi itu akan terlihat mencolok kalau aku tetiba balik kanan. Ah, aku berharap ada pertolongan datang, aku berharap seseorang yang lain tiba-tiba muncul di jalanan ini. Aku berharap bisa menghilang atau menemukan alasan untuk menghindari momen ini. Tapi ah, ini tak bisa dihindari, detik-detik itu pun tiba, tak ada pertolongan, tak ada orang lain yang lewat, bahkan tak ada lubang yang bisa aku masuki tiba-tiba untuk menghilang. Sesaat aku tak bisa berpikir harus bagaimana aku menyapa, kata-kata apa yang harus kulontarkan, tenggorokanku tercekat. Sumpah kakiku terasa berubah jadi gundukan daging tanpa tulang, kakiku terasa rontok. Hingga akhirnya pada detik itu, detik dimana aku bahkan tidak sanggup melihat wajahnya, apalagi kalau harus melihat ke arah matanya, detik dimana aku bingung harus melihat ke arah mana, detik dimana kakiku terasa begitu lemas, kulihat sekilas sepertinya dia akan melewatkanku begitu saja, seolah dia tidak melihatku, atau akan tak acuh lewat begitu saja, lidahku yang mendadak terasa kelu pun akhirnya mampu menyapanya dengan satu kalimat sekadar untuk memecah kecanggungan, pertanyaan yang sebenarnya aku sudah tahu jawabannya, yang entah terdengar ataukah tidak, rasanya begitu pelan hingga kukira gaungnya hanya terdengar oleh telingaku sendiri. Tapi kemudian kudengar dia menjawab pelan dengan satu kata yang membuatku menarik nafas lega pada detik berikutnya.

Ah akhirnya kecanggungan dan keheningan itu usai sudah. Aku melanjutkan perjalanan dengan kaki lemas. Loh kenapa sih mesti kayak gini? Mesti ngerasa tulang kaki tetiba rontok seperti dulu saat SMA berpapasan dengan ketua OSIS yang favorit cewek satu sekolahan dan disenyumi olehnya, lunglai, seperti mau pingsan.

Dan ketika tiba di ujung jalan, kujitak kepalaku sendiri. Bodoh, kenapa juga mesti lemas dan kebingungan seperti itu? Sejak kapan aku menjadi sepengecut ini?