Diposkan pada BPN30dayChallenge2018, Opini

How about social media? Dunia di mana mencibir dan menghujat orang lain menjadi budaya

Social media atau dalam bahasa Indonesia sering kita sebut media sosial alias medsos, dibangun dengan dua kata yaitu sosial dan media. Selama ini kita sering mendengar kalimat bahwa manusia adalah makhluk sosial. Apa sih sosial itu artinya? Kata sosial mulanya berasal dari bahasa latin β€œsocius” yang mempunyai arti segala sesuatu yang lahir, tumbuh, serta berkembang dalam kehidupan bersama. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dikatakan bahwa sosial artinya berkenaan dengan kehidupan masyarakat. Itulah kenapa dikatakan manusia adalah makhluk sosial karena tidak bisa hidup sendirian, harus hidup bermasyarakat. Lalu media, apa artinya media? Kembali dalam KBBI dikatakan bahwa media berarti alat. Berarti kalau digabung, media sosial berarti alat untuk bermasyarakat, alat untuk bergaul dengan orang lain dalam kehidupan masyarakat.

Seperti kita tahu bahwa sekarang ini yang namanya medsos itu sudah sangat menyebar dan banyak sekali jenisnya bak jamur di musim hujan. Medsos benar-benar memasyarakat. Dari balita sampai lansia hampir semua mengenal medsos.

Lihat saja, sekarang keponakan saya yang masih PAUD sudah keranjingan menonton youtube. Dia bisa betah di rumah seharian hanya dengan menonton orang lain bermain boneka atau bermain rumah-rumahan di youtube daripada memainkan sendiri boneka atau rumah-rumahan dengan temannya. Kadang-kadang, walaupun banyak teman bermain di rumahnya atau dia yang bermain di rumah temannya, mereka berkumpul menonton youtube. Tidak heran kalau sekarang banyak orang menjadi kaya dengan penghasilan dari youtube walaupun mungkin konten yang diunggahnya hanya seperti itu atau bahkan unfaedah. Dari sini saya ingin menghimbau para youtuber dan para vlogger agar membuat konten yang sarat faedah karena tayangan-tayangan itu bahkan ditonton anak kecil.

Saya sendiri menonton youtube hanya untuk menonton video klip lagu-lagu atau melihat video-video ilmu pengetahuan atau berita yang terkait dengan pelajaran untuk dijadikan media pembelajaran. Jadi, terima kasih para youtuber yang sudah membuat konten-konten bagus yang bahkan bisa dijadikan bahan pelajaran.

Medsos pertama yang saya kenal dulu adalah friendster. Jadul banget ya. Dulu saya sangat bangga dan takjub banget dengan friendster ini. Bangga karena belum banyak orang yang mengenal medsos dan saya adalah salahsatu yang sudah mengenalnya. Bangga karena waktu itu teman-teman saya banyak yang tidak tahu apa itu FS dan hanya segelintir yang sering ke warnet yang tahu (dulu kalau mau internetan harus ke warnet) dan dengan perasaan bangga saya menjelaskan FS ini kepada teman-teman πŸ˜‚. Kenapa takjub? Ya saya takjub sekali ketika menggunakan FS ini karena di sana saya bisa menemukan dan berhubungan kembali dengan teman-teman lama saya yang sudah lost contact. Benar-benar takjub saya waktu itu. πŸ˜‚

Selang beberapa lama setelah FS, tetiba muncullah facebook yang lebih mudah digunakan dan ternyata lebih menjamur. Berbondong-bondong orang menggunakan FB termasuk saya. FB kemudian menjadi medsos yang paling merakyat (menurut saya) karena penggunanya dari semua kalangan.

Saya sendiri sempat ilfil kepada FB dan ingin menutup akun karena terlalu banyak anak-anak alay pengguna FB atau bahkan orang-orang tua juga yang suka bikin status alay dan aneh (mungkin saya juga pernah alay seperti itu tapi tidak parah 😬), orang-orang yang suka bikin status berisi keluhan, kemarahan, atau umpatan sungguh membuat saya merasa muak dengan FB. Akhirnya, solusinya saya meng-unfriend orang-orang yang suka bikin status yang membuat saya merasa muak.

Lalu, ada medsos yang sangat saya sukai yaitu instagram. Barangkali karena saya bisa melihat foto orang lain di tempat yang bagus dan saya juga bisa memilih untuk hanya mengikuti yang konten-kontennya tidak memuakkan.

Blog? Ini yang paling saya sukai karena banyak sekali ilmu pengetahuan yang didapat di sini.

Kembali ke perihal media sosial, tentu saja saya tidak memungkiri ada positif dan negatifnya. Positifnya, setiap orang bisa kembali menyambung silaturahmi dengan teman atau bahkan saudara yang sudah jauh dengan mudah dan murah. Dalam medsos juga orang bisa berkarya baik itu dalam bentuk video, foto, ataupun kalimat-kalimat (dalam bentuk tulisan). Namun di sisi lain, negatifnya, banyak orang yang kemudian menjadi terlalu berani mengungkapkan umpatan kemarahan terhadap orang lain, mungkin karena tidak berhadapan secara langsung sehingga keberaniannya meningkat, terlalu berani untuk mengomentari bahkan mengurusi hidup orang lain, mem-bully orang lain, memojokkan, atau mengumbar aib diri sendiri dan orang lain. Ini yang membuat saya teramat muak.

Dengan media sosial orang yang dalam kehidupan sehari-hari kesulitan berbicara mengungkapkan pendapat bisa begitu lancar di medsos. Dengan media sosial, orang yang dalam dunia nyata tidak berani menghujat dan memarahi orang lain, bisa menjadi teramat berani dan bahkan mampu mengeluarkan hujatan berlebihan. Apalagi dengan adanya akun-akun gosip artis yang kerjaannya mengikuti kehidupan pribadi artis dengan segenap komentar dan hujatan para netizen seolah menjadikan hal bergosip dan menghujat orang lain sebagai hal biasa dan bahkan membudaya. Seolah mengumbar aib dan keburukan orang lain adalah daya tarik tersendiri dan para netizen itu beramai-ramai memberi komentar, menghujat, ikut marah, seolah semua itu memang urusan mereka. Ah, sudahlah. Sekali lagi sosial media itu baik jika digunakan dengan baik, untuk hal-hal yang bermanfaat, jangan sampai menggunakannya untuk hal-hal yang unfaedah dan membuang-buang waktu seperti mengurusi dan menghujat hidup orang lain sebab hidup kita juga belum tentu benar. Terakhir, jangan sampai kita memasyarakatkan, membudayakan hal-hal seperti mengumbar kemarahan, mengumbar aib, dan menghujat orang lain dengan adanya media sosial ini.

Iklan
Diposkan pada BPN30dayChallenge2018

Mengapa Dandelion Hijau?

Sebagaimana teman-teman tahu, dandelion adalah nama bunga. Yups, dan bunga itu melambangkan perempuan, dan aku adalah perempuan. Jadi, sengaja kuambil nama bunga untuk menegaskan bahwa meski aku luput dari beberapa sifat keperempuanan alias kurang girly, aku masih perempuan.

Lalu dandelion. Itu adalah nama yang unik menurutku. Bahkan jika punya anak nanti, ingin sekali memberinya nama dandelion. Mungkin Dandelion Putri, Dandelion Permatasari, atau Dandelion Purwanti, πŸ€—. Seperti namanya yang unik, dandelion juga adalah bunga yang unik. Dandelion tampil sederhana, kecil, tetapi penuh dengan petuah hidup bagi manusia. Dengan segenap kesederhanaannya, dandelion mampu tetap terlihat cemerlang di antara rumpun-rumpun ilalang. Pernah lihat kan bunga dandelion? Itu loh bunga kecil yang suka meluruhkan serbuk-serbuknya sehingga membentuk seperti kapas-kapas ketika diterbangkan angin.

Setidaknya ada empat hal yang bisa kita teladani dari dandelion:

1. Kesederhanaan, seperti yang sudah diulas sebelumnya, dandelion selalu tampil sederhana, jauh dari kata neko-neko. Kesederhanaan dandelion inilah yang ingin kuteladani sebab meski kecil dan sederhana, dandelion memiliki banyak manfaat.

2. Mudah beradaftasi. Yups, dandelion akan meluruhkan serpihan-serpihan bunganya dan serpihan-serpihan tersebut akan pergi ke mana saja diterbangkan oleh angin. Di mana pun serpihan itu akhirnya jatuh, ia akan beradaftasi dengan lingkungannya dan membentuk kehidupan baru.

3. Pemberani. Dandelion adalah bunga yang kecil tetapi memiliki sifat pemberani. Ketika serpihan-serpihan itu luruh dan diterbangkan angin, ia akan terbang sendirian. Mampu terbang jauh sendirian dan kemudian memulai hidup yang baru di tempat yang baru adalah hal yang patut kita teladani dari dandelion.

4. Kuat dan sabar

Bunga dandelion adalah bunga kecil dan tampak rapuh, tetapi sebenarnya ia kuat. Dandelion kuat bertahan selama terombang-ambing oleh angin hingga jatuh di tempat baru. Ketika jatuh, ia tidak hancur, ia akan tetap hidup bahkan membentuk kehidupan baru. Dandelion kuat dan sabar menjalani segala rencana Tuhan termasuk bahwa serpihan-serpihannya harus lepas dari tangkainya dan harus terombang-ambing oleh angin.

Nah, itulah beberapa sifat dandelion yang ingin sekali kutiru dalam kehidupan. Kuat, pemberani, mudah beradaftasi, dan selalu hidup sederhana.

Mengapa hijau? Sebab saya adalah pecinta warna hijau. Saya menyukai semua hal berwarna hijau kecuali t** kebo, πŸ˜…

Diposkan pada BPN30dayChallenge2018

Tema Blog-ku

Bicara soal tema blog yang disukai, aku sih sukanya nulis hal-hal yang terjadi pada diri, semacam diary, semacam curcol, ngomongin perasaan, ngomongin kegundahan, baik itu dalam bentuk cerita pendek, sajak, maupun monolog.

Sebenarnya tak semua hal yang terjadi mampu kutuliskan menjadi rangkaian kalimat, menjadi kisah. Meskipun ada beberapa di antaranya yang lebih dari layak untuk menjadi kisah novel, sampai hari ini aku masih belum berani menuliskannya. Masih ada getar-getar ketakutan akan penerimaan orang lain. Takut kisah yang kuceritakan tak berterima, tak layak dipublikasikan menurut anggapan orang. Maka kisah-kisah itu masih terus saja menggantung di jidat.

Selain bermonolog dan menulis cerpen, aku juga paling suka menulis catatan perjalanan. Karena tempat liburan favoritku adalah gunung, maka catatan-catatan perjalanan yang kutulis juga selalu tentang pendakian gunung. Meskipun aku juga suka berlibur ke pantai, sejauh ini belum pernah menulis catatan perjalanan tentang liburan di pantai. Entah. Padahal ada sih cerita perjalanan waktu ke Pantai Gunung Kidul Yogyakarta yang ingin kutuliskan. Next time lah akan kutulis. Catatan pendakian juga ada yang belum sempat kutulis. Catatan perjalanan Rinjani, catatan perjalanan Mebabu, Merapi, Sumbing, Andong, dan bahkan Papandayan yang terakhir pun belum sempat kutulis. Ini pun next akan kutulis.
Sejauh ini sih cuma itu tema blog yang biasa kutulis. Aku belum pernah nulis tentang tips, opini, artikel, ataupun esai. Mau sih belajar menulis nonfiksi semacam itu. Ya itu dia, aku masih harus banyak belajar lagi.
Beberapa blog yang ingin kutulis nanti di antaranya adalah aku ingin punya situs yang khusus berbicara soal pendidikan. Di sini khusus akan kutulisi seputar materi pelajaran. Kebetulan pekerjaanku adalah guru. Jadi next akan kutulis diktat dan modul pembelajaran di dalam blog khusus itu. Dengan begitu siswa-siswiku nantinya yang kurang berminat membaca buku barangkali akan lebih berminat kalau membaca materi pelajaran itu di dalam blog.
Kuncinya memang harus memanfaatkan waktu yang benar-benar saling kejar dengan banyaknya pekerjaan, juga bersaing ketat dengan drama korea yang rilis terus dan menyita perhatian dan waktu. Teman-teman pecinta drakor juga pasti tahu kan kalau drama korea itu benar-benar merusak stabilitas nasional. Maksudnya saking menyita waktu karena susah berhenti kalau udah nonton drakor, selalu ingin terus lanjut episode berikutnya. Maka waktu untuk nulis blog pun banyak tersita. Itulah kenapa banyak sekali hal-hal yang ingin kutulis masih terus saja menjadi rencana. Masih ngomong next dan next. Yah, semoga cepat terealisasi.

Diposkan pada BPN30dayChallenge2018, catatan harian

Kenapa menulis blog?

Jika ada yang bertanya kenapa saya menulis blog, barangkali saya sendiri akan bertanya, kenapa ya kira-kira? Lalu dari situ saya mulai berpikir, merenung dengan saksama, dan jawaban yang didapat setelah merenung tujuh hari tujuh malam itu ternyata sepertinya alasan yang sama dengan orang lain sesama blogger, sebuah alasan klise alias klasik, yang sama sekali tidak akan membuat pembaca tercengang.

Alasan utama sih karena saya memang memiliki mimpi besar ingin menjadi seorang penulis yang tulisan-tulisannya dibaca dan menginspirasi jutaan orang di seluruh dunia. Mimpi yang sangat besar bukan?Jauh lebih besar daripada badan saya. *ehh πŸ™‚ Tapi ya beginilah kenyataannya, selalu tak seindah mimpi, menjadi penulis masihlah hanya menjadi angan-angan. Masih miskin ide, jangankan menginspirasi orang lain, saya sendiri masih fakir inspirasi. Nah, oleh sebab mimpi menjadi penulis inilah, dalam rangka mewujudkan cita-cita tinggi ini, maka saya perlu banyak belajar, perlu banyak berlatih, agar dapat mengembangkan ide, agar dapat membangun frasa-frasa menjadi kalimat, mencipta berbagai metafora, mempersonifikasi kata, melebur morfem-morfem menjadi rangkaian sajak penuh makna, dan blog inilah tempat belajar saya, blog inilah ruang kelas saya di mana saya dapat belajar dengan membaca banyak tulisan para suhu yaitu blogger-blogger lain, di blog inilah saya dapat berlatih menulis segala hal dan mempublikasikannya tanpa perlu takut ditertawakan.

Alasan kedua barangkali karena hobi. Kalau boleh bercerita sedikit, sebenarnya sejak dulu hobi saya adalah membaca. Sewaktu SMP, bahkan oleh para guru saya dikenal sebagai kutu buku. Saya suka membaca berbagai buku, terutama sastra. Nah, dari hobi membaca inilah tetiba tanpa disadari tumbuh keinginan untuk bisa melahirkan buku-buku, melahirkan novel. Dari keinginan untuk melahirkan buku inilah, selanjutnya tumbuh berkembang rasa suka menulis, dari mulai mencurahkan segenap ke-gegana-an dalam monolog-monolog hingga sajak-sajak, dari mulai zaman menulis di buku diary, di buku catatan kuliah, hingga akhirnya menemukan tempat curhat baru yang nyaman bernama blog ini.  Saya ingat, dulu saya punya sahabat yang cukup memiliki peran dalam hal membangkitkan keinginan tulis-menulis ini. Dia sahabat sekelas zaman kuliah di Yogyakarta. Berhubung saya adalah orang yang tidak bisa curhat kepada orang lain, tidak percaya bahwa orang lain akan menjaga kerahasiaan cerita saya, maka suatu kali ketika saya ulang tahun, dia memberi saya sebuah hadiah sederhana berupa buku diary. Sebuah buku diary berwarna kuning dengan gambar boneka panda dengan secarik kertas bergambar bunga-bunga dengan selarik tulisan ucapan selamat ulang tahun disertai pesan : “Teh, kalau kamu sulit bercerita kepada orang lain tentang masalah pribadimu, sulit mempercayakan cerita kepada orang lain, berceritalah kepada buku ini, jangan dipendam sendiri, setidaknya buku ini tidak akan pernah mengkhianatimu.” Dari situlah saya mulai menulisi buku diary, mulai mengatakan hal-hal melalui tulisan. Lalu, ketika blog mulai membumi, saya pun mulai memindahkan rumah aksara saya ke dalam blog.

Kalian tahu kan kalau ruang kelas itu tak mesti memiliki empat dinding? Nah bagi saya, blog ini adalah ruang kelas, bahkan bukan hanya sekadar ruang kelas biasa, melainkan juga ruang tempat meluruhkan segenap isi hati, tempat menitipkan cita-cita tinggi, tempat menyimpan segenap kepercayaan diri.

Diposkan pada catatan harian, Cerita Pendek, Uncategorized

Seperti awan di langit, kau adalah angan terjauhku

Kau lihat awan-awan itu berarak? Aku senang sekali memandanginya sembari merebahkan tubuh di atas rerumput, atau sekedar telentang di atas air saat berenang. Rasanya membahagiakan. Rasanya mendamaikan.

Namun sayang sekali, selain menjadi kombinasi yang indah dengan birunya langit, ada satu fakta yang membuatku terhenyak: awan itu sangatlah jauh. Jauh sekali bahkan saat aku sudah sampai di puncak gunung tinggi sekalipun, berharap bisa menggapai awan, awan itu ternyata masih saja jauh.

Barangkali benar, bahwa yang indah kadang tercipta hanya untuk dipandangi dari kejauhan. Seperti awan-awan yang mengharmoni langit itu.

Barangkali benar, aku seharusnya menyerah saja menggapai awan. Tak apa dikatai pengecut. Tak apa disebut pecundang. Sudah. Sudahi saja. Tak usah lagi berlelah-lelah pergi mendaki gunung dengan harapan bisa dekat dengan awan. Nyatanya awan itu tetap saja jauh dan tak akan bisa kusentuh. Bahkan saat kucoba taktik lain, naik pesawat, yang katanya bisa sampai kepada awan, nyatanya, awan itu tetap saja jauh dari tanganku. Jauh, sangat jauh.

Ya, mungkin ini sudah waktunya untuk berhenti bermimpi di siang bolong. Sudah waktunya mengangkat bendera putih kepada awan-awan itu.

Diposkan pada Uncategorized

Mengapa dadaku berdebar hebat hari ini?

Ini perasaan yang sama, sama seperti waktu dulu sebelum naik panggung untuk lomba pidato, hati berdebar dan perut mulas tak karuan. Meski akhirnya tetap jadi juara.

Semenjak kemarin debar ini tak juga sirna. Semalam pun sulit tidur karena ada sesuatu yang entah apa membuat sesak. Apalagi hari ini, debar ini semakin hebat. Mungkin karena hari ini akan bermain pada final bola voli, bidang yang sebenarnya semenjak sekolah tak pernah kugeluti, bidang yang cukup asing bagiku dan aku baru belajar.

Semasa sekolah dulu aku bukan penggemar pelajaran olahraga meskipun sebenarnya aku adalah murid kesayangan guru olahraga killer yang juga adalah wali kelas saat itu. Mengapa jadi murid kesayangan padahal tidak jago olahraga? Itu karena aku membuatnya bangga dalam bidang akademik. Malah katanya aku dimasukkan di kelasnya dengan permintaan khusus darinya bersama dengan beberapa teman yang merupakan timnas voli sekolah, sehingga beliau bisa menciptakan kelas yang juara dalam bidang olahraga juga juara dalam bidang akademik.

Meskipun tidak jago olahraga dan lebih sering menonton di pinggir lapang saat pelajaran olahraga, nilai pelajaran olahragaku tidak pernah buruk. Bapak guru olahraga killer wali kelasku itu selalu memberikan nilai bagus untukku. Barangkali karena aku adalah murid kesayangan. πŸ˜‚ Tapi sebenarnya bukan karena itu aku bersantai di pinggir lapang sementara yang lain bermain voli, bukan karena aku merasa punya jaminan pasti diberi nilai bagus, bukan pula karena aku tidak berminat untuk belajar bermain voli (sebab sebenarnya aku adalah orang yang sangat suka belajar), tapi lebih karena lapangnya selalu dikuasai oleh teman-temanku yang atlet timnas voli itu sehingga tidak memberikan ruang dan waktu bagiku untuk belajar.

Olahraga yang sewaktu sekolah aku cukup percaya diri melakukannya adalah lari. Aku bisa berlari dengan cukup cepat makanya semasa SMA pernah jadi juara lari marathon. Aku juga sangat menyukai olahraga beladiri makanya pernah mengikuti karate, wushu, dan juga taekwondo semasa SMA dan kuliah, meski ya, tidak mahir ketiganya.

Ketika menjadi guru, aku baru menyadari bahwa seharusnya dulu aku mempelajari segala hal sehingga banyak hal yang bisa kulakukan. Penyesalan memang selalu datang di akhir. Menyesal sekali dulu tidak pernah belajar bermain voli padahal seharusnya aku memanfaatkan dengan baik kesempatan sebagai murid kesayangan guru olahraga. Andai saja dulu belajar, barangkali hari ini, menjelang final pertandingan voli PGRI ini, debarnya tidak akan sehebat ini.

Sekarang yang harus kuatasi adalah menguasai hati sendiri. Menentramkan debar ini. Kata guru ngajiku dulu, ingatlah selalu kepada Alloh, sebab hanya dengan mengingat Alloh hati menjadi tentram. Semoga aku bisa.

Diposkan pada catatan harian, Cerita Pendek, Uncategorized

Cerita pendek tentang hari ini

Hari ini Jumat, 12 Oktober 2018, empat hari menuju masa sulit menghadapi kenyataan menjadi semakin tua, aku malah mendapati kenyataan yang lumayan aneh, aneh tetapi nyata.

Dari kejauhan, aku melihatnya berjalan. Kulihat dia juga melihatku. Tiba-tiba aku merasa belingsatan, bingung, karena aku sedang menuju ke arahnya, bingung aku harus bagaimana kalau berpapasan nanti, canggung, takut dengan keheningan yang mungkin harus dilalui, takut dia malah pura-pura tidak melihatku, loh??

Ini sungguh terasa aneh. Sejak kapan aku merasa bingung harus bagaimana hanya karena akan berpapasan dengan seseorang? Terlebih dia bukan musuh, mantan, atau seseorang yang aku punya masalah dengannya. Rasanya seperti akan tiba-tiba ditakdirkan berpapasan dengan seseorang yang pada hari sebelumnya aku bertengkar hebat dengannya. Rasanya seperti akan tiba-tiba berpapasan dengan seseorang yang selama ini aku tidak akur dengannya. Sungguh untuk sekian detik itu aku merasa bingung harus bagaimana. Sempat terbersit pikiran untuk melarikan diri. Haruskah aku balik kanan saja? Pura-pura ada yang tertinggal? Tapi itu akan terlihat mencolok kalau aku tetiba balik kanan. Ah, aku berharap ada pertolongan datang, aku berharap seseorang yang lain tiba-tiba muncul di jalanan ini. Aku berharap bisa menghilang atau menemukan alasan untuk menghindari momen ini. Tapi ah, ini tak bisa dihindari, detik-detik itu pun tiba, tak ada pertolongan, tak ada orang lain yang lewat, bahkan tak ada lubang yang bisa aku masuki tiba-tiba untuk menghilang. Sesaat aku tak bisa berpikir harus bagaimana aku menyapa, kata-kata apa yang harus kulontarkan, tenggorokanku tercekat. Sumpah kakiku terasa berubah jadi gundukan daging tanpa tulang, kakiku terasa rontok. Hingga akhirnya pada detik itu, detik dimana aku bahkan tidak sanggup melihat wajahnya, apalagi kalau harus melihat ke arah matanya, detik dimana aku bingung harus melihat ke arah mana, detik dimana kakiku terasa begitu lemas, kulihat sekilas sepertinya dia akan melewatkanku begitu saja, seolah dia tidak melihatku, atau akan tak acuh lewat begitu saja, lidahku yang mendadak terasa kelu pun akhirnya mampu menyapanya dengan satu kalimat sekadar untuk memecah kecanggungan, pertanyaan yang sebenarnya aku sudah tahu jawabannya, yang entah terdengar ataukah tidak, rasanya begitu pelan hingga kukira gaungnya hanya terdengar oleh telingaku sendiri. Tapi kemudian kudengar dia menjawab pelan dengan satu kata yang membuatku menarik nafas lega pada detik berikutnya.

Ah akhirnya kecanggungan dan keheningan itu usai sudah. Aku melanjutkan perjalanan dengan kaki lemas. Loh kenapa sih mesti kayak gini? Mesti ngerasa tulang kaki tetiba rontok seperti dulu saat SMA berpapasan dengan ketua OSIS yang favorit cewek satu sekolahan dan disenyumi olehnya, lunglai, seperti mau pingsan.

Dan ketika tiba di ujung jalan, kujitak kepalaku sendiri. Bodoh, kenapa juga mesti lemas dan kebingungan seperti itu? Sejak kapan aku menjadi sepengecut ini?